
Hardi sudah sampai di Rumah Sakit tempat Leka dirawat.Walupun menurut Leka cuma lecet-lecet saja tapi,bagi Hardi dan Nico dia perlu penanganan yang baik.
Leka menganggap bahwa kelakuan suami dan papanya memang lebai tapi,apa boleh buat menolakpun tak guna.
"Assalamualaikum.." ucap Hardi saat masuk kedalam ruang rawat Leka.
"Wa'alaikumsalam.." jawab kedua orang yang ada di ruangan tersebut.
"Papa kenapa kesini,bukannya istirahat di rumah." ucap Leka setelah menyalami sang papa.
Hardi duduk di kursi dimana tadi Nico duduk dan Nico pun duduk diatas brangkar yang sama dengan Leka duduk bersandar.
"Papa belum lega kalau belum melihat kamu secara langsung.Walaupun suami kamu bilang kamu nggak papa,tapi.. sebagai orang tua tentunya papa ingin memastikan bahwa kamu benar baik-baik saja." ungkap Hardi.
"İya maafin Leka pah,jadi buat papa khawatir." ucap Leka dengan menggenggam tangan sang papa.
"Nggak masalah buat papa sayang,hanya kamu anak papa dan papa sudah pernah menyakiti hati kamu dengan begitu dalam. Papa nggak mau kamu berpikir kalau papa nggak sayang sama kamu nak.." ungkap Hardi.
"İssttt papa ada-ada saja,padtipah Leka tahu.. kalau papa sayang sama Leka." ucap Leka dengan wajah sendu.
"Sudah tugas papa menyayangi anaknya nak,kamu baik-baik saja itu sudah membuat hati papa tenang." ungkap Hardi.
Setelah beberapa saat mereka bicara bertiga akhirnya Hardi pamit untuk pulang kerumah.Bagaimana pun Susi jangan sampai curiga dengan apa yang Hardi sekarang lakukan.
...----------------...
"A_apa kamu bilang,kamu menabrak anak itu ! kamu gil* atau apa sih mas ,aku bilang jangan main-main dengan Hardi dan anaknya,kita bisa gunakan cara lain untuk mendapatkan semua harta Hardi.Tapi, bukan dengan jalan membun*h !!" ucap Susi dengan penuh emosi.
"Hahaha..nggak salah dengar kalau kamu bilang jangan pernah gunakan cara itu,lalu apa yang kamu lakukan sama Jihan istri Hardi hemm? kamu malah tega buat dia tekanan batin dan dengan cara menjijikan pula kamu meracuni hati dan pikirannya.Kamu sudah berlagak jadi selingkuhan Hardi dan emang mereka tahu,apa yang kamu lakukan di balik kedok kebaikanmu itu.Sok-sokan memberikan makan dan minum untuk Jihan dan akhirnya racun itu pun bekerja.Sakit, kecelakaan yang kamu lakukan itu lebih kejam Susi !!"ucap orang yang ada di sebrang sana dengan tersulut amarah yang menggebu-gebu.
"Kamu masih ingat kenapa kamu menginginkan perpisahan kita,bukan karena aku pengangguran saja kan,tapi kamu memang sudah merencanakan untuk kamu merebut Hardi dan mencampakkan aku demi keinginan kamu ,sekarang kamu bisa bilang jangan berurusan dengan Hardi dan anaknya.Kamu ngaco ,bahkan dari awal kamu yang sudah memulainya Susi,ingat itu !!"
Tutttttttttt....
Panggilan telepon itu pun telah terputus.
Ucapan Aris mantan suami Susi membuat Susi mengingat apa yang terjadi sebenarnya itu memang berawal dari sikapnya dan tingkahnya.
Dulu dia teramat sangat mendambakan keluarga yang harmonis dan juga mapan.Namun,keadaannya tak sebahagia yang nampak di depan matanya waktu itu.
Kehidupan Hardi dan Jihan begitu terlihat bahagia dengan karier dan kehidupan yang jauh lebih dari yang dia dapatkan sekarang.
Hardi yang tampan dan Jihan yang baik.Mereka bahagia dengan memiliki putri cantik dan pintar yaitu Leka Ayu Nugraha.Gadis yang ceria dan juga serba kecukupan.
Susi selalu memandang ke atas kehidupan orag lain dan membuatnya menuntut Aris mendapatkan penghasilan yang lebih untuk mencukupi kebutuhan dan membelikan apa yang dia mau.
Saking cinta dan takutnya Aris kehilangan Susi dan terutama putranya semata wayangnya Aris rela melakukan penggelapan dana perusahaan dan mengakibatkan kerugian perusahaan dalan jumlah besar.
Sialnya saat audit pun aksi Aris ketahuan dan langsung di pecat dengan secara tidak hormat dan di blacklist dari perusahaan-perusahaan besar .
Dia pun dituntut untuk mengembalikan uang yang selama ini dia curi dari perusahaan agar tidak masuk bui.
Dengan keadaan frustasi dan kacau dia pun terjebak dalam judi dan juga minuman kera*.Hal itu membuat Susi tersiksa dan melancarkan aksinya pada Jihan dan akhirnya usahanya berhasil Jiha meninggal dan Hardi jadi orang yang hilang arah.
Hanya ada Leka menjadi penghibur Hardi saat itu.Pucuk dicinta ulampun tiba,Susi pun mendekati Leka dengan jalan memberikan perhatian dan Karina pun di ikut sertakan pada aksinya itu.Sampai Hardi memberikan sinyal baik untuk Susi dan setelah itu Susi yang sudah muak dengan kehidupannya yang berantakan dengan suami menjadi pengangguran dan juga penjud* akhirnya dia melayangkan gugatan cerai untuk suamiya.
Awalnya Aris tak terima dengan apa yang di lakukan istrinya itu namun,Susi amatlah tahu kelemahan Aris.Bujukandemi bujukan Susi berhasil terlepas dari hubungan pernikahan dengan Aris dengan satu catatan setiap bulan Susi mengirimkan uang untuk Aris.
Semua berjalan lancar sampai saat Leka di usir dan saat Leka kembali saat ini rasanya posisi Karina sebagai pewaris harta Hardi pun lenyap.
Apalagi saat mendengar kebenaran soal harta yang Hardi punya.Ternyata semua sudah di atas namakan Leka dan Jihan.Hanya saham beberapa persen yang Hardi punya dan masih atas namanya.
...****************...
Hardi sampai di rumahnya dan langsung masuk ke dalam rumah.Terlihat sepi seperti tanpa penghuni.
Saat akan masuk ke dalam kamarnya belum juga dia menekan gagang pintu kamarnya dia mendengar suara seperti orang yang sedang marah-marah dari dalam kamar.Dengan perlahan Hardi menekan handle pintu kamar dan membukanya sedikit.
Terdengar Susi yang sedang menelpon dengan seseorang dan Hardi begitu tercengang dengan apa yang mereka bicarakan.
Dia terpaku mendengar kenyataan soal Susi di masalalu.Mereka sampai membahas almarhumah Jihan di obrolan mereka.
Hardi menghela nafas dalam dan mengontrol emosinya.Apalagi mendengar ucapan si penelpon yang tak lain adalah mantan suami sang İstri.
Tak berapa lama Susi sudah menghentikan obrolannya melalui telpon.
Saat Susi membalikkan tubuhnya dia terkejut mendapati suaminya sudah ada diambang pintu.
"Ma_mas,sejak kapan kamu di situ? aku kok nggak denger kamu udah masuk rumah.Mas,kamu baik-baik saja kan?" tanya Susi berentet.
"Kamu itu kenapa sih mah,kok panik gitu? kamu kenapa pucet gitu mukanya?" tanya Hardi balik dengan nada santai.
Mendengar ucapan Hardi yang seolah tak mendengar ucapan Susi saat menelpon Aris ,Susi merasa sedikit lega karena nyatanya suaminya bersikap biasa saja.
Bersambung