
" Sudah-sudah kalian kalau ketemu ada saja yang bikin ribut.Har,kamu nggak lupa sama Rena kan..? kita ngajak dia karena dia yang akan terjadi designer baju pengantin Leka dan juga Nico." jelas Marina.
Bagaimanapun Marina dan juga Gilang tahu soal masalalu keduanya.
"A_apa kabar Har,sudah lama tidak melihat kamu ,aku nggak nyangka kalau Leka adalah anak kamu." ujar Renata dengan sedikit tergagap.
Tak lupa Renata juga mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Hardi namun,siapa sangka jika Hardi malah mengacungkannya.
"Elang, Aurora..kalian nggak kangen sama Opa?" tanya Hardi memanggil kedua cucunya.
"Kangen dong opa,opa kenapa lama sekali." oceh Aura dengan memeluk tubuh sang opa yang sudah berjongkok menyamakan tinggi kedua cucunya.
"Lebay,baru tadi pagi kita ketemu kayak setahun aja deh,segala bilang kangen lagi." ujar Elang dengan mengejek sikap lebay adik dan opanya.
"Yeee..emang Aura kangen Opa kok,masalah buat Abang..wleee.." ejek Aura membalas kelakuan menyebalkan kembarannya itu.
Sementara Leka dan Nico yang tadi melihat tingkah Hardi tentu saja kaget.Papa Hardi sudah kenal dengan Renata namun,saat Renata bersikap ramah dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan papa Hardi malah di acuhkan begitu saja.
Terutama Leka yang begitu penasaran dengan Hardi yang bertingkah seolah ada dendam di masalalu.
"Tenanglah,maafin dia.Mungkin dia syok lihat kamu ada di sini." bisik Marina pada Renata dengan mengenggam tangan sahabatnya itu.
"Emm..pah,kita dari tadi tunggu papa buat review makanan yang akan jadi hidangan untuk resepsi nanti.Sekalian makan siang juga." ucap Leka mengakhiri drama si kembar dan papanya.
"Iya opa,Aura sudah lapar nih.." timpal Aura.
"Maafin opa, sekarang kita let's go!!" seru Hardi dengan mengangkat tubuh cucunya.
Leka dengan yang lain hanya bisa tersenyum melihat tingkah Hardi dan Aura.
"Boy,kamu mau di gendong juga.Opa masih kuat lho.." tawar Gading pada cucu laki-lakinya.
"Elang sudah gede Opa bukan kayak Auara si anak manja itu." tolak Elang dengan gaya coolnya.
"Hehh.. benar-benar Nico kecil." ucap Gilang mengingat tingkah Elang yang terlihat mirip Nico waktu kecil.
.
.
Mereka pun saat ini ada di ruangan private yang terlihat tertata rapi hidangan yang akan menjadi menu di resepsi pernikahan Leka dan Nico.
Mereka menikmati berbagai macam hidangan dengan komentar yang baik.Semua menu yang tersaji itu memang sudah di seleksi oleh Marina sendiri.
Setelah selesai menyantap makanan Renata pamit untuk ke toilet.Marina pun akhirnya ikut dengan sahabatnya itu.
"Sabar,kamu jangan menyalakan diri kamu kayak gitu Ren.Hardi nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi waktu itu." ucap Marina memberikan dukungan pada sahabatnya itu.
"Kenapa Allah nggak mempertemukan aku lebih awal dengan Hardi.Kenapa Allah nggak memberikan aku waktu untuk menjelaskan semuanya Rin,kenapa rasanya sakit kalau aku mengingat kejadian itu." ucap Renata dengan air mata yang sudah keluar dari matanya.
"Rena,kamu nggak boleh ngomong gitu.Allah maha tahu yang terbaik bagi umatnya.Hardi dan kamu memang nggak di takdirkan bersama.Allah tetapkan Jihan menjadi jodoh Hardi.Kamu juga tahu jika Jihan orang yang sangat baik.Dia sahabat kita."ujar Marina.
"Tapi kenapa dia...ah sudahlah." ucap Renata terlihat sangat frustasi dengan bertemunya dia dengan Hardi .
"Kamu masih mencintai Hardi?" tanya Marina membuat Renata menghentikan kegiatannya yang sedang memoles wajahnya.
"Kenapa kamu tanyakan lagi Marina,kamu tahu jawabannya.Aku dengan sadar mencintai Hardi sampai detik ini.Coba kalau Jihan tidak menikah dengan Hardi dan kenapa mereka nggak memikirkan perasaan aku saat itu.." ucap Renata dengan sedikit meninggikan suaranya
Deg.
Mereka tak menyadari jika Leka ada di balik tembok di depan pintu masuk toilet yang sama dengan Marina dan Renata.
Setelah mendengar penuturan Renata mendadak hati Leka merasa tidak nyaman dengan perkataan yang katanya sahabat mertuanya itu.
Leka melangkah keluar dari persembunyiannya.Kedua wanita paruh baya yang sesaat tadi sedang membahas masalalu mereka pun merasa terkejut dengan munculnya Leka.
"Leka,kamu ketoilet juga ?" tanya Marina dengan sikap yang terlihat sebaik mungkin.
"Iya mah.." jawab Leka singkat dan langsung masuk ke salah satu bilik toilet.
Tak lama dia pun keluar dan berdiri di samping mertuanya yang juga sedang memoles wajahnya membenarkan make up nya.
"Tante ,mama,kalian benar-benar sahabat ibu ku kan?"tanya Leka tanpa mengalihkan pandangannya yang sedang fokus dengan memoles wajahnya.
"Iya sayang,kami sahabat ibu kamu sedari dulu." jawab Marina dengan lembut.
" Apa mama sama Tante tahu apa yang ibu dan papa lalui setelah kegagalan cinta papa dengan wanita bernama Reta? Leka taunya papa mempunyai mantan bernama Reta dan ternyata jika aku hubungkan,apa benar namanya Renata alias Rena alias Reta,apa benar itu Tante orang nya?"
"Apa yan sebenarnya akan kamu sampaikan sayang?" tanya Marina dengan nada bicara yang masih terdengar lembut.
"Ibu ku Jihan dengan papaku Hardi itu awalnya sahabat berarti sahabat kalian dong,apa mama tahu apa yang menimpa papa setelah melihat pacarnya sendiri sedang mesra-mesraan dengan laki-laki lain?Ibu sudah berusaha untuk menyatukan papa dengan wanita bernama Reta.Walaupun papa menolak untuk ibu membantunya untuk mendapatkan Reta.Ibu rela kerumah perempuan itu, untuk meminta wanita bernama Reta kembali pada papa tapi,saat ibu kerumahnya yang besar itu,dia di usir dengan kasar dan keluarga papa pun mengalami kebangkrutan dalam sekejap."terang Leka.
"Papa kehilangan keluarga.Papa berjuang dari nol tanpa ketiga orang sahabatnya.Apalagi setelah menerima undangan pertunangan Reta dengan laki-laki lain papa memutuskan untuk pergi dari kota dan mencari kenyamanan hidup di sebuah kota kecil tempat kelahiran ibu.Disanalah papa berjuang di bantu oleh ibu dengan segala upaya mereka berjuang bersama.Sampai mereka mempunyai usaha yang sekarang ini berdiri.Papa dengan sadar dia sudah punya segalanya berjalannya waktu mereka saling mencintai dan menikah sejak menikah papa mengalihkan sebagian besar hartanya atas nama ibu.Karena dia tahu akan banyak godaan di luar sana sampai musibah ibu datang dan merenggut nyawa ibu.Jadi,ibu dan papa nggak punya salah apapun dengan Tante.Sebaiknya tante cari tahu kebenarannya.Mama..maaf jika aku lancang menceritakan semua ini.Aku bercerita sesuai dengan apa yang mbok Tun sampaikan.Karena mbok Tun adalah saksi hidup perjuangan papa dan ibu." ujar Leka.
Setelah mengatakan hal itu pun tanpa sepatah kata Leka melangkah meninggalkan toilet tersebut.Sedang kedua sahabat itu pun merasa bersalah dengan apa yang mereka lontarkan saat lalu membuat Leka sakit hati karena setidaknya dari kata-kata yang terucap dari mulut Renata dan menyangkut pautkan ibunya dengan masalalu mereka .
Bersambung