
Esok hari nya Yudha pun ke pengadilan untuk mengajukan gugatan cerai nya. Hasil nya pun harus menunggu dan harus sidang dulu.
Sepulang kerja, Yudha langsung masuk ke kamar nya dan mandi.
Tok tok tok !
Mama Yudha mengetuk pintu kamar anak nya.
" Yud ?"
"Iya ma, bentar !"
" Makan dulu, mama tunggu di meja yaa ?"
" Iyaa"
Setelah Yudha selesai mandi dan berpakaian, Yudha pun ke luar menghampiri mama nya.
" Ada apa ma ?, Yudha belum laper, tadi udah makan di luar sama rekan kantor." jelas Yudha
" Duduk lah sini dulu" ucap mama Yudha.
Yudha pun menuruti perintah mama nya.
" Ini untuk kamu" ucap mama Yudha.
Yudha pun langsung membuka membuka dan membaca nya.
" Nanti mama minta tolong supir aja untuk mengantar kan ini sama Yuni ma" ucap Yudha.
" iya, mungkin kalian memang harus bercerai, Yuni itu lama - lama makin kelihatan kalau dia bukan istri yang baik. kapan hari dia pernah menghubungi mama, dan berkeluh kesah dengan ke adaan rumah tangga kalian. Mama hanya mencoba menasehati, tapi dia malah marah - marah sama mama. Kata nya mama tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan. Bahkan mengatai mama yang tidak - tidak. kata nya mama tidak mengajar kan mu dengan baik, dan mendukung perbuatan mu untuk menceraikan dia. Mama kaget, tidak menyangka Yuni akan se berani itu berkata kasar dan membentak mama. Jadi mama pikir untuk apa lagi kamu mempertahan kan se orang istri seperti itu." jelas mama Yudha dengan mimik wajah yang kecewa.
" Iya, sebenar nya dia sering berkata kasar sama mama kalau setiap kalian ada masalah. Cuma karena mama tidak mau memperkeruh masalah kalian, mama diam aja gak cerita sama kamu. mama hanya berharap rumah tangga kalian utuh. Tapi ya sudah lah, mungkin dengan tindakan mu ini sudah benar." ucap mama Yudha lagi.
Hari pun berlalu dengan cepat, tibalah saat nya untuk sidang perceraian, sidang pertama, ke dua dan ke tiga, akhirnya Yudha dan Yuni pun resmi bercerai. tentu nya hak asuh anak pun jatuh pada Yudha, karena Yuni tidak punya pekerjaan untuk membiayai anak - anak mereka kelak nanti. walau pun Yudha sanggup memberikan biaya pada anak - anak nya. tapi Yudha memang tidak mau lagi berurusan dengan Yuni. kalau pun Yuni ingin bertemu dengan anak - anak nya biarlah itu menjadi urusan orang tua Yudha untuk mengawasi nya.
Kring kring kring !
Dering telpon dari Kya.
" Halo aunty ?"
Aku mengangkat tlp dari Kya.
" Len, gimana kabar ponakan ku ? aduh rindu banget nih pengen gendong." ucap Kya menanyakan putri ku yang baru berusia 6 Minggu.
" Baik aja aunty, kapan aunty akan mengunjungi ku ?" tanya ku yang sedang menirukan bicara anak kecil.
" Iya nanti yaa, kalau aunty nya gak sibuk. Len gimana dengan ke adaan mu ? apa ada yang kurang ?. kalau butuh apa - apa kabari aku secepat nya. aku akan marah pada mu kalau kamu menyembunyikan sesuatu pada ku." ancam Kya.
" iya, baik aja ky, mas Hadi juga datang menemui anak nya cara diam - diam."
" Oh... bagus lah kalau gitu, apa dia masih takut dengan istri nya untuk datang menemui mu ?" tanya Kya lagi.
" Yah seperti itu lah Ky" jawab ku lagi.
" Ya udah kalau gitu Len, ku tutup dulu tlp nya. ingat susu ponakan ku jangan kekurangan!" ucap Kya sambil meng akhiri sambungan tlp
Tut Tut Tut...!
\*\*\* Terimakasih... untuk teman² yang suka cerita horor, mampir di cerita ku yang ke 2 yaa, dengan judul Aluna\*\*\*