
"Jadi, apa kamu masih mau ngajar? Kapan kamu cuti, atau berhenti saja?"
Pertanyaan dari Alfin membuat Yasmine melongo di tempatnya. Apa ini? Dia baru hamil muda, bahkan perutnya saja masih rata. Tapi, suaminya sudah menyuruhnya untuk cuti. Perempuan cantik itu menggelengkan kepalanya heran. Akhirnya ia hanya diam tak menjawab. Karena memang untuk cuti kapan, apa lagi sampai berhenti rasanya tidak mungkin. Pekerjaan itu adalah cita-citanya. Jadi, untuk resign ia rasa nanti dulu.
"Kok, malah diam sih, Ay." Alfin mendekat dengan satu gelas susu. Pagi hari ini, ibu hamil ingin dibuatkan susu hangat oleh sang ayah dari bayinya.
"Makasih," ucap Yasmine seraya menerima gelas yang di berikan oleh sang suami. Lalu ia menaruhnya di atas meja. Setelah Alfin duduk di sebelahnya, ia lantas menatap wajah tampan itu. "Aku masih belum bisa menjawab itu sekarang. Butuh waktu untuk memikirkan segalanya 'kan?"
Alfin mengangguk, "Iya. Yang penting hati-hati, jangan jalan dengan cepat. Pelan-pelan saja, jangan membuat Aku khawatir."
Yasmine tersenyum, "iya. Kamu lama-lama kayak ibu, deh."
"Ayo, sekarang di minum susunya. Nanti aku yang antar sekalian ke kantor. Selama aku di rumah ini, kamu tidak perlu pakai supir," ucap Alfin.
Lagi-lagi Yasmine mengangguk. Keduanya memang hanya sarapan roti, karena Alfin pun masih sama seperti Yasmine. Jika pagi dan mencium bau nasi panas, bisa mual bahkan sampai muntah. Jadi untuk saat-saat ini, perkejaan mbak Fifi sedikit ringan lantaran tidak masak. Hanya membuatkan kopi saja untuk majikan laki-lakinya.
Seusai sarapan, keduanya lantas pergi dengan satu mobil. Yasmine semakin senang karena sikap Alfin semakin baik dan pengertian setelah mengetahui dirinya hamil. Ia bahkan begitu merasa bahagia, sampai lupa jika harus menjaga perasaan hati yang lainnya.
"Sudah sampai, mau di antar sampai dalam?" tawar Alfin.
"Apaan sih, ya enggak lah. Sampai sini saja," ucap Yasmine dengan senyum yang lebar.
Alfin mengusap kepala sang istri, "Hati-hati, jangan lupa pesan aku."
"Iya, Calon Ayah," jawab Yasmine dengan menunjukan sikap hormat. Membuat Alfin tertawa dan segera menarik tubuh sang istri ke dalam dekapannya.
Seusai pamitan juga cium tangan, wanita yang tengah hamil muda itu lantas turun dari dalam mobil. Berjalan menuju sekolah dengan hati-hati. Karena ia tahu kalau sang suami masih memperhatikan dirinya.
Dan begitu Yasmine tak terlihat, Alfin pun menjalankan mobil menuju kantornya. Perasaannya tengah bahagia, namun harus di jaga agar tak berlebihan. Karena, mau sebahagia apapun dia, ada hati yang harus ia jaga agar tak terluka.
Alfin tahu, untuk semua hal ini jelas akan sulit. Entah seperti apa nantinya ia akan membagi segalanya untuk keduanya. Ia tahu, seadil-adilnya dia kepada kedua istrinya, jelas rasa iri pasti ada. Walaupun dia sudah berusaha semaksimal mungkin.
Dan siangnya, ternyata dia begitu banyak kerjaan yang tidak bisa di pindah tangan ke bawahan. Alhasil, Yasmine pulang sendiri menggunakan taksi. Wanita itu tidak marah, ia justru memahami kesibukan sang suami.
Sampai saat sore tiba, sang suami pulang. Di tangannya penuh dengan makanan, membuat Yasmine yang menyambut di teras kebingungan lantaran mana duluan yang akan ia ambil. Akhirnya wanita cantik itu memanggil mbak Fifi untuk membantunya.
"Kamu beli apa saja?" tanya Yasmine heran.
"Banyak. Ada kue favorit kamu dan Alifa. Aku punya ide kalau malam ini kita ke rumah Alifa. Kita beritahu kabar bahagia ini secepatnya. Sebelum akhirnya ia tahu dari orang lain," kata Alfin menjelaskan.
Sampai saat setelah shalat magrib dan ngaji sebentar. Yasmine dan Alfin bersiap-siap untuk pergi. Keduanya lantas pamit pada mbak Fifi.
"Tidak nginap 'kan Mbak Yas?" tanya mbak Fifi saat dua majikannya pamit.
"Enggak kayaknya sih, ya 'kan Suami?" tanya balik Yasmine pada sang suami yang ada tak jauh dari dirinya.
"Iya, nanti pulang," jawab Alfin. "Ayo. Tinggal dulu ya Fi," pamit Alfin sembari menggandeng tangan sang istri.
Mbak Fifi mengangguk. "Iya, hati-hati ya Mas, Mbak."
"Assalamu'alaikum," ucap Yasmine dan Alfin bersamaan.
"Wa'alaikumsallam," jawab mbak Fifi sembari berjalan ke luar rumah. Ia ingin mengantar dua majikannya itu sampai teras.
Mbak Fifi tersenyum saat mobil sang majikan sudah pergi. Kendati dia hanya asisten rumah tangga. Tapi, rasa sayangnya begitu besar pada Yasmine. Dalam hati wanita muda itu pun berdoa, mendoakan sang majikan agar selaku rukun dengan sang sahabat yang rela menjadikan Yasmine madu-nya. Setelah benar-benar tak terlihat, mbak Fifi baru masuk dan mengunci pintu. Siap-siap jaga mata agar tak tertidur sebelum pasangan manis itu pulang.
Sementara itu, mobil Alfin terparkir cantik di depan rumah mewah Alifa. Bahkan sang pemilik rumah sudah menyambutnya di teras. Dengan senyum yang lebar dan lambaian tangan. Seolah tengah kedatangan sang idola.
"Assalamu'alaikum!" Yasmine mendekat ke arah Alifa saat baru saja turun dari mobil. Berjalan dengan cepat bahkan sedikit berlari. Langsung memeluk erat sang sahabat. Membuat Alfin yang masih di dalam mobil geleng-geleng kepala. Baru saja di bilangin tadi pagi, malamnya sang istri sudah lupa.
"Wa'alaikumussalam, Yas," jawab Alifa yang masih memeluk sang madu.
"Alfin bawa oleh-oleh tuh buat kamu," ucap Yasmine. Karena panggilan madu-nya itu Alifa tertawa.
"Pakai panggilan, Yas."
"Hihi, lupa," jawab Yasmine. Yang lantas membuat Alfin yang sudah ada di sana geleng-geleng kepala.
"Ini buat kamu, Sayang." Alfin memberikan sekotak kue kesukaan sang istri.
"Makasih, Mas." Alifa menerima sembari menyalami tangan sang suami. Mencium punggung tangan itu dengan lama. Alfin bahkan mengusap kepala istri pertama nya itu dan mengecup puncak kepala Alifa saat sudah selesai salim.
"Ayo, kita masuk. Istri-istri shalihah." Alfin merangkul kedua bahu istrinya.
Yasmine dan Alifa saling pandang dan tersenyum. Bahkan mereka berdua merasa lucu akan ini. Kedua tangan istri itu saling menggenggam di balik punggung sang suami.
Lalu tiga pasang kaki itu melangkah masuk ke dalam rumah. Dengan langkah kaki yang sama, dengan hati yang sama, yaitu bahagia. Alfin bahkan tak segan-segan mencium sekilas puncak kepala Yasmine dan Alifa secara bergantian.