
...Tak Harus Memiliki ......
...Kini cinta itu telah pergi...
...Membawa sekeping hati...
...Yang tak lagi bisa dimiliki....
...Mungkin, inilah kenyataan...
...Saat hati menginginkan....
...Biarlah cinta sejati, menjadi kenangan...
...Yang akan di kenang dalam angan....
...-Yasmine-...
...(Novel : Isteri Ke Dua / NovelToon)...
^^^By Yuli Fitria^^^
...----------------...
Semburat jingga menyapa. Perempuan yang kini sudah sendirian itu masih di sana, duduk menatap warna oranye yang begitu memukau. Ah, mungkinkah, keinginannya sangat baik, sampai ia bisa menikmati indahnya senja di saat hatinya terasa sakit.
Embusan angin membelai wajah cantiknya, udara sejuk kian menyapa. Sampai di mana semilir angin itu mengibarkan ujung jilbabnya. Pipinya masih basah, masih terasa juga sapuan lembut penuh cinta di bibirnya. Sayangnya, itu untuk terakhir kalinya.
Bibirnya tersenyum, netra nya masih menatap awan indah di ujung ladang sana. Bukankah, ini keinginannya? Lalu kenapa masih ada air sebening kristal yang keluar. Harusnya tidak ada air mata saat keinginannya tercapai, bukan.
Namun ternyata, hati tak bisa di bohongi, begitupun air mata. Karena keduanya selalu kompak, di mana hati tersakiti, maka mata pun akan menangis.
Perempuan itu lantas menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskan nya perlahan. "Sudah. Kita happy, sekarang," ucapnya seraya mengusap sisa-sisa cinta yang mengalir ke pipi mulusnya.
Dengan hati yang masih terasa pedih, ia lalu memutar tumit dan berlalu dari halaman belakang rumah yang masih memancarkan warna yang indah.
...🥀🥀🥀🥀...
Di dalam kamar hotel tak berbintang, keduanya memutuskan untuk mengistirahatkan perasaan, hati dan segalanya.
Dalam keadaan duduk, keduanya diam. Shalat sudah selesai, begitupun dengan doa. Namun, keduanya belum sama-sama saling melihat, seperti biasanya. Entahlah, yang dirasakan keduanya adalah seperti ada sesuatu yang hilang, yang membuat hati keduanya hancur bahkan sangat hancur.
Air mata masih membasahi pipi, di saat teringat kembali kalimat yang sudah terucap. Entah bagaimana esok, yang jelas hari ini, sakit begitu terasa di dalam dada.
Bukan tanpa Alasan Alfin mengatakan segalanya, tapi ia juga sudah mempertimbangkan apapun yang akan ia ucapkan.
Dari sosok cantik dan baik yang selalu menemani, melayaninya dengan baik tanpa mengeluh, sampai harus merelakan dirinya menikahi wanita lain guna mengingatkan akan dirinya pada janji di masa kecil.
Rela dan ikhlas saat wanita lain mungkin tidak akan mau seperti dia. Jadi, tidak mungkin begitu saja ia biarkan dia sakit hati. Namun, bagaimana dengan cinta sejatinya? Cinta yang sudah ada sejak masa kanak-kanak.
Ia pikir, dengan melepaskannya ia akan bahagia, dengan melihat dia bahagia. Sesuai dengan apa yang dia inginkan. Lagipula, Alfin sangat mengerti, apa alasan di balik kukuhnya keinginan wanita hamil itu. Ia tahu persis, kalau wanita hamil yang kini bukan lagi istrinya itu hanya tidak ingin, sang sahabat sakit hati, lantaran menahan rasa cemburu, apalagi jika rasa itu sampai berlebihan.
Alifa mendongak, wanita itu masih menangis. Alfin lantas mendekat dan membawa tubuh mungil istri pertama yang kini kembali menjadi istri satu-satunya itu ke dalam dekapan.
Di usapnya pelan penuh kelembutan punggung sang istri, pula di ciumnya puncak kepala wanita itu dengan lama, pun dengan mata yang terpejam. Ia tahu, kini yang sakit bukan hanya dirinya, tetapi wanita yang sudah ia nikahi hampir sepuluh tahun pun sama.
"Kenapa, kamu mengatakannya, Mas?" tanya Alifa.
"Aku pikir, kamu hanya akan membiarkan dia di sana, tanpa melepaskannya," sambung wanita itu.
"Itu yang dia inginkan, Sayang." panggilan itu kembali terucap.
"Apa kamu bisa, Mas, tanpa dirinya?" tanya Alifa yang masih di dalam dekapan.
Alfin terdiam, ia menarik napas dalam-dalam dan menjawab. "Jika tidak, aku masih menahannya, bukan."
"Kamu hanya menghargai-ku, Mas," ucap Alifa sembari mengurai dekapan hangat sang suami.
Alfin menatap wajah ayu nan manis itu, "tidak. Bukankah kamu tahu, aku sudah pernah mengatakan kalau tidak akan ada nama lain selain kamu setelah ijab kabul terucap, lalu bagaimana mungkin sekarang aku hanya menghargai-mu, sementara cintaku padamu ada di setiap helaan napas."
"Aku percaya, saat itu kamu katakan di waktu dulu, Mas. Tapi sekarang, entahlah," Alifa mengedikan bahunya.
"Terserah padamu, aku sekarang hanya milik kamu, tidak baik jika sekarang kita membicarakan hal yang seperti ini. Mari kita jalani hari-hari berikutnya dengan hati yang lapang, degan memupuk rasa yang dulu penuh dan sempat berkurang."
"Aku nggak mau kamu banyak pikiran, apalagi sampai menerka-nerka yang tidak baik. Jadilah Alifa-ku yang ku kenal dulu," sambung Alfin.
Alifa mengangguk walaupun hatinya kini sudah tak se-mantap dulu.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Sementara itu, di rumah lain. Tepatnya di rumah Ayah Ilyas dan Ibu Radiah, keduanya tengah duduk dengan bolak-balik mengembuskan napas. Tadi, Alifa menelpon dan memberi kabar tentang apa yang terjadi sore tadi. Yang mana membuat Ayah dan ibu hanya bisa diam saat bolak-balik Alifa meminta maaf. Bukan tak memaafkan, hanya saja sebagai orang tua jelas kaget dengan keadaan sang putri yang kini bergelar status baru.
Walaupun dari jauh-jauh hari mereka tahu akan permasalahan sang anak dan menantu, tapi mereka masih berpikiran yang baik, meskipun mereka juga mendukung jika sang anak inginnya tetap berpisah. Karena kembali lagi, kebahagiaan sang anak adalah kebahagiaan orang tua.
"Ibu pengin ke sana, Yah," ucap ibu.
"Iya, besok," jawab Ayah Ilyas.
"Apa Alifa dan Alfin masih di sana, Yah?" tanya Ibu lagi, karena tadi saat awal menelpon, yang menjawab adalah Ayah.
"Sudah pergi dari rumah Fifi, tapi masih di hotel," jawab Ayah lagi. "Semoga semuanya baik-baik ya, Bu, setelah ini."
Ibu menoleh ke arah sang suami, ia lantas mengangguk. "Ibu justru lebih lega, Yah. Sekarang."
"Dengan berpisah, Yasmine tidak perlu menjaga perasaan Alifa, begitupun sebaliknya. Dan Alfin tidak perlu pusing menghadapi dua wanita dengan karakter yang berbeda," sambung ibu.
Ayah Ilyas diam, sebenarnya sebagai seorang Ayah, ia jelas tidak ingin jika sampai sang anak menjadi janda di usia pernikahan yang masih seumur jagung. Apalagi, kondisinya juga tengah hamil. Tapi, kembali ke masalah kenyamanan, jika sang anak nyamannya seperti itu, maka, sebagai seorang Ayah ia hanya bisa mendoakan saja.
"Ibu kasih tahu Yahya, siapa tahu dia tidak sibuk sekali dan ingin ikut menjenguk adiknya," ucap Ayah setelah diam beberapa saat.
Ibu lantas berkutat dengan ponselnya, memberi tahu sang putra tentang adiknya itu.