BENIH TARUHAN

BENIH TARUHAN
#Makan Malam


Keesokan harinya seperti kesepakatan Hardi akan melakukan makan malam dengan keluarga Nico di restaurant Flamboyan.


"Kakek,ayoo !!" seru Aura meloncat loncat senang di depan Hardi.


"Sebentar ya sayang, kita tunggu aunty Karina sama Oma Susi." ujar Leka tetap berusaha hormat dengan Susi di depan dua anaknya.


"Kenapa mereka harus ikut,aku ingin ketemu Daddy ,cepat !" ucap Aura dengan polosnya.


"Mah ,cepat kamu mau ikut nggak sih.Kalau lima menit kamu belum keluar dari kamar,kita tinggal."teriak Hardi di depan pintu kamarnya.


Ceklek.


Pintu kamar Hardi terbuka menampakkan Susi dengan wajah ditekuk.


"Kenapa kalian buru-buru gitu sih,baru juga jam berapa,buat orang nggak tenang saja." omel Susi.


"Kita ada keperluan lain di restaurant itu juga ,bukan hanya sekedar makan malam." jawab Hardi dengan nada kesal.


"Sudahlah ,mana Karina..dia mau ikut nggak sih,"pungkas Hardi.


Belum juga menjawab pertanyaan Hardi ,Karina muncul yang sedang turun dari lantai dua.


"Aunty lama banget sih,Aura pengen banget ketemu Daddy nih.." omel Aura dengan berkacak pinggang menatap Karina kesal.


"Yeee..anak kecil,kamu sih enak cuma pake baju ,terus kasih cepit rambut sudah kelar.Aunty kan harus...


"Stop aunty,kita pergi.." potong Elang langsung menggandeng tangan sang adik untuk menuju pintu keluar.


Hardi dan Leka saling pandang dan tersenyum melihat tingkah si kembar.


Sementara Karina sangat kesal dengan tingkah kedua anak Leka itu.


...----------------...


Sampai di restaurant mereka menuju ruang VIP yang sudah mereka reservasi untuk acara makan malam kali ini.


Keluarga Hardi sudah duduk di kursi mereka masing-masing sampai saat dimana pintu ruangan itu terbuka dan menampakkan sosok Nico yang melangkah masuk.


"Selamat malam,maaf kami terlambat ,"ucap Nico dengan wajah bersalah dan masuk kedalam ruangan itu.


"Daddy..!!" seru kedua anaknya langsung menghampiri Nico dan meraih tangan Nico dan mencium dengan takzim.


"Haii sayang-sayang nya Daddy.." ucap Nico dengan mengecup kening Aura dan mengacak rambut si Elang membuat Elang kesal karena rambutnya jadi berantakan.


"Daddy, rambut Elang jadi rusak kan !" protes Elang dengan wajah cemberutnya dan membenahi rambutnya yang sedikit berantakan.


"Sudahlah ayo , kebetulan kami pun beru sampai, silahkan.." ucap Hardi pada Nico.


"Terima kasih om, sebentar..mama sama papa saya terlambat karena mereka baru pulang dari Singapura." ujar Nico.


"Owhh.. it's Okey." jawab Hardi.


Sementara Leka masih terlihat diam dan tidak mengucapkan kata-kata sedikitpun.


Nico pun menghampiri Susi dengan mencium tangan sebagai tanda hormat pada Susi yang sekarang menjadi istri dari Hardi dan untuk Karina yang sudah tersenyum manis pada kakak kelasnya itu namun,respon Nico tak sesuai ekspektasi Karina karena Nico memasang wajah datarnya pada Karina.


Reaksi Karina tidak terlepas dari pandangan Leka.Wanita itu tersenyum tipis melihat tingkah saudara tirinya yang sudah pasti tebar pesona di depan Nico namun,sama sekali tidak Nico hiraukan.


Sesaat mereka menoleh ke arah pintu ruangan yang terbuka dan menampakkan dua orang yang membuat Hardi mengernyitkan dahinya.


"Gilang !" seru Hardi dengan senyuman hangat nya dan beranjak dari tempat duduknya menghampiri Gilang papa Nico yang datang dengan sang istri.


"Hardi !" seru Gilang saat masuk kedalam ruangan itu terlihat sahabat lamanya dan merentangkan kedua tangannya.


Kedua orang paruh baya itu pun saling berpelukan diiringi tawa yang menggema di ruangan itu.


"Opa,Oma !!" panggil si kembar pada kedua orang tua Nico.


"Heii..cucu Oma,sama Opa..!" pekik Marina melihat sosok kembar cucunya dan memeluk kedua bocah itu.


Leka dan Nico pun saling pandang dengan pemandangan itu,merasa ada sesuatu antara mereka di masalalu.


"Marina apa kabar?" tanya Hardi pada mama dari Nico.


"Alhamdulillah mas Hardi,jadi..Leka itu anak kamu dengan Jihan?"tanya Marina pada Hardi.


"Iya,Leka anak satu-satunya dari pernikahan ku dengan Jihan." jawab Hardi dengan memandang sejenak untuk memandang wajah Leka yang memang seiras dengan sang ibu.


"Masyaallah, saat aku bertemu Leka..aku seperti bertemu dengan Jihan sahabatku waktu muda." ujar Marina memeluk Leka.


"Jadi papa sama orang tua Nico sudah saling kenal?" tanya Leka yang berdiri di samping Hardi.


"Iya ,kami saling kenal.Mama ini adalah sahabat ibu kamu Jihan.Kita kuliah di universitas yang sama dan kelas yang sama."ungkap Marina.


"Aku nggak nyangka kalau kalian lah orang tua laki-laki baji*gan ini !" ucap Hardi dengan menatap tajam kearah Nico.


Mendengar ucapan Hardi,Marina dan Gilang saling pandang dan tersenyum kecut karena tidak menyangka jika wanita yang anaknya sakiti adalah anak dari sahabat mereka sendiri.


"Untuk semua itu,apapun yang terjadi di masalalu kita dan anak-anak kita aku ingin minta maaf Har, semua ini juga karena kelalaian kami sebagai orang tua."ucap Gilang pada sahabatnya itu dengan wajah penuh sesal.


"Benar mas,semua itu tidak lepas dari kesalahan kami juga.Kami terlalu sibuk mengejar dunia sampai-sampai kami tidak tahu kalau anak kami sudah melakukan kesalahan selama beberapa tahun ini dan lebih fatalnya sudah tidak bertanggung jawab dengan kedua buah hatinya.Kami sangat menyesal dan mohon maafmu mas ." ucap Marina dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Sudahlah, aku pun tak bisa memutar kembali apa yang terjadi dulu.Aku pun salah disini..aku terlalu sibuk dengan kerja dan mengabaikan kepentingan dan aku juga sudah abai dengan anak kesayangan ku ini." ucap Hardi dengan merangkul bahu putrinya dan mencium pucuk kepala putrinya.


Eheemm..


Deheman seseorang membuat mereka mengalihkan pandangannya ke arah dimana Susi yang sedang duduk di samping Karina.


"Oh iya Gilang,Marina,kenalkan ini istriku Susi dan juga Karina anak dari Susi." ucap Hardi mengenalkan sosok Susi pada kedua orang tua Nico.


"Ja_jadi kamu menikah lagi mas?" tanya Marina dengan wajah tak suka.


"Mama.." ucap Gilang mengingatkan pada istrinya.


"Ma_maaf bukan maksudnya aku bukan begitu,aku cuma syok saja.Soalnya dulu setahu aku Hardi dan Jihan Couple yang penuh cinta." ucap Marina dengan senyum kikuknya.


"Oh itu kan dulu jeng,kita juga nggak tahu apa yang terjadi sedetik kemudian.Semoga kamu nggak akan benci sama saya jeng,karena sudah jadi istri kedua suami sahabatmu." ucap Susi dengan wajah yang tetap melempar senyum walaupun senyum itu terpaksa.


"Sudahlah,kita makan malam dulu.Baru nanti kita bicarakan lagi kedepannya." ucap Hardi mempersilahkan sahabatnya untuk duduk.


Malam itu pun akhirnya makan malam berjalan lancar walaupun kadang Susi melontarkan kata-kata yang mereka anggap nggak penting.


Bersambung