
Sembilan bulan, ia merasa sangat sebentar. Terlebih saat kasih sayang yang sangat besar ia dapatkan dari lelaki yang sangat menyayanginya itu. Ia bahkan sampai tak pernah merasa lelah sedikitpun, selalu diperlakukan bak ratu oleh suaminya. Begitu juga dengan mertuanya yang sangat menyayangi dirinya serta anaknya. Kendati Taqa bukanlah cucu kandung ibu Sufi. Tapi, mertuanya itu tak pernah membedakannya.
Bahkan setelah usia kandungan Yasmine memasuki delapan bulan dan ibu Sufi tinggal di rumahnya, saat itu juga Taqa tidur dengan wanita tua yang sudah seperti nenek kandung baginya. Pengganti ibu Radiah yang sekarang ini tengah mendampingi ibu hamil juga. Yaitu, Zahra. Ya, ternyata Zahra pun hamil, dan hanya selisih satu bulan saja dengan Yasmine.
Saat ini, wanita itu tengah duduk diam. Bukan tanpa alasan, tapi karena rasa mulas sudah mulai wanita itu rasakan dari saat bangun tidur. Namun, ia belum berani mengatakannya pada suami dan mertuanya. Ia takut kedua orang tersayangnya panik, jadi lebih baik ia katakan nanti saja, saat rasa itu datangnya sering. Seperti kata dokter.
Lagipula, ini kehamilan ke dua baginya. Jadi, sedikit banyaknya ia tahu seperti apa tanda-tandanya. Ia jelas tak lupa, saat rasa itu datang dan ia hanya dengan ibu dan ayahnya saja. Tidak ada sosok suami saat itu. Tapi kini, suaminya bahkan tengah duduk disebelahnya.
Tidak meninggalkan dirinya barang sedetikpun Bahkan, saat ia ke kamar mandi pun, Arya selalu membuntuti.
"Ibu Cantik, seperti meringis kesakitan," ucap Arya. Ya, setelah sang istri hamil. Arya paling suka memanggil Yasmine dengan sebutan ibu cantik. Karena memang menurutnya, istrinya setelah hamil semakin cantik.
"Ayah Tampan jangan sok tahu, ini hanya tendangan kecil dari anak kita," jawab Yasmine. Padahal, dari pagi gerak bayinya sudah mulai berkurang. Tidak lagi se aktif biasanya.
"Baiklah, kalau sakit tolong bilang. Jangan diam-diam, jujur aku merasa takut." Arya turun dari duduknya dan berlutut di depan istrinya itu.
Yasmine tersenyum. "Percayalah, aku akan baik-baik saja. Begitu juga dengan anak kit," ucapnya seraya mengusap pipi mulus sang suami.
Arya menganggukkan kepalanya. "Aamiin. Itu yang selalu aku doakan Buntik, Ibu Cantik."
Yasmine tertawa, "doa Ayah tampan dan kakak Tampan jelas akan dikabulkan oleh Allaah. Karena doa kalian sangat tulus."
...----------------...
Hingga siang menyapa, setelah Yasmine dan Arya dan ibu Sufi salat dzuhur. Yasmine sudah mulai merasakan mulas dengan tempo yang sering. Akhirnya ia mengatakan pada suami dan ibu mertuanya itu. Pun, ia mengatakan dengan sangat pelan dan raut wajah biasa saja. Agar keduanya tak panik.
"Mas, Bu ... Yasmine sudah mulai mulas," katanya.
Arya langsung membacakan doa dan menyiapkan mobil, begitu juga dengan ibu yang lantas mengambil tas. Sedangkan Taqa, ia titipkan kepada guru terlebih dulu, sebelum dirinya bisa menjemput.
"Pelan-pelan saja, Mas. Ini mulasnya baru saja kok," ujar Yasmine saat sang suami terlihat buru-buru mengendarai mobilnya.
"Iya, Ar. Hati-hati," ucap ibu Sufi yang kini malah mengkhawatirkan keadaan mereka bertiga jika berada di dalam mobil yang lajunya cukup kencang.
Yasmine mengusap kengan lelakinya. Ibu Sufi sampai tertawa lirih. "Ini siapa yang akan lahiran, siapa yang menenangkan," ucapnya.
Mobil sampai dan Yasmine lantas digendong oleh sang suami. Sementara ibu Sufi membuntuti anak dan menantunya dengan menenteng tas persiapan ibu dan anak.
Sampai di IGD, Yasmine langsung di cek pembukaan. Setelahnya langsung di bawa ke ruang persalinan karena ternyata pembukaan sudah tujuh.
Perasaan Arya semakin takut. Apalagi saat dirinya menemani Yasmine dan dokter serta beberapa suster.
"Mas, tolong jangan panik. Kalau Mas enggak tenang. Aku juga." kata Yasmine jujur.
Arya menganggukkan kepalanya dan meminta maaf. Lantas pria itu membaca doa dan membacakan sholawat di telinga Yasmine dam di perut.
Sampai akhirnya, pembukaan lengkap dan perjuangan ke dua di mulai. Arya tak kuasa menahan air matanya, ia menguatkan Yasmine dengan membiarkan wanita itu berpegangan erat pada tangannya. Arya bahkan sampai menciumi terus-menerus kening Yasmine.
Sampai akhirnya suara tangisan bayi terdengar, dan saat itu. Baik Yasmine maupun Arya, keduanya sama-sama merasa lega.
"Alhamdulillah, terimakasih Ya Allaah ... terimakasih Ibu Cantik, selamat," ucap Arya seraya kembali menciumi wajah istrinya itu.
"Makasih, Mas. Selamat juga untukmu. Ayah Tampan."
Rasanya sangat bahagia, bisa mendapati putri cantik mereka kini telah lahir. Yasmine sampai meneteskan air mata saat bayi mungil berwajah kemerah-merahan itu di berikan kepadanya. Apalagi saat mendengar Arya mengadzani anak mereka dengan suara yang bergetar nan merdu di dengar. Lebih tak kuasa lagi rasanya menjadi Yasmine.
Pun sama dengan ibu Sufi. Ia benar-benar bahagia mendapatkan cucu ke tiga perempuan. katanya itu adalah cucu ke tiga, karena nomor dua tengah di alam yang indah bersama ibundanya.
Seusai Yasmine dibersihkan, bayi cantik pun sudah. Lalu ibu dan bayi itu sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Maka, Arya lantas pergi sebentar untuk menjemput jagoan mereka. Lelaki itu sudah tidak sabar untuk melihat reaksi dari anak pertamanya yang sangat menunggu adik bayinya lahir.
Benar saja begitu dirinya menjemput, dan dia mengatakan kalau adiknya telah lahir, Taka sangat bahagia.
"Ya Allaah. Alhamdulillah, akhirnya adik bayi lahir dengan selamat. Ayo Yah, kita buru-buru ke rumah sakit. Aku pengin lihat ibu dan adik." kata Taqa sangat antusias.