
Tiga Bulan Kemudian.
Hoek Hoek Hoek
Terdengar suara orang yang sedang mint*h sontak membuat Nico langsung terperanjat bangun.
"Leka." gumam nya saat melihat sang istri sudah tak ada di sampingnya.
Nico bergegas turun dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi.
Tok tok tok
"Sayang,are you okey?" tanya Nico yang cemas dengan keadaan Leka yang ada di dalam kamar mandi dengan keadaan terkunci.
"Aku baik-baik saja mas.." jawabnya namun dengan suara yang terdengar lirih.
"Buka pintunya , sekarang !!" ucap Nico tegas.
Ceklek
Pintu kamar mandi pun terbuka dan menampakkan Leka yang berdiri di depan pintu dengan wajah yang terlihat pucat.
"Kamu sakit?" tanya Nico dengan menyentuh kening istrinya.
"Nggak,aku baik-baik saja." jawab Leka dengan lirih.
"Kalau kamu sakit bilang,tapi..wajah kamu kelihatan pucat soalnya.Ayo aku bantu." ucap Nico memapah tubuh Leka duduk di sofa.
" Aku baik-baik saja mas,jangan khawatir.Maaf buat kamu kebangun." ucap Leka dengan tatapan mata yang terlihat bersalah.
"Nggak masalah,aku khawatir dengan keadaan kamu sekarang.Kita ke dokter yaa?" tawar Nico
"Nggak perlu, sebentar lagi juga sembuh." ujar Leka menolak untuk ke dokter.
"Pasti kamu kecapean sampai masuk angin gini.Tunggu sebentar,aku ambilkan teh hangat buat kamu." ucap Nico dan Leka mengangguk mengiyakan perkataan suaminya.
"Kenapa sama tubuhku.Apa aku..
Tapi,memang aku belum datang bulan.Kalau aku test peck takutnya hasilnya mengecewakan." gumam Leka yang menyadari jika dirinya sudah beberapa hari ini sudah telat datang bulan.
Tak lama Nico masuk membawa segelas teh hangat untuk Leka.
"Minumlah,supaya kamu punya tenaga lagi." ujar Nico.
"lya."jawab Leka singkat.
Leka pun meneguk teh hangat itu dan merasakan tubuhnya lebih baik.Doa pun memutuskan untuk berbaring di atas tempat tidur lagi.
Akhir akhir ini tubuhnya mendadak merasa cepat lelah.Semantara jam masih menunjukkan jam lima pagi dan akhirnya Nico pun ikut memejamkan matanya sejenak.
...----------------...
Jam setengah tujuh pagi Nico tanpa membangunkan sang istri bersiap untuk berangkat ke kantor.Beruntung saat ini dia dan keluarga kecilnya sedang berada di rumah orang tuanya jadi si kembar di urus oleh mama Marina.
"Pagi.." ucap Nico saat sampai di meja makan untuk sarapan.
Nico mengecup pucuk kepala kedua anaknya dan mengecup kening sang mama.
"Pagi.."jawab mereka.
"Leka mana Nic?" tanya papa Gilang yang belum melihat kehadiran sang menantu.
"lya Nic,mana Leka.Biasanya dia yang sudah sibuk menyuruh kita sarapan."ucap mama Marina.
"Leka lagi kurang enak badan ma,tadi subuh dia munt*h-munt*h kayaknya dia masuk angin." jawab Nico dengan memasukkan nsi goreng ke dalam mulutnya.
"Bunda masih tidur?" tanya Aura
"lya bunda kecapean,masih tidur juga.Jadi,jangan ganggu yaa..pagi ini biar Daddy yang anter kalian sekolah." ucap Nico.
"Kami yakin istri kamu masuk angin?" tanya Marina
"Kenapa memang mah, mamah nggak percaya sama Nico?" tanya Nico dengan menatap kesal pada sang mama.
"Bukan begitu,ah.. sudahlah kamu juga nggak bakal tahu.Pokoknya nanti mama yang akan urus istri kamu,setelah sarapan nanti mama ke kamar kamu buatlihat kondisi Leka"ucap Marina gemas dengan sang putra
"Terserah mama lah,tapi ingat mah..jangan bikin istri Nico kecapean.Biarkan dia istirahat seharian."ujar Nico mewanti-wanti sang mama supaya tidak menyuruh istrinya ini dan itu.
"Kamu kira mama mertua yang seperti apa,kamu pikir mama jadi mertua yang kejam? suruh menantunya mengerjakan pekerjaan rumah gitu? Kamu ini kayak nggak tahu mama saja." ucap Marina yang kesal dengan sikap putranya.
"Mama..bukan begitu maksud Nico,sudahlah.Ayo anak-anak cepat selesaikan sarapan kalian minum susunya kita berangkat." ucap Nico pada si kembar.
Si kembar pun yang memang sudah selesai dengan sarapan mereka akhirnya mengangguk dan meminum susu mereka segara beranjak dari kursi makan mereka dan menyalami opa dan Omanya untuk pergi ke sekolah.
Setelah Nico dan kedua anaknya pergi kini Gilang juga berpamitan untuk ke kantor.
"Jaga menanti kita sayang,aku punya filling kalau kita akan dapat cucu lagi." ucap Gilang mengingat Nico yang mengatakan jika Leka sempat munt*h munt*h.
"Kamu juga sepemikiran sama aku pah,hahhh..memang anakmu nggak peka pah,bisanya cuma haha hihi nebar benih tapi lupa,dia nanam benih pastinya akan tumbuh zigot kan..bod*h memang dia."ucap Marina mengumpat kelakuan putranya yang tidak peka .
"Wajar saja mah,dia kan memang belum tahu kalau tandanya orang hamil.Dia cuma bisanya bikin.lngat dulu dia nebar tapi,dia tinggal.Sudahlah aku berangkat dulu.Kalau ada apa-apa kamu kabari aku." ucap Gilang dan berpamitan pada sang istri.
Setelah suaminya pergi Marina menyiapkan makanan untuk Leka dan tak lupa segelas wedang jahe hangat dia bawa.
Ceklek.
Marina membuka pintu kamar Nico terlihat Leka yang baru terbangun dari tidurnya.
"Astaghfirullahal'adzim mama,ini jam berapa mah? Maaf Leka kesiangan." ucap Leka dengan tubuh yang terasa lemah.
Marina melihat wajah pucat menantunya pun membawa nampan yang dia bawa dan dia letakkan di atas nakas.
"Gimana keadaan kamu sayang,kata Nico kamu lagi nggak enak badan."ucap Marina duduk di pinggiran tempat tidur.
"Aku baik-baik saja mah,cuma entah kenapa badan aku rasanya lemas banget." ucap Leka
Marina mengecek kondisi suhu tubuh Leka dengan menempelkan punggung tangannya de kening Leka.
"Suhu kamu normal,wajah kamu pucat.Kamu sarapan dulu lalu minum air jahe ini." ujar Marina dengan menyodorkan piring dengan wajah yang terlihat memerah dan tiba-tiba Leka menutup mulutnya dan langsung beranjak dari tempat tidur nya dan sedikit berlari ke kamar mandi dan menumpahkan segala isi perut nya lagi.
Marina pun akhirany menghampiri sang menantu dan membantu memijat tengkuknya.Sementara Leka masih menumpahkan semua isi perutnya sampai merasa kakinya tak sanggup lagi menahan tubuhnya.
Dengan sigap Marina memapah tubuh Leka untuk menuju tempat tidurnya.
Marina menyodorkan segelas air jahe pada Leka.Dengan perlahan Leka menyesap minuman itu yang terasa hangat di dalam perutnya.
"Sudah telat berapa lama nak?" tanya Marina membuat Leka memandang sang ibu mertuanya.
"Baru seminggu mah." jawab Leka lemah.
"Sudah test peck?" tanya Marina lagi dan di jawab dengan gelengan kepala oleh Leka.
"Kita kedokter yaa?" tawar Marina namun Leka menolak.
Tak lama kemudian Leka pun kembali merasa mual dan akhirnya pun dia mengeluarkan isi perutnya kembali sampai keluar cuma air saja.Saat memapah tubuh Leka tiba-tiba tubuh Leka ambruk tak sadarkan diri.
Bersambung