
"Aku akan membawa kedua orang tuaku untuk menemui papa mu." ucap Nico pada Leka.
"Maksudnya kamu?" tanya Leka dengan memicingkan matanya.
"Aku akan melamar kamu.Papa dan mama juga akan memberikan restu pada kita.Aku yakin papa kamu pun akan memberikan restu pada kita juga." ungkap Nico.
"Entahlah,aku juga nggak tahu kalau papa juga akan murka seperti ini.Apa kamu yakin akan membawa orang tua kamu untuk melamar ku ,bagaimana nanti kalau sikap papa akan lebih murka dari pada saat ini."
"Nggak akan,aku janji sama kamu aku tidak akan menyerah." ucap Nico.
"Lalu wanita itu?'
Nico tersenyum miring mendengar pertanyaan Leka dan mengelus lembut rambut wanita yang sudah melahirkan buah hatinya.
"Aku nggak ada hubungan apapun dengan Vallen.Dia hanya sekedar rekan bisnis.Lagi pula semua sudah di handle oleh Ricard.Aku sudah tidak lagi di kantor cabang." ungkap Nico.
"Ricard dan Maya sudah pulang dari Amerika?" tanya Leka
"Sudah ,kebetulan memang urusan disana sudah selesai.Percaya sama aku ..papa kamu akan merestui hubungan kita.Maaf jika selama ini menyusahkan hidup kamu,aku pun berterimakasih sudah sudi melahirkan dua buah hati yang lucu-lucu." ucap Nico mengingat dua anak kembarnya yang sungguh membuat gemas.
****************
Pagi hari dua anak kembar Leka sedang bermain di halaman dengan kebisingan yang mereka ciptakan.
Tak jauh dari mereka ada Hardi yang sedang menikmati kopi buatan Leka dan membaca koran langganan sambil melihat cucu-cucunya bermain di pagi hari.
Sementara Leka sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anaknya dan sang papa.Untuk Susi dan Karina belum juga terlihat batang hidungnya semenjak tadi.
"Abang,lempar bola nya ke adek.." ucap Aura penuh semangat.
"Kamu yakin mau main bola sama Abang?" tanya Elang dengan senyuman mengejek.
"Kakek,bantuin Aura lawan Abang main bola !!" teriak Aura pada Hardi yang sedang duduk di teras dengan koran di tangannya.
"Kok kamu minta tolong kakek,curang !" ucap Elang membuat Aura mendengus kesal karena di bilang curang oleh Elang.
"Aura nggak curang, Abang aja ceme* kenapa lawan anak perempuan.." ucap Aura tak mau kalah.
"Ada apa sih ,kok cucu-cucu kakek malah berantem gini?" tanya Hardi mendekat ke arah si kembar.
"Abang nih ,Aura di bilang curang..padahal Abang yang rese,masa ceme* maunya main bola sama Aura." adu Aura dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya.
Belum juga Elang melakukan pembelaan.Terlihat sebuah mobil berhenti di pekarangan rumah Hardi.
Tak lama terlihat Nico menuruni mobil mewah itu membuat Aura tersenyum lebar.
"Daddy..!!" teriak Aura yang langsung berlari menuju Nico yang masih menutup pintu mobil.
Namun sayang, langkah Aura yang berlari cepat tiba-tiba kakinya tersandung kakinya sendiri. Akibatnya Aura pun terjatuh
Bugh ...💢
"Aura !!" teriak semuanya yang melihat Aura yang terjatuh tersungkur ke tanah.
"Huaaaaa.. daddy !!" tangis Aura pecah karena merasakan sakit di kaki dan tangannya.
"Astaghfirullahal'adzim Aura ..!" seru Nico yang langsung lari menuju putrinya yang sedang berusaha di tenangkan sang kakek.
"Cup..cup..cup..sayang,sini sama kakek.Biar kakek obati yaa.." pinta Hardi dengan berusaha menggendong sang cucu.
"Daddy...hiks hiks..kaki Aura sakit,dad ." ucap Aura yang menyodorkan tangannya ke arah Nico yang baru sampai di depannya.
"Ya Allah anak daddy kenapa?" tanya Nico langsung meraih tubuh kecil Aura dan sembari meniup tangan Aura yang lecet.
"Sakit dad,huaaaaa."adu Aura dengan menangis kencang dan bersandar di dada bidang Nico dengan kedua tangan nya memeluk leher Nico.
"Ssstttt..jangan nangis sweety,kita obati yaa.."ucap Nico tanpa ragu dan sungkan untuk membawa putrinya masuk dengan Elang di sampingnya mereka masuk ke dalam rumah Hardi dan duduk di sofa ruang tamu.
Mendengar suara tangisan putrinya Leka yang sedang ada di dapur langsung berlari ke ruang tamu dan melihat Nico yang sedang memangku putrinya yang menangis.
"Lho,ada apa ini..?" tanya Leka bingung.
Leka pun melihat ke arah putrinya yang sedang di tenangkan Nico dengan menutup-nutupi luka di tangan Aura.
"Ini kenapa?" tanya Leka langsung duduk di samping Nico.
"Aura jatuh Bun,maafin Abang nggak bisa jaga adek." ucap Elang dengan wajah sedih lalu menunduk.
Nico dan Leka saling pandang dan Leka pun duduk di samping Elang dan memeluk putranya yang merasa bersalah.
"Ini bukan salah Abang kok,adek memang lagi aktif terus nggak hati-hati jadi jatuh deh.." ucap Leka dengan mengusap punggung putranya yang sudah mulai terisak karena merasa bersalah.
"Sudah abang, Daddy ,bunda nggak salahin Abang kok,iya kan adek?"
Nico mencoba memberikan pengertian pada putranya supaya tidak merasa bersalah.
"Sebentar,bunda ambil obat dulu yaa..nanti Abang bantuin Daddy obati luka adek." ucap Leka membujuk putranya.
Mendengar kata-kata bundanya Elang pun mengangguk sambil menghapus air matanya yang tadi sempat meleleh.
Dengan segera Leka mengambil kotak obat untuk pertolongan pertama.
Semua yang di lakukan Nico pada Aura dan juga Elang terekam jelas dalam pandangan Hardi.
Dia melihat sosok Nico yang terlihat tulus menyayangi kedua cucunya dan kedekatan di kembar dengan ayah biologisnya itu, begitu dekat.
Hardi memang mengakui bahwa kedua cucunya membutuhkan sosok laki-laki yang notabenenya adalah ayah kandung mereka.
Drrrrrttt Drrrttt
Suara panggilan ponsel Hardi tiba-tiba berdering membuat Hardi tersadar dari lamunannya.
📞Bagas Calling...
"Bagas." gumam Hardi.
"Hallo,Gas..gimana?" tanya Hardi to the point.
"Hasilnya sudah keluar ,saya antar kerumah atau bagaimana?" tanya Bagas dari seberang sana.
"Nanti malam kita ketemu di Restaurant Flamboyan,aku tunggu di sana sekalian aku mau undang seseorang untuk makan malam.Tolong kamu reservasi disana untuk sepuluh orang." ucap Hardi pada asisten nya itu.
"Baik tuan,adalagi yang harus saya lakukan?" tanya Bagas.
"Belum ada , terimakasih Gas.." ucap Hardi dan mengakhiri panggilan telepon itu.
Hardi menghela nafas dalam dan melangkah mendekati cucu-cucunya juga putrinya.
"Waahhh..cucu kakek,kakinya sudah sembuh?" tanya Hardi saat mendekat pada mereka dan ikut duduk di seberang mereka.
"Sudah nggak dong kek,kan sudah di obati Daddy." jawab Aura dengan senyuman manisnya.
"Alhamdulillah..." ucap Hardi.
"Nanti malam ,datang ke restaurant Flamboyan jam delapan malam,bawa orang tua mu jika benar kamu menginginkan anak dan cucu-cucu saya." ucap Hardi lagi dengan langsung pergi dari tempat itu.
Mendengar ucapan Hardi,Leka dan Nico saling pandang dan saling melempar tersenyum manisnya.
Bersambung