Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 121 # Rasa Senang Taqa


Setelah melakukan perjalanan yang lumayan lama, Taqa masih betah memandangi pemandangan mobil dan gedung di depannya. Anak tampan itu masih setia menemani sang ibu berkendara. Sampai tiba di mana mobil Yasmine tiba di depan rumah mewah keluarga Ilyas Hermawan.


Tentu saja ia tidak langsung di bukakan pintu oleh pak satpam, hingga saat Yasmine membuka jendela mobilnya barulah pak satpam yang masih sama membukakan pagar untuknya.


"Bu, kenapa tidak langsung di bukakan, pagarnya?" tanya Taqa penasaran.


"Takut bukan ibu, yang datang," jawab Yasmine sembari memajukan mobilnya menuju pelataran rumah mewah orangtuanya.


"MaSyaa Allaah, rumah nenek besar sekali Bu," kagum anak tampan yang kini mencondongkan tubuhnya melihat ke arah depan.


Yasmine tersenyum. "Iya, sudah siap belum, beri kejutan nenek sama kakek?" tanya Yasmine.


"Siap, ayo bu." kata Taqa yang kini sudah siap turun.


"Sebentar, ucap syukur dulu dong, kita sudah sampai," Yasmine mengingatkan.


Taqa mengangguk dan mengucap hamdalah, setelahnya keduanya lantas turun dari mobil dengan bergandengan tangan. Taqa masih melihat ke sekeliling rumah sang nenek, bocah kecil itu masih sangat kagum.


Hingga saat di depan pintu putih besar yang tertutup keduanya saling pandang dan mengangguk. "Assalamu'alaikum!" teriak keduanya. Tangan Yasmine tak lupa untuk memencet bel.


Terdengar jawaban salam dari dalam, lantas di bukanya pintu putih besar itu.


"Ya Allah, Non Yasmine, apa kabar?" tanya mbak.


"Alhamdulillah, ibu sama ayah ada 'kan?" tanya balik Yasmine.


"Ada, Non. Ya Allaah, ini Aden cakep pisan," kata si bibi sembari mengulurkan tangan saat Taqa meminta salim.


Yasmine lantas menggandeng tangan sang anak untuk masuk ke dalam, rasanya sudah sangat lama dia tidak ke tempat di mana dia di besarkan. Ada rasa aneh saat ke sana, semua bayangan-bayangan tentang dirinya saat dulu terlihat jelas dalam benak.


"Rumah nenek sepi ya, Bu?" pertanyaan Taqa membuat Yasmine melihat ke arah sang anak.


"iya," jawabnya singkat. Lantas begitu sampai di dalam, Yasmine menyuruh anaknya mengetuk pintu kamar ibu dan ayah. Sedangkan dirinya berdiri lumayan jauh dari sana.


Kendati mereka sering ketemu, namun karena sudah lama tak pulang jadi rasanya seperti ada yang aneh. Itulah yang Yasmine rasa sekarang. Sembari berdiri, ia memperhatikan sang anak yang tengah mengetuk pintu.


Sekali, dua kali, pintu tak di buka dari dalam. Hanya terdengar sautan ibu. Sampai ke tiga kalinya, akhirnya di buka dengan wajah ibu yang benar-benar kaget.


"Masya Allaah, Taqa. Cucu nenek, kamu ke sini, Nak." ibu Radiah jongkok di depan Taqa dan memeluk cuci laki-lakinya itu.


"Kek, ini ada Taqa," ucap ibu sembari memeluk sang cucu. Matanya lantas mendapati kedatangan sang anak yang tengah berdiri, tersenyum ke arahnya.


Ibu Radiah tersenyum lebar ke arah Yasmine dan melambaikan tangannya agar mendekat. Yasmine setengah tertawa, lantas memajukan langkah kakinya ke arah sang anak dan ibu, yang kini sudah ada ayahnya juga.


"Assalamu'alaikum, Ayah, Ibu," ucap Yasmine sembari menyalami kedua tangan orang tuanya dengan takzim.


"Wa'alaikumsallam, ceritanya mau kasih kejutan gitu ya, bilang-bilang nenek nggak boleh ke sana, katanya Ganteng mau pergi," begitu kata ibu Radiah menjawil pipi sang cucu.


"Hihi, itu ide ibu, Nek," jawab Taqa jujur.


"Ayo kita duduk di sana, cucu kakek ini pasti capek." ajak ayah Ilyas. Kendati yang di ajak cucunya, tapi, yang di rangkul oleh pria paruh baya itu adalah anaknya.


"Aku nggak capek Kek, malah seneng banget," kini bocah itu sudah duduk di sebelah sang Nenek.


Ibu Radiah tak berhenti mengusap rambut sang cucu, mencium pipinya, bahkan memeluk saking bahagianya.


"Taqa pengin lihat kamar ibu, Nek," jawab bocah kecil itu.


Yasmine yang duduk di sebelah sang anak dan ayahnya lantas tersenyum. " Ngapain lihat-lihat kamar ibu?" tanyanya.


"Pengin aja Bu," Taqa menoleh ke arah sang ibu.


"Sudah biarkan saja, ayo Nek, di ajak cucunya. Dia mau istirahat kayaknya," kata sang kakek.


Ibu Radiah menurut sekali, langsung di gandengannya tangan Taqa dan di ajak ke lantai dua, di mana dulu kamar ibunya berada.


Sedangkan Yasmine, begitu sanga anak sudah pergi, ia lantas menoleh ke arah sang ayah. "Apa, ada yang akan Ayah katakan?" tanyanya.


Ayah mengernyitkan dahi, "tidak ada. Ge-er kamu," katanya. Membuat sang putri memajukan bibirnya kesal.


Ayah Ilyas tertawa, "kamu tuh paling tahu. Apa sudah terbaca ekspresi wajah paruh baya ini," katanya.


"Sudah kebaca, Ayah. Ayah tuh nggak bisa bohongin orang, dengan raut wajah," kata Yasmine yang lantas meminum air yang di ambilkan oleh mbak.


Ayah Ilyas mengusap kepala sang anak, "ini permintaan Taqa, atau inisiatif kamu sendiri?" tanya pria paruh baya itu.


Yasmine mengembuskan napas pelan. "Taqa, Yah."


Ayah mengangguk, "seperti apa mintanya."


"Kayak biasa, Yah," jawab Yasmine sekenanya.


"Kalau nanti minta yang lain gimana?" tanya ayah lagi.


"Enggak, dia bilang cuma pengin ketemu nenek sama kakeknya, sama pengin ke mall Jakarta, pengin tahu kayak gimana katanya," jawab Yasmine.


"Kami tahu sendiri loh, Yas. Dia 'kan tidak pernah mau bilang langsung," ingat sang ayah.


"Iya, sih," Yasmine menyandarkan kepalanya pada pundak sanga ayah.


Lelaki paruh baya itu hanya mengusap kepala sang anak tanpa mengatakan apapun. Sudah bisa di tebak olehnya, kalau kedatangan ini jelas karena keinginan bocah kecil yang selalu bertanya padanya pasal sang ayah. "Kek, kok ayah Taqa nggak pernah datang ya?" tanya sang cucu setiap dirinya berada di kamar sang cucu.


"Ayah Taqa sibuk, Nak," jawabnya selalu.


"Apa nanti, Taqa boleh ketemu? Pengin lihat," ucap cucunya lagi saat itu.


"Nanti ya, kalau mau bilang sama ibu harus pelan-pelan. Jangan langsung bilang pengin ketemu ayah. Kamu tahu 'kan ibu sibuk?"


Saat itu bocah kecil kesayangannya sangat penurut. Dan selalu bertanya pasal sang ayah pada kakeknya.


Karena foto ayah ada di kamarnya, juga dengan seseorang yang kata ibunya harus memanggil dengan sebutan mama. Lengkap dengan nenek-kakek yang lain. Itulah, kenapa dia sangat penasaran. Kenapa begitu banyak keluarga, tapi hanya sepasang nenek-kakek saja yang datang. Begitu kira-kira yang ada di dalam benak anak tampan bernama Muhamad Yusuf Taqa El Fatih.


Yasmine hanya memperkenalkan tanpa memberi temu, sampai akhirnya sang anak merasa penasaran. Namun, karena selama ini Taqa juga tak pernah melihat keberadaan mereka, jadi, anak itu tak berani bertanya pada sang ibu. Entahlah, anak itu pikir orang-orang yang ada di dalam foto itu semua tinggalnya jauh, hingga saat dia meminta ingin bertemu takutnya menghabiskan uang ibunya, dan membuat ibu sedih karena harus keluar uang banyak.


Seperti saat ia mendengar sang ibu yang mengatakan, "Ya Allaah ... pengeluaran Taqa banyak banget."


Saat itu, padahal Yasmine mendesah kecewa karena memakai kartu milik Taqa hanya untuk membeli mainan. Entahlah, saat itu ia bisa lupa untuk memakai kartu miliknya. Namun, yang masuk ke dalam pikiran anak kecil itu, uang ibunya habis karena dirinya.