BENIH TARUHAN

BENIH TARUHAN
#Mulai Bekerja


Senyuman miring terbit dari sudut bibir Leka.


"Kamu salah cari lawan Susi,lihat saja nanti,akan aku kembalikan segala kesakitan ku beberapa tahun aku harus hidup tanpa kasih sayang papa ku." gumam Leka memandang wajah pucat Susi yang bolak balik ke kamar mandi.


"Mama kenapa,mama sakit?"tanya Karina pada sang mama dengan perasaan cemas.


Sementara papa sambungnya teihat santai tanpa menanyakan apakah mamanya baik-baik saja.


"Pa,kayaknya mama salah makan deh."ucap Karina membuat Hardi menatap anak sambungnya itu dengan istrinya yang sedang susah payah menahan rasa sakit di perutnya.


"Salah makan,bukannya mama makan makanan yang sama yang seperti kita makan, kita nggak ada apa-apa.Atau mungkin karena obat diet kamu kali." ucap Hardi dengan tetap santai.


"Nggak tahu pah,biasanya mama minum obat diet pun selama ini nggak ada masalah.Apa ada yang sudah mah jahat sama mama pah," ucap Susi dengan melirik kearah Leka.


"Maksudnya apa,kamu nuduh Yuni buat kamu kayak gini,atau jangan-jangan kamu nuduh anak saya buat kamu kayak gini.Sedari tadi kita lihat Leka baru saja keluar dari kamarnya dan langsung duduk di sini.Mana mungkin dia mencelakakan kamu." ucap Hardi terlihat tak suka dengan ucapan Susi.


"Bu_ ah...."


Susi tak mampu meneruskan kembali ucapannya .Dia langsung berlari menuju kamar mandi.


Sedangkan Leka melihat kejadian itupun mengulum senyum. Dalam hati dia mengumpat habis Susi.


Dirasa sudah selesai dengan sarapan mereka,tanpa harus menunggu Susi untuk kembali ke ruang makan.Hardi mengajak Leka dan dua cucunya untuk segera berangkat.


"Papa nggak tungguin mama pah?" tanya Kerina pada Hardi.


"Tolong kamu kasih tahu mama kamu kalau papa sama kakak kamu berangkat duluan.Kalau perlu kamu antar mama ke Rumah Sakit ." ucap Hardi menyusul putri dan cucu-cucu nya yang sudah menunggu di luar.


...****************...


"Lho,dimana orang-orang ini.Kok sudah nggak ada?" tanya Susi saat kembali ke ruang makan ternyata sudah tak ada orang disana.Hanya ada Yuni yang sedang sibuk merapikan meja makan.


"Semuanya sudah berangkat nyonya.Habisnya nunggu nyonya keluar lagi kan lama," ucap Yuni membawa piring-piring kotor ke dapur.


"Ehh...Yun,kamu jujur sama saya. Kamu beneran sudah kasih apa yang seperti saya perintahkan?"tanya Susi dengan tatapan mengintimidasi.


Yuni yang mendapatkan pertanyaan tersebut pun sedikit panik.Namun, secepat mungkin dia sudah merubah mimik wajahnya sebisa mungkin.


"Sudah nyonya,sudah saya kasih..bahkan saya kasih bonus.Memangnya kenapa nyah,apa ada sesuatu...


Belum juga Yuni menanyakan lebih lanjut, tiba-tiba Susi langsung berlari terbirit-birit ke kamarnya setelah merasakan mules tak tertahankan.


Semantara Yuni yang melihat kejadian itu pun akhirnya tertawa terbahak-bahak namun,dengan cepat dia membekap mulutnya supaya tak terdengar suara tawanya itu.


"Sayang,coba jujur sama papa..apa yang kamu lakukan pada Susi,hemm," ucap Hardi membuat Leka melotot mendengar ucapan papanya.


"Maksudnya apa pah,Leka nggak ngerti ." ucap Leka seolah tak tahu arti dari pertanyaan papanya.


"Nggak usah pura-pura kamu,siapa lagi yang buat Susi kocar-kacir ,bolak balik ke toilet kalau bukan anak papa yang iseng ini..hemm,ayo ngaku." desak Hardi pada sang putri dengan mencubit gemas pipi putrinya.


Rasa bahagia di hati keduanya sama-sama merasakan hal kecil yang lama sekali tidak pernah dilakukan Hardi pada putrinya.


"Iiihhh..papa,sakit." ringis Leka dengan bibir mengerucut,wajah di tekuk tangannya sibuk mengusap pipinya karena cubitan gemas papanya.


"Habisnya papa gemas sama kamu, papa sudah lama nggak pernah lihat kenakalan kamu." ucap Hardi dengan mengelus kepala putrinya itu.


"Iya,karena papa terlalu sibuk dengan kebahagiaan papa sendiri.Sementara aku berhasil mereka singkirkan." ucap Leka dengan membuang pandangannya ke arah luar.


"Maafkan papa sayang,maafkan papa yang terlalu lama tenggelam dalam kasih sayang yang semu.Papa mengira Susi tulus menyayangi kamu sebagai putrinya sama seperti papa juga menyayangi Karina." ucap Hardi dengan wajah penuh sesal.


"Sudahlah pah,sekarang papa tahu kebusukan wanita itu.Memanglah Leka waktu masih sekolah hanya anak bod*h yang hanya bisa menerima perlakuan tante Susi yang semena-mena.Tapi, aku saat ini jadi seorang ibu dan juga seorang anak dari laki-laki yang menjadi korban kelicikan wanita itu.Leka nggak pernah rela kalau papa tersakiti.Leka sayang sama papa, walaupun Leka pernah kecewa dengan sikap papa dulu.Pa,maaf buat aku yang sudah berani buat tante Susi bolak-balik kamar mandi pagi ini.Leka punya alasan kenapa Leka berbuat itu padanya." ungkap Leka pada sang papa.


"Apa yang di perbuat wanita licik itu sayang?" tanya Hardi penuh rasa penasaran.


"Semalam aku sudah curiga kalau Susi sudah mulai waspada sama kita pah.Sepertinya dia mulai curiga sama aku,juga papa.Karena kesehatan papa sekarang baik-buruk saja.Apalagi dia tidak pernah absen memberikan obat itu pada minuman papa.Jadi,aku langsung kasih tahu Bik Yuni apa yang sebenarnya terjadi.Dia kaget pah,nggak nyangka juga akhirnya aku kasih obat pencahar itu pada Bik Yuni buat jaga-jaga kalau Susi mau berniat jelek lagi sama kita.Benar saja, pagi-pagi sekali dia memastikan kalau obat yang harus di kasih ke papa benar-benar baik Yuni kasih,tambah lagi dia meminta agar minuman aku pun di teteskan cairan itu." ungkap Leka


"Biada*!!" umpat Hardi mendengar kebenaran dari sang putri.


"Tenanglah pah,obat yang harus di kasih ke kita sudah aku tukar dengan air biasa.Kebetulan cairan di botol yang Susi berikan warnanya pun bening jadi,dia nggak akan curiga." terang Leka.


"Kami yakin sayang,lalu baunya?" tanya Hardi


"Sudah perfect pokoknya pah.Papa tenang saja.Kenapa papa nggak langsung ceraikan dia saja sih.." ucap Leka menatap papanya memprotes tindakan papanya yang belum juga menceraikan Susi.


"Sabar nak,papa sedang menyelidiki siapa yang bermain di belakang dia.Papa rasa ada orang lain yang bekerja sama dengan dia buat mencelakakan papa." ucap Hardi.


Leka mengangguk anggukan kepala nya dan dia sekarang mengerti kalaulah papanya sudah mulai bergerak untuk menyelidiki semuanya.


Sampai di kantor Hardi,Leka berjalan di samping sang papa.


Hardi pun langsung menggandeng tangan putrinya masuk ke dalam Lobby kantor.


Semua mata tertuju pada anak dan bapak itu. Mereka melihat penuh tanda tanya sosok wanita cantik di samping Hardi.


Bersambung