
Waktu honeymoon sudah usai.Sekarang pun Nico kembali dengan rutinitas sehari-hari sebagai CEO Pramudya Group.
Begitupun dengan Leka yang kembali ke Perusahaan sang papa.
"Pagi pah.." sapa Leka pada sang papa yang sedang berjalan menuju Lobby kantor.
"Pagi anak papa, ternyata kamu sudah siap bekerja lagi nak." ucap Hardi memeluk putrinya yang dia rindukan.
Sudah seminggu lebih putrinya tak bertemu dengan Hardi.Walaupun Leka tak pernah lupa akan menghubungi Hardi setiap hari namun, bertemu fisik rasanya lebih berarti.
"Harus dong pah,banyak yang harus kita kerjakan." ujar Leka berjalan beriringan dengan sang ayah.
.
.
Disisi lain Susi mendapatkan kabar jika Leka sudah kembali bekerja dari oramg suruhannya.
"Sebenarnya kemana dia selama ini, seperti ada yang aneh..."gumam Susi.
Susi meraih ponselnya dan menghubungi seseorang untuk bertemu di suatu tempat.
Singkatnya Susi meenmui seseorang yang saat ini duduk di sebuah bangku taman.
"Mas.." panggil Susi pada laki-laki itu.
" Akhirnya kamu datang juga,duduklah." ucap orang itu.
"Anak itu sudah mulai bekerja lagi di kantor Hardi.Pergerakan kita akhir-akhir ini di kacaukan sama anak itu.Kamu bilang ke Fandi untuk cepat bergerak." ucap Susi.
"Dengarkan aku Sus,jangan terlalu mencolok dengan apa yang kamu lakukan pada suami barumu itu."ucap pria itu.
"Aku kesal kenapa dia harus datang di waktu yang tidak tepat."ujar Susi geram.
"Satu-satunya jalan kita harus singkirkan dia." ucap laki-laki itu pada Susi.
"Singkirkan, maksud kamu kita harus b*nuh dia?" tanya Susi dengan tatapan tak percaya dengan apa yang orang itu sarankan.
"lya,nggak ada jalan lain Sus, sebelum laki-laki itu menyadari jika selama ini kita bekerja sama untuk membuat dirinya miskin."ujar laki-laki itu.
"Tapi kenapa harus melenyapkan Leka,nggak ada cara lain memangnya.Aku nggak mau kita berurusan dengan polisi mas."ucap Susi.
"Semua tergantung kamu,kalau mau kita hidup enak kedepannya,itu salah satu cara untuk cepat menguasai harta Hardi." ucap si lelaki.
"Mas Aris,sejauh ini aku sudah banyak berkorban buat kamu juga buat Karina.Kamu harusnya mikirin gimana nasib anak kamu,bukan semuanya kamu bebankan ke aku saja." ujar Susi geram dengan sosok bernama Aris yang tak lain adalah mantan suaminya.
"Hehhh,jangan kamu lupa kalau aku nggak pernah berniat menceraikan mu walaupun aku tahu kamu selingkuh di belakang ku dengam Hardi jahan*m itu!"ucapnya sinis.
"Kamu memang nggak ada niat buat ceraikan aku karena aku tahu kamu tetaplah Aris si pemalas yang hanya memanfaatkan aku saja demi menghidupi kamu." ucap Susi sengit.
"Kalau kamu mau kita akan merencanakan untuk melenyapkan anak Hardi itu."ucap Aris.
Susi hanya menghela nafas panjang dan benar-benar saat ini dia harus berputar otak.Dia tak mau jika usahanya selama ini akan berakhir sia-sia karena kehadiran anak Hardi itu.
.
.
Di kantor tempat Leka berada,dia sedang mengecek beberapa laporan yang dia terima dari divisi keuangan.
Jika orang lain yang memeriksanya mungkin tidak akan memperhatikan begitu detail dengan apa yang ada di laporan tersebut.
"Pintar juga dia,dia menyusupkan beberapa nominal di bagian yang mungkin tidak begitu do teliti karena,mereka berfikir akan harga yang normal di bagian atas dan juga belakang.Cukup cerdik juga,hemmm..pantas dia di tunjuk oleh Susi jadi orang di susupkan ke perusahaan." gumam Leka.
Tok tok tok.
"Masuk"ucap Leka saat mendengar suara ketukan pintu.
Ceklek.
Pintu ruangan Leka terbuka dan menampakkan sosok Sri si OG yang di tugaskan Leka untuk memata-matai Fandi.
"Permisi Bu Leka.." ucap Sri saat masuk ke dalam ruangan Leka.
"Mba Sri,masuk." ujar Leka dengan ramah.
Sri masuk dengan nampan di tangannya dengan segelas es teh di atasnya.
Leka mengernyitkan keningnya melihat Sri membawa nampan dengan es teh ke ruangannya.
"lni bu,saya bawakan es teh buat ibu."ucap Sri dan meletakkan gelas yang berisi es teh manis dan menyelipkan kertas di sampingnya tertutup nampan.
Leka langsung tahu apa tujuan Sri membawakan es teh manis ke ruangannya.Tujuannya untuk mengelabuhi musuh.
"Mba Sri minum es nya.Leka tahu pasti mba deg degan kan dengan apa yang mba lakukan."ucap Lekasengan senyuman tipis tersungging di bibirnya.
"lya bu,rasanya jantung saya mau copot " ujar Sri
Dengan cepat Sri meneguk minuman yang dia bawa.
Melihat Sri yang sedang asyik menenggak es teh yang dia bawa Leka hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah OG nya itu.
Leka meneliti beberapa lembar kertas yang Sri bawa tadi.Dia mengernyitkan dahinya dan membuka dokumen yang baru saja dia tutup.Dia mencocokkan beberapa item dan terbitlah seringai tipis di sudut bibirnya.
"Mba Sri, terimakasih untuk semua yang mba Sri lakukan hari ini.Semua yang mba Sri lakukan sekarang sangat besar resiko dan juga sangat besar untuk kepentingan perusahaan ini." ungkap Leka menatap wajah Sri dengan senyuman terpancar dari wajahnya.
"Alhamdulillah bu kalau itu adalah data penting buat ibu dan berguna untuk perusahaan." ucap Sri merasa lega dengan apa yang dia perbuat sekarang.
" Tapi, mb Sri harus lebih hati-hati.Kenapa mba Sri bisa kepikiran untuk membawa ini ke saya?" tanya Leka.
Karena mana mungkin Sri tahu kalau data itu adalah data yang penting untuk dirinya.
"Sebenarnya kertas itu sudah di buang di pembuangan sampah di tumpukan sampah kertas fotocopy terus kebetulan saya mau bersihin ruangan fotocopy di lantai empat,saya dengar seseorang bicara kalau sudah selesai fotocopy nya kertas yang coret-coret itu suruh buang di tempat sampah ke krani di lantai empat.Terus dia jugangasih duit sama krani itu,lalu saya coba lihat dan dengar kalau kertas itu jangan sampai ibu temukan.Makanya pas orang yang nyuruh krani itu pergi saya langsung masuk bersihkan ruangan itu.Lalu saya memang saya sengaja lama-lamain dan saya tunggu krani itu buang sampah." terang Sri dengan wajah yang terlihat mengekspresikan perasaannya juga keadaan waktu kejadian.
"Pokoknya aku terimakasih banget mba,oh iya sebentar.." ucap Leka dan meraih tas branded miliknya dan mengambil dompet dan dia menyodorkan amplop tersebut ke arah Sri.
"Apa ini Bu?" tanya Sri bingung saat Leka menyodorkan amplop ke depannya.
"Ambilah,buat beli susu si kecil." ucap Leka dengan wajah yang menatap sendu Sri.
" Bu,saya lakukan semua ini karena memang sudah tugas saya buat selalu berlaku jujur disini.Saya juga ingat pesan ibu saya kalau saya harus jadi orang jujur karena dulu Bu Jihan yang sudah membantu keluarga saya bahkan saya di terima oleh pak Hardi dengan tanpa syarat untuk masuk kerja disini.' ungkap Sri dengan mengingat kebaikan almarhumah ibu Leka.
Leka pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Sri dan memeluk tubuh OG nya itu.Sri terpaku dengan apa yang di lakukan Leka saat ini.Karena menurut dirinya dia hanyalah pegawai rendah mana pantas do perlakukan seperti itu oleh anak bos nya sendiri.
Bersambung