
Hari yang di tunggu telah tiba.Acara resepsi Pernikahan Leka dan juga Nico di gelar di hotel milik keluarga Pradipta.
Banyak sekali yang tak menyangka jika Nicolas Pradipta pewaris keluarga Pradipta ternyata sudah memiliki istri dan bahkan sudah memiliki dua orang anak dari hasil pernikahannya.
Banyak wanita yang mendambakan sosok Nico patah hati karena mendapatkan fakta tersebut.
Di tempat di mana dulu Leka sempat tinggal pun tak kalah heboh mendengar berita yang mereka dengar.
Bik Tun dan keluarga pun di minta untuk hadir di acara resepsi Leka dan Nico.
Sementara Yana dan Richard pun datang ke acara Leka.Mereka sangat terkejut mendengar kabar yang mengatakan Leka sudah menikah dengan boss besarnya.
Sedangkan ada seseorang yang juga patah hati karena mendengar berita yang dia tak sangka.
"Sudahlah mas,Leka memang bukan jodohmu.Lagian dia itu perempuan gat*l.Nggak dapat kamu,eehh...malah dia jebak big bos." oceh Mia yang berusaha menjelekkan Leka di depan Lukman.
Ranti yang mendengar penuturan Mia hanya memutar matanya jengah.
"Mbok wes nggak usah jelek-jelekin orang to mba Mia.Kalau namanya nggak cinta mau kamu kpmporin kayak apapun nggak akan ngaruh.Mas Lukman sudah jelas-jelas nggak suka sama situ." ucap Ranti dengan melahap bakso yang ada di depannya.
Sementara Lukman belum merespon apapun yang menjadi perdebatan dua perempuan yang saat ini satu meja dengannya di kantin.
"Hehh..Ranti,kamu ngomong begitu karena kamu tidak terima kalau mas Lukman beralih haluan cinta sama aku kan? Jujur aja kamu !" cecar Mia dengan menunjuk-nunjuk ke Ranti.
"Apaan sih nggak jelas banget kamu mbak,mana ada saya nggak rela.Silahkan saja kalau mas Lukman mau sama situ.Lagi pula mas Lukman bukan apa-apa saya." ujar Ranti dengan wajah kesal.
Brakkk 💢
Terlalu jengah mendengar perdebatan dua perempuan yang ada di dekatnya akhirnya kesabaran Lukman yang setipis tisu itu pun meluap dengan sendirinya.Dia menggebrak meja membuat orang-orang yang sedang makan di kantin ikut terkejut.
"Astaghfirullah."
Terdengar suara orang-orang mengumpat tindakan Lukman namun,Lukman tak perduli.
"Bisa diem nggak sih kalian, kerjanya cuma bisa bikin tambah pusing saja.Kalai kalian mau berdebat jangan di dekatku,aku muak lihat kalian berantem terus kalau ketemu !" ucap Lukman dengan nada tinggi dan wajah yang terlihat sangat marah.
"Dia dul..
"Mia !!" bentak Lukman
"Kamu punya harga diri nggak sih,aku bilang nggak akan pernah cinta sama kamu tapi,dengan tak ada malunya kamu terus saja buat saya naik darah.Mulai sekarang jauhi saya.Saya muak lihat wajah kamu !!"
Ucapan Lukman barusan sangatlah menohok di hati Mia.Rasanya harga dirinya terjun bebas kejurang terdalam mendengar penuturan Lukman.
Sementara Ranti tak kalah terkejut mendengar ucapan Lukman barusan yang terkesan kasar.Baru kali ini dia melihat sosok Lukman yang sedang marah.
Tanpa pikir panjang Lukman akhirnya memilih berlalu dari kantin dan kembali ke ruangannya.
Sementara Mia hanya bisa menangis karena mendengar ucapan yang menyakitkan hatinya dari mulut laki-laki pujaannya.
Melihat Lukman pergi Rantupun juga pergi dari kantin.Rasanya juga malas untuk melanjutkan acara makan siangnya kali ini.
Dia pun memilih untuk ketaman dekat dengan pabrik.Lalu dia membuka ponselnya dan mencari nama seseorang yang telah lama tak dia hubungi.
"Assalamualaikum..Rantiiii !!!" terdengar teriakan dari sebrang telepon.
"Terimakasih Ran,kenapa kamu nggak ikut kesini sih? Aku kan sudah undang kamu lho.." ujar Leka dengan suara yang terdengar bergetar.
"Maafin aku ya Lee,aku nggak bisa cuti.Kemarin aku baru ambil cuti soalnya." ujar Ranti beralasan.
"Halah kamu ini kayak sama siapa saja.Kenapa kamu nggak bilang sih,aku bisa langsung minta ijin ke mas Nico buat ikut kesini samamak Tun." ujar Leka.
"Maaf sekali lagi Lee..." ujar Ranti.
"Aku tahu kalau bukan itu alasan utamanya kamu nggak dateng hari ini.Bukan nggak bisa cuti tapi,kamu mikirin Lukman kan? Hayo ngaku.." goda Leka yang masih sibuk di poles wajahnya.
"Kamu bisa saja.Dia tadi marah smaa aku juga Mia di kantin." terang Ranti.
"Lahh..kok bisa?" tanya Leka.
Akhirnya Rantupun menceritakan kejadian selama di kantin hari ini.
"Pepet terus dong kalau kamu prihatin.Jangan di cuekin bagaimanapun di suka sama aku,nggak akan bisa Ran,aku cinta sama daddynya anak-anak."ungkap Leka.
"Dia nggak ngasih ruang kosong buat aku isi Le,dia terlalu menutup diri "ungkap Ranti.
Pembicaraan dua sahabat itu pun terhenti saat Leka harus segera bersiap untuk menyelesaikan dandanannya.
Jam tujuh malam ballroom hotel yang di sulap menjadi tempat acara resepsi Leka dan Nico menjadi riuh dengan para tamu undangan.
Untuk masuk ke dalam pun tak sembarangan.Karena harus melalui pengecekan keamanan yang ketat.
Kedua pengantin pun masuk ke dalam ballroom dengan dua bocah kembar berjalan lebih dulu dengan pakaian yang nyaris sama dengan pengantin.
Kedua bocah kembar itu sebagai gambaran kedua orang tuanya saat masih seumuran mereka.Karena memang kedua anak yang mewarisi struktur wajah yang mirip dengan kedua orang tuanya.
Terlihat jelas wajah bahagia kedua pengantin itu.Mereka di gadang-gadang menjadi pasangan serasi.
Hardi yang melihat senyuman tak luntur di bibir putrinya membuat dirinya merasa bahagia dan sekaligus sedih.Karena bagaimana pun Jihan tidak dapat menyaksikan kebahagiaan putri semata wayangnya.
"Seandainya kamu ada di sini bersama kami sayang,pasti kamu begitu heboh menyiapkan semuanya bersama Marina sahabat kamu untuk hari bahagia putri kita." gumam Hardi.
Sampai saat Hardi merasakan sebuah tepukan di bahunya membuat dirinya tersadar.
"Mikirin apa kamu,melihat kebahagiaan anak-anak kita pastinya kamu juga harus bahagia juga." tutur Gilang pada sahabatnya itu.
"Tentu saja aku bahagia ,sangat bahagia.Apalagi ada sikembar diantara mereka.Walaupun sempat aku tolak kehadirannya karena ulah anak baj*ngan mu itu." ungkap Hardi geram dan sedih mengigat kejadian di beberapa tahun lalu merasa bo*oh karena pengaruh Susi.
"Sudahlah, sekarang tugas kita hanya bisa mendoakan mereka supaya selalu bahagia dan tidak ada lagi orang-orang yang berusaha memisahkan mereka.
"Hemm..kamu benar." jawab Hardi
Setelah pembicaraan itu Hardi dan juga Gilang sama-sama menyambut tamu-tamu undangan yang merupakan rekan bisnis mereka.
Sementara di atas pelaminan dua mempelai terlihat sangat bahagia.Namun,ada satu orang yang melihat kebahagiaan mereka dengan tatapan mendung.
Bersambung