
Benar saja, Taqi akhirnya pergi dengan Arya. Sementara Yasmine, dia tetap tinggal di rumah. Saat ini, wanita itu tengah berganti pakaian, mengganti gamis perginya dengan pakaian untuk sehari-hari di rumah.
Apa dia marah saat sang anak pertama gak mau pergi ke rumah ayah kandungnya? Jawabnya adalah, tidak. Baik Yasmine maupun Arya, keduanya tidak ada yang marah. Namun, semalam suami-isteri itu memang sudah bicara berdua dan jika anak pertama mereka lagi-lagi tak mau ikut, Yasmine akan tetap tinggal di rumah.
Tok ... Tok ... Tok!
Yasmine yang baru saja memakai jilbab itu menoleh ke arah pintu kamar yang diketuk dari luar. Ia tahu pasti, kalau yang mengetuk pintu adalah putra pertamanya. Bibir wanita itu tersenyum, "Masuk saja Qa," ujarnya bersuara.
Benar saja, Taqa muncul dari balik pintu yang baru saja ia buka. Senyum manis langsung dia dapatkan dari bibir manis sang ibu. "Kenapa, Kak?" tanya Yasmine padanya.
"Ibu nggak, marah?" tanya pemuda tampan yang kini sudah masuk ke dalam kamar sang ibu.
"Kenapa harus marah?" tanya balik Yasmine yang kini berdiri di balik jendela yang terbuka lebar. "Sini deh, Qa," sambung wanita dua anak itu. Menyuruh sang putra agar turut berdiri di sebelahnya.
Taqa menurut, lelaki muda nan tampan itu berjalan pelan dan berdiri disebelah sang ibu. Ikut memandangi arah bawah sana, di mana di bawah kini sudah terdapat taman bunga anggrek. Bunga kesukaan Taqisha, si putri bungsu di keluarga Arya dan Yasmine.
"Dulu ... Ibu suka sekali melihat taman dari balik jendela, di rumah ayah kamu," ujar Yasmine tanpa menjawab pertanyaan awal sang putra. "Kalau mengingat masa-masa dulu, rasanya ibu merasakan kembali apa yang dulu ibu rasakan. Tapi ... Sekarang ibu bisa melupakan segala yang ibu rasakan dulu, dan semua itu berkat ayah Arya," sambung wanita dua anak itu.
"Kamu tahu, Taqa. Mengikhlaskan segala amarah memang susah, tapi jika tidak kita coba, kita tidak akan bisa," kata Yasmine lagi. Wanita itu menoleh melihat wajah anaknya dari samping. Wajah tampan yang mirip dengan dirinya, namun sekilas mirip ayah kandungnya. Tak bisa di bohongi, perpaduan Yasmine dan Alfin membuat Taqa benar-benar tampan.
"Aku nggak marah loh, Bu," ujar Taqa.
"Memangnya ibu bilang kalau kamu, marah?" tanya Yasmine.
Taqa tersenyum lebar. "Ibu jelas masih mengira kalau aku masih marah sama ayah, 'kan?" tanyanya. "Aku nggak marah Bu, tapi aku masih belum siap untuk ada di antara mereka, walaupun hanya sebentar saja," sambung anak muda itu menjelaskan.
"Rasanya--" Taqa menggantung kalimatnya.
"Ibu sama ayah nggak mau memaksa, Qa. Tapi, ibu sama Ayah hanya ingin kamu mencobanya. Berada di satu tempat dengan Alfin. Mau seperti apapun dia, dia tetap ayah kamu," ujar Yasmine. "Kamu tadi nanya 'kan, apa ibu marah?" sambung wanita itu. Sang anak mengangguk. "Ibu nggak bisa marah, Taqa. Karena yang tahu rasanya cuma kamu. Tapi ibu hanya berharap untuk kamu mencobanya."
Taqa diam, dia menatap wajah ibunya. Wanita itu terlihat serius. "Sangat tidak baik, jika hubungan antara anak dan ayah kandung begitu renggang." ujar Yasmine lagi pada sang putra. Tangan wanita itu menangkup dua sisi wajah Taqa.
"Maafin aku, Bu," hanya jawaban itu yang keluar dari mulut anak tampan itu. Bibirnya tersenyum namun matanya mengatakan lain. Yasmine bisa mengerti kalau anaknya itu masih merasa susah untuk menuruti apa yang dirinya katakan barusan.
...----------------...
Sementara itu, di sana. Di rumah berlantai dua yang baru saja selesai mengadakan syukuran ulang tahun anak kembar mereka, lagi-lagi seorang ayah terlihat sedih. Semua utu bisa di lihat dari matanya yang sendu, walaupun bibirnya tersenyum lebar.
Kenapa lagi kalau bukan karena anak sulungnya yang tidak pernah mau hadir dalam acara apapun, yang ada di rumah nya.
"Aku tahu apa yang kamu rasakan, Mas," kata Alifa yang kini duduk di sebelahnya. Sedari tadi, ia memperhatikan suaminya itu.
"Maaf ya, lif. Bukan berarti aku tidak bahagia saat ini, aku bahagia. Hanya saja--"
"Ma, kenapa Ibu Yasmine tidak ke sini?" Alifa dan Alfin menoleh ke arah suara itu, dan munculah Lisha dengan wajah bahagianya.
"Kata Taqi, Kak Taqa nggak mau ke sini, dari itulah kenapa Ibu Yasmine tidak ikut. Beneran, Ma, Pa?" sambung bocah itu lagi bertanya.
"Kenapa Kak Taqi nggak pernah mau ke acara aku dan Lisi, Ma?" tanya Lisha lagi.
"Kak Taqa sudah kelas besar, Lisha. Jadi banyak sekali tugasnya, dan kenapa ibu Yasmine nggak ikut, itu karena Kak Taqa mengerjakan tugas di rumah, jadi ibu Yasmine harus menemani anaknya, bukan." penjelasan ini keluar dari mulut Arya yang baru muncul di belakang Lisha. Lelaki itu yakin, kalau Alfin maupun Alifa jelas bingung menjelaskannya.
"Oh, seperti itu, ya?" ujar Lisha lagi memastikan.