
"Kamu nggak salah kan sayang, maksudnya kamu punya bukti ?" tanya Nico.
"Ada dua nota berbeda dan surat jalan yang juga dengan tanda tangan berbeda." ungkap Leka.
"Coba kamu bawa kesini kita bahas disini."ucap Nico.
Leka mengangguk mengiyakan dan menatap Sri yang masih tertunduk.
"Mba Sri apa yang selama ini mba Sri ketahui soal kecurangan di dalam kantor ini?" tanya Leka
"Saya nggak tahu persis itu kecurangan atau apa namanya bu,saya pernah menemukan banyak kertas yang sepertinya sengaja di buang seseorang." ungkap Sri.
"Bisa kamu tunjukkan Sri?" tanya Bagas.
"Bisa pak,tapi. .saya simpan di loker saya." ucap Sri.
"Kamu bisa ambil dan bawa satu gelas air putih juga kesini biar karyawan lain tidak curiga." ujar Hardi.
Sri pun mengangguk mengiyakan perintah sang boss.Dia langsung melangkah menuju lokernya mengambil sesuatu di sana dan menaruhnya di saku seragamnya.Lalu dia pun mengambul segelas air putih di pantry.
"Lho Sri ,belum istirahat..masih kerja saja?" tanya Fandi yang berpapasan di pintu penghubung pantry.
Sri merasa terkejut dengan kehadiran Fandi yang berpapasan dengannya.
"Iya pak,saya di minta Bu Leka bawa air buat pak Hardi keruangannya." ungkap Sri dengan nada di buat sesantai mungkin walaupun dalam hatinya pun deg degan saat bertemu dengan Fandi .
"Kamu sudah makan,saya pesankan Online mau?" tawar Fandi.
"Nggak usah pak, kebetulan saya sudah dibelikan nasi Padang." jawab Sri jujur.
"Maaf pak saya harus ke ruangan pak Hardi,permisi."pamit Sri buru-buru pergi meninggalkan tempat itu.
Sampai di ruangan Hardi,Sri memberikan kertas yang dia bawa di dalam sakunya dan menyerahkannya pada Leka.
Leka melihat kertas itu dan membulatkan matanya.
"Dimana kamu mendapatkan kertas-kertas ini mba?" tanya Leka menanyakannya dengan rasa penasaran.
" Di tempat sampah di ruangan Pak Fandi mba." ucap Sri jujur.
"Ini tanggalnya sudah dari tahun lalu pah,dan benar-benar dia melakukan tindakan korupsi.Aku juga harus menyelidiki orang yang bekerjasama dengan dia pah." ucap Leka.
"Seseorang,jadi dia bekerja tidak sendiri?" tanya Hardi .
"Hemmm...dia orang lama di kantor ini dan dia tahu kebiasaan papa dengan teliti." ungkap Leka.
"Siapa dia nak,jangan buat papa penasaran.Kalau papa dapat buktinya dan pastinya papa tak akan tinggal diam.Papa akan membuat dirinya mendekam di penjara." ungkap Hardi dengan perasaan geram.
"Papa yakin,kalau seandainya yang berbuat semua ini ada hubungannya dengan Tante Susi gimana?" tanya Leka memandang sang papa.
Hardi langsung melihat kearah Leka.Dia menarik nafas dalam-dalam lalu dia hembuskan perlahan."Apa kamu punya bukti kalau Susi terlibat.Jangan karena kamu benci dia,semua kamu tumpahkan padanya."ujar Hardi menatap sang putri.
"Apa bagi papa Leka akan berbuat sepucik itu,apa Leka seburuk itu pah?"tanya Leka dengan wajah penuh kekecewaan.
"Sayang..." tegur Nico mengusap punggung tangan Leka.
"Tapi memang benar Nic,papa selalu membela tante Susi.Aku cuma ingin menyelamatkan perusahaan ini.Perusahaan yang sudah susah payah ibu dirikan.Aku nggak mau jerih payahnya di hancurkan oleh orang yang tamak harta !" ucap Leka beranjak dari tempat duduknya dan dia pun berlalu ke kamar kecil tempat pribadi Hardi yang ada di ruangan itu juga.
Hardi menatap penuh kecewa di mata putri semata wayangnya.Bukan maksud Hardi membela istrinya namun,dia harus punya bukti kuat untuk menyeret orang-orang yang bermain di belakangnya.
"Biar Nico bicara dengan Leka pah,dia cuma takut akan kehilangan kasih sayang papa lagi.Dia sudah terlalu lama sendiri." ucap Nico dan langsung beranjak pergi menyusul Leka dan kedua buah hati mereka yang sedang terbaring di dalam kamar itu.
Hardi mendengar penuturan calon menantunya tentu saja langsung mengena di hatinya.Dia pun meruntuki kebodohannya yang sudah sering menyakiti hati putrinya tanpa dia sadari.
"Baik pak." ucap Sri
"Baiklah Har." jawab Bagas.
Keduanya pun akhirnya pamit untuk meneruskan pekerjaan mereka.
Sementara di kamar kecil yang ada di dalam ruangan Hardi.Nico melihat sosok Leka yang menangis dalam diam.
"Sayang ,heiii..look at me please?!"
Ucap Nico menarik lengan Leka dan membalikan tubuh Leka menghadapnya.
Nico memegang dagu Leka dan menaikkan dagu itu sampai tatapan keduanya sama-sama bertemu.
"Aku tahu kamu sedih,tapi..lihatlah ! kamu tak sendirian.Ada aku dan anak-anak kita."ucap Nico dengan nada yang terdengar lembut.
"Papa nggak sayang sama aku Nic,dia lebih membela wanita licik itu." ucap Leka dengan mata yang sudah berkaca-kaca
"Ssstttt ..no,papa sayang sama kamu.Dia hanya ingin bukti yang kuat untuk membuat Susi menerima hukumannya." ucap Nico.
Nico membawa Leka dalam pelukannya dan mencium pucuk kepala Leka bertubi-tubi.
"Sayang,apa sebaiknya kita menikah secepatnya? aku ingin selalu disisihmu dan aku nggak ingin kamu sedih lagi.Aku ingin melihat senyum kedua anak kita setiap hari." ungkap Nico.
Mendengar perkataan Nico,Leka pun mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan ayah biologis dua anaknya.
"Kamu nggak sabaran banget sih Nic,kita kan perlu mempersiapkan semuanya dengan matang.Aku ingin kamu memantapkan hati kamu untuk bersamaku." ucap Leka dengan merenggangkan pelukannya.
"Kita nikah di KUA dulu,baru nanti kita adakan resepsi.Aku ingin kamu tidak tertekan lagi sayang.Anak-anak juga butuh aku." ucap Nico menangkup kedua pipi Leka dan menatap wajah itu dengan intens.
"Apa kamu yakin?" tanya Leka memastikan.
"Yakin, seyakin-yakinnya." jawab Nico mantap.
"Kita bahas sama papa juga kedua orang tuamu gimana baiknya." ucap Leka.
"Tapi, kalau niat kamu hanya untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kamu di masa lalu,aku rasa..
"No,aku mencintaimu.Sangat mencintaimu Leka Ayu Nugraha !" potong Nico dengan memeluk Leka erat.
Tiga hari berlalu dan kini Leka dengan papa Hardi dan dua anak Leka berada di mansion keluarga Pradipta.Disana sudah ada seorang penghulu dan juga para keluarga inti dari keluarga Pradipta.
Pernikahan sederhana akan segera di langsungkan.
"Leka !" panggil seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar yang ada di mansion Pradipta.
"Wu_Wulan !" pekik Leka melihat sosok sahabat lamanya disana.
Kedua sahabat itu pun akhirnya saling berpelukan dan menangis bersama.
"Maafin gue Le,gue bukan sahabat yang baik buat lo..hiks hiks.." ucap Wulan dengan tangisan haru.
"Sudahlah Wulan,gue nggak papa.Gue sudah ikhlas dan Alhamdulillah gue bisa kuat karena si kembar." ucap Leka pada Wulan.
Wulan mendengar anak Leka kembar lantas langsung melerai pelukan mereka.
"Anak Lo kembar,wahhh..pasti seru !" ucap Wulan dengan berubah mood.
Leka geleng-geleng kepala melihat reaksi sahabatnya itu.Pastinya begitu random jika mereka sudah berdua.
Bersambung