
Rasa nyaman itu hadir saat hati merasa tenang dan damai, juga pikiran yang tidak terlalu banyak memikirkan beban. Layaknya cinta yang bisa saja di lupa saat hati berusaha ikhlas untuk segala yang terjadi.
Ah, lagi-lagi bicara masalah cinta. Apa sebenarnya cinta itu? Dua hati yang saling memiliki debar aneh kah, atau dua hati yang harus menyatu? Entahlah, yang jelas kini, dalam hati perempuan cantik yang perutnya sudah buncit sekali lantaran kini kandungannya sudah tujuh bulan itu tidak lagi memikirkan pasal cinta, dan rasa tak tenang dalam dadanya.
Karena pada kenyataannya, dia merasa tenang saat bayi di dalam perutnya bergerak dengan aktif. Itulah menurutnya rasa tenang yang sesungguhnya, rasa nyaman yang nyata, dan rasa cinta yang sebenarnya. Cinta yang besar dari seorang ibu untuk anaknya.
Di sana, di sebuah pinggiran kota, dia tinggal. Bersama dengan mbak kesayangannya, hidup di rumah mewah berlantai dua. Suasananya cukup menyenangkan, tak terlalu dekat dengan keramaian, namun tak juga jauh dari area perkotaan. Ditambah dekat dengan sekolahan.
Itu semakin membuat perempuan bernama Yasmine itu bahagia setiap harinya. Ya, dialah Yasmine yang sudah jauh dari orang-orang tersayangnya. Bukan tak perduli, tapi ... percayalah kadang kita perlu menjauh agar tak merasa bimbang akan perasaan. Kadang kita perlu menyendiri untuk menenangkan hati.
Walaupun ternyata, itu di lakukan Yasmine untuk selamanya. Semua surat sudah selesai, kini dia resmi tinggal di sana dengan status janda hamil.
Bibir mungil wanita cantik itu tersenyum, sore ini ia tengah duduk di balkon yang di mana dari sana, ia bisa melihat anak-anak bermain di lapangan yang terlihat lumayan jauh.
Ia tersenyum lantaran mengingat pesan dari sang sahabat tiga bulan lalu.
[Yas, Mas Alfin sakit,] begitu pesan yang dia baca sebelum semuanya hilang. Karena setelah itu, dia ganti semuanya. Dari ponsel, nomor handphone, sampai akun sosial media. Dan sampai hari ini, hanya ada kedua orangtua dan kakaknya saja yang sering menghubungi dirinya.
Kini ia seolah hidup dengan nama baru, bersamaan dengan status baru yang ia dapat. Yang ada dalam pikirannya hanya satu, kesehatan anak yang ada di dalam rahimnya.
Kendati sudah lama dia di sana, namun ibu dan ayah sudah tak lagi risau ataupun khawatir. Karena, kadang saat ibu dan ayah memiliki waktu senggang, keduanya akan datang.
Sore seperti ini memang paling senang bagi wanita hamil itu untuk melihat anak-anak bermain. Maklum saja, dia paling suka dengan anak kecil, untuk itulah pekerjaan yang paling ia suka adalah menjadi seorang guru.
"Yas," panggil seseorang dari depan pagar rumahnya, di bawah sana.
Yasmine yang mendengar lantas beranjak dari duduknya dan melongok ke bawah sana dari pagar pembatas balkon. "Ya," jawabnya.
"Assalamu'alaikum," ucap seseorang itu lagi.
Yasmine tersenyum, dia adalah Ustadzah Ami. Teman barunya di sana. "Wa'alaikumsallam, sini masuk." katanya sembari melambaikan tangan.
"Mau jalan-jalan sore nggak? Ke lapangan, lihat anak-anak main," ajak ustazah Ami.
Kendati dia seorang ustadzah yang biasa mengajar ngaji anak-anak juga ibu, dan kadang juga mengisi pengajian di berbagai tempat. Namun ia memiliki karakter seperti Yasmine, yang menyukai anal kecil dan manja.
"Sebentar ya, aku turun. Kamu masuk." Kata Yasmine lagi sembari memutar tumit dan turun ke lantai satu untuk menemui sang teman baru.
Lantas setelahnya, ia pergi menuju sang teman berada. Di bukannya pagar setengah badan itu oleh ustazah Ami dan keluarlah Yasmine dengan bibir tersenyum lebar sembari mengucap terimakasih.
"Sudah selesai kamu ngajarnya?" tanya Yasmine pada ustazah Ami.
"Alhamdulillah, tadi di bantu sama ustad Rizal," jawab Ami sembari tersenyum lebar. "Kebetulan aku juga mau ngajar di samping lapangan itu, tenang aja. Seperti yang aku bilang kemarin, lapangannya aman, bola yang di tendang anak-anak tidak akan keluar dari lapangan, apalagi sampai ke jalan," begitu sambung Ami. Perempuan manis yang masih betah menyendiri, walaupun tentu saja banyak yang mengantre untuk menjadikannya istri.
"Cie, mau nih, sama pak ustadz," goda Yasmine.
"Enggak, ayo jalan. Nggak boleh ngeledek orang." kata Ami sembari melangkahkan kakinya. "Eh, tapi nggak apa 'kan di bawa jalan kaki?" tanyanya lagi khawatir.
"Santai, in syaa allaah, aman," jawab Yasmine yang lantas memberi senyum yang lebar.
Dua wanita berjilbab itu lantas berjalan di jalanan sekitaran komplek. Dari jalanan yang sepi lantaran hanya penghuni perumahan saja yang lewat, lantas tembus ke sebuah yang bisa di sebut perkampungan.
Dari sana mereka melewati jalan yang lumayan ramai karena banyak ibu-ibu yang ngobrol di depan rumah. Ustazah Ami yang sudah terkenal di sana tentu saja akan berhenti dan menyapa sebentar. Sembari sedikit mengenalkan keberadaan Yasmine.
Lanjut mereka pun melangkahkan kakinya kembali hingga sampai di sebuah tempat seperti aula di depan sebuah musala. Di sana sudah banyak anak-anak yang tengah mengaji, yang tengah di ajari oleh dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan.
Yasmine lantas di ajak masuk ke aula tersebut, ia di kenalkan kepada anak-anak yang ada dan di kenalkan dengan dua orang dewasa yang bernama Gina dan Arya.
Wanita hamil yang menyukai anak kecil itu lantas meminta izin untuk ikut mengajar, tentu saja Gina, Arya dan ustazah Ami sangat membolehkan.
Bahkan, anak-anak yang biasanya kabur karena ingin main, sore itu jadi sangat antusias belajar dengan Yasmine. Pun sama dengan yang ada di lapangan yang tak jauh dari mushala, begitu tahu Yasmine ikut mengajar di sana, mereka lantas berlari pulang untuk mandi dan mengaji.
Mungkin anak-anak suka karena Yasmine yang pandai membuat suasana menjadi ceria. Wanita hamil itu mengajari anak-anak sembari mengajak mereka sedikit bermain agar semangat.
Dan itu semua membuat tiga orang lainnya tersenyum dan sangat suka dengan keberadaan Yasmine. Ustazah Ami lantas mendekat dan membantu.
Sedangkan Gina dan Arya lantas mengajar anak-anak yang sudah besar.
Hingga sampai magrib dia mushala, dan selepas itu masih lanjut mengajar. Yasmine benar-benar bahagia sore itu. Ia tak terlihat lelah sama sekali padahal, tiga orang lainnya dan para jamaah shalat magrib sudah mengatakan untuk istirahat, namun semangat membara seorang guru itu tetap saja ada.
Maklum, sudah lumayan lama dia tidak mengajar. Jadi, ia benar-benar menikmati hari itu. Mengajar anak-anak yang sama-sama tengah semangat belajar.