BENIH TARUHAN

BENIH TARUHAN
Di Tahan


Karina merasa kesal dengan tingkah Elang pagi ini.Apalagi mendengar ucapan Elang yang ngeselin bin nyebelin barusan.


Mood pagi ini begitu hancur bagi Karina.Apalagi mengingat mamanya sekarang harus menjadi saksi atas kasus yang menimpa papa kandungnya.


Awalnya Karina ingin ke kampus namun,dia urung ke sana dan mengarahkan mobilnya menuju kantor polisi di mana mamanya berada.


Sampai di kantor polisi,Karina turun dari mobil dan menatap sekitarnya.


Dia melangkah dan masuk di sambut ramah oleh seorang polisi yang menanyakan kepentingan dirinya datang.


"Pagi pak.." sapa Karina pada petugas polisi yang ada di depannya.


"Pagi mba,ada yang bisa saya bantu?" tanya sang polisi dengan sopan.


"Maaf pak,saya mohon ijin untuk bertemu dengan mama saya yang menjadi saksi atas kasus kecelakaan melibatkan pak Aris."ucap Karina.


"Silahkan masuk mba,bisa tanyakan ke petugas di sana bisa atau nggaknya mama mba di temui." ucap polisi itu mengarahkan pada seorang polisi yang sedang ada di meja tugasnya.


Polisi itu membawa Karina menemui rekannya dan menantakan Susi dan jawabannya pun membuat Karina sangat khawatir dengan sang mama.


Petugas tersebut mengatakan jika Susi belum bisa di temui karena masih dalam pemeriksaan.


"Mama saya nggak salah pak,mama saya nggak mungkin di penjara kan?" tanya Karina dengan air mata yang sudah jatuh.


"Mamanya mba masih dalam tahap saksi dan jika benar adanya mama anda tidak terlibat maka mama mba bisa segera pulang." jelas polisi itu.


Karina hanya bisa diam dan duduk menunggu mamanya.Menurut informasi yang Karina dapatkan jika mamanya yang masih di ruang interogasi.


Karina sangat berharap Hardi mau membantu melepaskan mamanya dari tuduhan yang menimpanya namun,di ingat dari sisi Hardi sepertinya Hardi tidak bisa melakukan apa yang Karina harapkan.


Sementara di ruang interogasi Susi masih menjawab pertanyaan dari petugas.Daro sekian banyak pertanyaan Susi selalu bilang dia tidak salah dan tidak terima dengan perlakuan polisi membawanya sampai ke kantor polisi dan kini harus menjalani proses kesaksian.


"Bu Susi ,apakah anda mengenal Pak Aris?" tanya sang petugas.


"Kenal pak,dia mantan suami saya." jawab Susi yang berusaha bersikap setenang mungkin.


"Jadi benar,anda bersekongkol untuk membuat nona Leka celaka demi sebuah warisan?"tanya petugas itu dengan tatapan menghunusnya.


"Pak,jelas saya tidak salah.Kenapa kalian ngotot bawa saya kesini." ucap Susi tak mengindahkan pertanyaan sang petugas dan membentak dengan nada tinggi.


"Harap anda tenang bu,tolong bersikaplah komperatif jangan berbelit-belit jika anda isngin segera bebas."


"Buktikan kalau anda benar-benar tidak terlibat dalam penabrakan saudari Leka."ucap polisi tersebut.


"Saya benar-benar nggak tahu pak,saya nggak salah." elak Susi yang masih bersikeras untuk mengakui keterlibatannya dengan Aris.


Petugas yang sedari awal menlihar Susi yang tidak komperatif akhirnya dia mengeluarkan bukti rekaman pengakuan Aris jika semua maslaah yang ada di sebabkan oleh Susi dan bilang jika Susi adalah dalang dari semua nya.


Susi merasa terkejut dengan penuturan Aris dalam rekaman itu.


"Disini ada beberapa bukti bahwa anda beberapa kali mentransfer uang dalam jumlah banyak dan juga ada sebuah transaksi yang dilakukan dengan jumlah besar untuk membeli obat dan obat ini pun tergolong mahal dan langka.Apa anda bisa jelaskan obat apa itu?" tanya petugas yang menatap Susi dengan tajam mengintimidasi.


Susi menelan silvanya dengan susah payah.Apalagi melihat sosok di seberangnya terlihat sangat mengintimidasinya.


"ltu obat herbal dan untuk sekedar vitamin."jawab Susi.


"Sayangnya tidak seperti apa yang anda ucapkan nyonya.Laporan dari laboratorium dan juga dari tempat anda membeli obat itu menerangkana bahwa obat itu adalah jenis racun yang sangat berbahaya.Walaupun korbannya nggak langsung mat* prosesnya bertahap dan tidak terdeteksi."ungkap petugas membuat wajah Susi tiba-tiba memucat.


"Semua itu karena bujukan Aris pak,dia mengatakan jika saya harus melakukan hal itu untuk membuat posisi anak saya terjamin."ucap Susi.


"Maksudnya anda sengaja untuk merencanakan semua ini dan bekerja sama dengan tuan Aris demi anak kalian tetap hidup mewah.Karena mantan suami anda hanya penjudi dan juga tak punya penghasilan tetap." urai petugas.


"Semua bukti keterlibatan anda dengan Aris sudah ada di sini.Untuk sementara anda tidak bisa kembali kerumah dulu dan sementara anda di tahan sampai dengan sidang dimana anda di nyatakan tidak bersalah." sambung sang petugas lagi.


Mendengar penuturan petugas polisi itu membuat Susi mencelos dan begitu syok.Apakah harus sekarang semuanya berkhir,apa semua usahanya akan sia-sia.Susi mendadak mengingat Karina sang putri kandungnya.Dia tentunya memikirkan bagaimana nasibnya nanti jika dia benar-benar di penjara.


Saudara pun tidak ada yang bisa benar-benar di mintai tolong.Apalagi dengan posisi Susi yang benar-benar sangat buruk.Bahkan lebih buruk dari masa dirinya bercerai dengan Aris dulu.


Sejak Susi cerai dengan Aris dan menikah dengan Hardi keluarga besarnya tak ada yang mau mendekat padanya.Apalagi sikap sombong Susi yang sudah sedari dulu membuat keluarganya muak.


...----------------...


Susi sangat frustasi dengan semua yang menimpanya.Dia berfikir apakah ini semua akan berkhir dan dia berakhir nelangsa di dalam penjara dan berpisah dengan putrinya.


Seorang sipir penjara mengatakan jika ada yang mengunjungi Susi.Dia pun berharap orang itu adalah suaminya yang akan membebaskan dirinya.


Saat melihat sosok yang dia harapkan ada di depan matanya ada binar pengharapan untuk Susi bebas.


"Akhirnya mas datang juga." ucap Susi dengan senyuman merekah.


"Apa kabar kamu?" tanya Hardi dengan nada datar.


Melihat respon Hardi Susipun mengernyitkan keningnya meliha tingkah Hardi yang terlihat dingin.


"Nggak ada kabar baik mas,kamu kesini pasti mau bebasin aku kan dari penjara sial*n ini?" tanya Susi dengan senangnya.


Hardi melihat respon Susi yang dia harapkan ada rasa bersalah ataupun penyesalan.Namun,harapan itu salah.Terlihat jelas Susi seakan tak pernah merasa bersalah dan seperti tidak terjadi apa-apa.


"Semua bukti kejahatan kamu sudah saya lihat.Berbicaralah dengan jujur semoga bisa meringankan hukuman kamu nanti." ucap Hardi.


"Ta-tapi mas,bukan aku yang nabrak Leka." ujar Susi.


"Memanglah bukan kamu yang menabrak Leka tapi, laki-laki yang berstatus mantan suami kamu yang melakukannya atas perintahmu dengan iming-iming uang yang banyak." ungkap Hardi dengan nada bicara yang sudah terdengar melengking.


Susi yang mendengar ucapan Hardi dan dia pun baru melihat ekspresi marah Hardi saat ini.Rasanya sangat menakutkan.


Bersambung