
"A-apa maksud anda bu, saya benar-benar nggak tahu."ujar Fandi.
"Oh ya,saya nggak akan menuntut anda bicara jujur dengan saya namun,saya pastikan anda akan jujur pada orang yang sebentar lagi datang." ujar Leka dengan wajah penuh dengan tatapan mata yang terlihat mengintimidasi.
Tok tok tok
Tak perlu lama-lama ketukan pintu ruangan Leka mengalihkan perhatian ketiga orang yang ada di ruangan Leka.
"Mba Sri tolong buka pintunya,mba boleh pergi." ujar Leka dengan nada tegas.
Ceklek
Sri membuka pintu ruangan Leka dan menempatkan beberapa orang berseragam dinas di ambang pintu ruangan tersebut.
"Selamat siang nona Leka ." sapa salah satu orang dengan tubuh proposional dan dengam seragam ke banggaannya.
"Selamat siang Letnan Adi,silahkan masuk." ucap Leka menyapa para tamunya dengan ramah.
"Polisi."gumam Fandi dalam diamnya dia mulai cemas dengan keadaan dirinya.
"Baik nona,laporan anda beberapa hari lalu sedang kami proses dan kami membawa surat penangkapan saudara Fandi." ujar seorang polisi yang di sapa letnan Adi.
"Silahkan pak,ini pak Fandinya." terang Leka menunjuk ke arah Fandi yang masih berdiri.
Fandi mendongakkan kepalanya menatap orang yang ada di ruangan itu.
"Apa maksud anda bu Leka,anda bisa jelaskan?" tanya Fandi.
"Kami melaporkan anda dengan semua barang bukti yang kami punya atas penyelewengan dana dari beberapa tahun lalu."tefang Leka.
"A-anda salah Bu Leka ,ini semua fitnah pak polisi.Saya tidak menggelapkan dana apapun di perusahaan ini."ucap Ferdi dengan nada tinggi.
"Lebih baik anda katakan semuanya di kantor, silahkan ikut kami.Kalau tidak mau dengan paksaan tolong bersikap komperatif.Kerja sama dengan kami,jika anda tidak salah jangan pernah takut dan pastinya tidak akan sampai anda masuk penjara." ujar salah satu polisi pada Fandi sambil melihat gerak gerik Fandi.
"Benar-benar ini tuduhan keji,saya akan tuntut balik perusahaan ini !" ucapnya dengan wajah merah padam.
"Silahkan pak Fandi, silahkan apapun anda berhak melakukan pembelaan dan itu hak anda.Silahkan pak polisi." ucap Leka memberikan akses pada para polisi untuk membawa pergi Fandi.
Mau tak mau borgol sudah melingkar di pergelangan tangan Fandi pun tidak bisa melawan dengan beberapa polisi berpakaian preman yang mengikuti dirinya.
Banyak pasang mata yang melihat penangkapan Fandi.Mereka pun bingung atas penangkapan Fandi dengan dua orang yang menjadi suruhan Fandi di kantor tersebut.
Banyak orang bisik-bisik melihat penangkapan itu.Apalagi melihat sosok Leka yang terlihat sangat terlihat berbeda dengan Leka yang biasa mereka lihat santai namun,saat ini mereka melihat Leka yang terlihat serius penuh dengan tatapan intimidasi.
Tak lama mobil polisi yang membawa Fandi pergi meninggalkan area perumahan Nugraha datanglah mobil mewah dengan penumpang yang terlihat mempesona dengan wajah blesteran nya membuat para karyawan yang tadi sempat melihat proses penangkapan Fandi melihat penuh kagum pada sosok yang tak lain Nicolas Pradipta.
"Ehh..itu bukannya Nicolas Pradipta anak dari Gilang Pradipta?"
"Iya tuh, ngapain disini.Dia kan orang paling kaku plus dingin.
"Wah lihat dia senyum...aaaa..manis bangettt !!"
"Gantengan aslinya sumpah..!!"
"Ternyata cakepan aslinya dari gambarnya di majalah."
Nico tak menghiraukan ucapan-ucapan yang di layangkan para karyawan yang ada di lobby kantor mertuanya.
Nico melihat sosok istrinya yang sedang berdiri dengan berkacak pinggang menatap wajah Nico dengan garang.
"Sayanggg..!!" pekik Nico membuat para karyawan yang sedari tadi melihat ekspresi dingin plus datar berubah seketika saat melangkah ke arah di mana Leka sedang berdiri.
Nico merentangkan kedua tangannya di depan Leka.Wajah garang yanb sempat tercetak dalam sosok Leka,berubah seketika dengan senyuman manisnya dengan setali tiga uang Leka pun menghambur memeluk tubuh kekar suaminya.
"Sorry,udah selesai semuanya? kalau sudah, kita berangkat sekarang." ucap Nico dengan memeluk pinggang istrinya.
"Yuk,aku sudah kangen sama bayi panda kita." timpal Leka dengan suara yang terdengar manja.
"Aduhh,jadi gemes banget sih.." ucap Nico dengan mencubit gemas pipi istrinya.
Keduanya pun tertawa karena tidak tahan melihat ekspresi orang-orang yang melihat mereka seperti kebingungan meluhat tingkah Keduanya.
Mereka dengan santai melangkah keluar dari kantor Nugraha dan menuju ke sebuah tempat makan tempat mereka mengadakan janji makan siang dengan Hardi,si kembar serta kedua orang tua Nico.
...****************...
Di tempat lain dimana Susi berada dia yang tidak terima dengan apa yang terjadi pada dirinya dia melakukan mogok makan.Terhitung sedari Hardi mengatakan bahwa dirinya sudah di ceraikan Hardi dia merasa frustasi.
Apalagi Hardi melayangkan beberapa tuntutan untuk dirinya.Dia bisa kena pasal berlapis.
"Hehh...makan nih,jangan sampai lo sakit terus nyusahin kita-kita !" teiak salah satu tahanan yang satu sel dengan Susi.
Susi tak merespon teriakan itu.Malah Susi terkesan masa bod*h.
Dia menatap surat cerai yang dia pegang.Rasanya dia ingin mengulang semua yang terjadi padanya dan memperbaiki keadaan.
Seandainya dulu dia tak serakah dan iri dengan kebahagiaan Jihan tentunya dia mungkin sedang berjuang dengan Aris.
Dia mengingat kembali memori dirinya dengan Jihan.
"Minum obat ini,kata kamu pusing kan?" ucap Susi pada Jihan dengan menyodorkan sebuah obat pada Jihan.
"Ini obat apa Sus,rasanya badanku lemas nggak ada tenaga." ujar Jihan dengan wajah yang sudah mulai memucat.
"Tapi,kamu selalu minum teh yang aku berikan kan,itu teh herbal bagus untuk kesehatan kamu yang sangat kegiatannya sangat padat." ujar Susi dengan wajah terlihat khawatir.
"Aku minum teh itu,tapi..kenapa aku rasa sehabis minum teh itu rasanya mager yah Sus..kamu yakin itu teh herbal buat stamina dan kesehatan?" tanya Jihan memandang Susi dengan pandangan mata sayu.
"Aku yakin kok,itu aku beli di toko yang sangat terkenal.Dia sedia banyak obat herbal dan juga olahan dari tumbuhan untuk di jadikan sebagai obat."terang Susi.
Tak lama setelah mereka bicara santai datang seseorang dengan kacamata tebalnya ke ruangan Jihan.Susi mengernyitkan dahinya melihat tamu Jihan kali ini.
Karena Jihan menyuruh dirinya untuk keluar dari ruangan itu dengan terpaksa menuruti perintah Jihan.
Tak lama dari Kepulangan orang yang menemui Jihan tiba-tiba Jihan menghampiri Susi yang sedang sibuk di meja kerjanya.
"Ji...
Plak..
Tamparan keras mendarat di pipi Susi .Jihan menatap nyalang kearah Susi.
"Kamu keterlaluan Susi,kamu mau mencoba memb*nuhku hahh?!!" teriak Jihan dengan menunjuk ke arah Susi dengan amarah yang menggebu-gebu.
"A_apa maksud kamu Jihan,aku nggak..
"Jangan bohong,kamu memberikan teh yang kamu bilang itu teh kesehatan dan nyatanya itu adalah racun yang selama ini kamu berikan padaku.Apa maksud kamu Susi , beraninya kamu main-main sama aku , hahhh!!"
"Aku iri dengan mu,kamu begitu di puja oleh Hardi dan mempunyai banyak uang dan keluarga yang bahagia.Aku nggak rela kamu bahagia Jihan!!" pekik Susi yang sudah kepalang tanggung.
"Dasar, pembu*uh ,pembun*h kamu Susi !!"
"Tidak,Tidak..bukan aku,bukan,aku bukan pembun*h.. JANGANNN !!"
Bersambung