
Setelah selesai dengan urusannya, Hardi pun langsung pulang ke rumahnya.
Setelah beberapa waktu melewati kemacetan jalanan ibukota Jakarta ,dia sampai juga di rumahnya.
Kedatangan Hardi di sambut oleh kedua cucunya yang terlihat menyambut kedatangannya dengan wajah ceria mereka.
Hardi pun tak ragu untuk memeluk kedua cucunya.
"Opa baru pulang,capek yaa ?" oceh Aura dengan meraba pipi Hardi.
Rasa hati Hardi langsung menghangat mendengar ucapan sang cucu.
"Opa nggak cape,kalau sudah lihat cucu-cucu opa ini..hemm,bunda sama daddy kalian dimana?" tanya Hardi melihat arah dalam rumah.
"Bunda lagi mandi opa, daddy baru saja datang terus kekamar bunda." jawab Elang.
"Baiklah cucu-cucu Opa,kita masuk sebentar lagi magrib.Kalian siap-siap buat sholat magrib,opa mau mandi sebentar." ujar Hardi setelah mereka masuk ke dalam rumah.
"Oke Opa.." jawab si kembar.
"Loh,kamu sudah pulang yang?" tanya Leka saat keluar dari kamar mandi dan mendapati bahwa suaminya sudah ada di dalam kamar mereka.
"Iya,baru saja kok..aku mandi dulu yah,udah nggak betah lengket banget nih rasanya." ujar Nico beranjak dari tempat dia duduk.
"Oke,aku siapin baju ganti kamu deh.." ujar Leka dan Nico pun mengangguk mengiyakan.
Setelah selesai menyiapkan segala keperluan suaminya,Leka pun beranjak dari kamarnya lalu dia keluar dari kamar itu menuju lantai bawah untuk menyiapkan makan malam mereka.
...****************...
Setelah selesai melakukan sholat magrib,Leka pun kembali ke dapur untuk menyiapkan makanan yang dia olah ke meja makan di bantu oleh bi Yuni.
"Bunda !!" seru kedua bocah kembar yang menghampiri sang bunda yang sibuk menghidangkan makanan di atas meja makan.
"Haii sayang,bunda minta tolong boleh? tolong panggilkan opa dan daddy buat makan malam yaa.."
"Oke bun.." jawab keduanya dan langsung menjalankan tugas dari bunda mereka.
Tak butuh waktu lama mereka berkumpul dimeja makan untuk makan malam bersama.
Semua menikmati makanan yang Leka hidangkan.Bahkan papa Hardi tak pernah menyangka jika purinya begitu pandai memanjakan lidah dan mengenyangkan perut keluarganya.
"Masyaallah nak,kalau papa kamu kasih beginian tiap hari, bisa-bisa berat badan papa nambah banyak."ujar Hardi dengan terkekeh dan merasakan perutnya yang kekenyangan.
"Bukan lagi pah,Nico saja rasanya tidak pernah menemukan makanan yang seenak masakan istri ku ini pah.." ujar Nico memuji kehebatan memasak Leka.
"Kalian berlebihan.Leka hanya cemplang cemplung saja.Jangan terlalu banyak muji Leka,yang ada Leka bisa terbang.." ujar Leka dengan membereskan piring-piring kotor yang ada di meja makan.
"Kalau masakan bunda memang enak dari dulu.Apalagi kalau sudah masak kesukaan kita pastinya luar biasa rasanya.." timpal Elang yang ikut memuji masakan sang bunda.
"Eeehhh..kamu ini,anak kecil bisa saja mujinya yahh.." ucap Leka dengan mengacak rambut Elang dengan gemas.
"Bundaaa..jangan berantakin rambut abang dong,nanti gantengnya berkurang." ujar Elang dengan mengerucutkan bibirnya.
"Halahhh..kamu bang,gantengan daddy juga kok."timpal Aura dengan nada mengejek.
"Kamu ini Ra,kamu sendiri bilang dulu abang yang paling ganteng,kenapa sekarang ganti? dasar nggak konsisten.Lihat saja,kalau abang nanti pasti ngalahin kegantengan daddy." ucap Elang tak terima.
Melihat perdebatan si kembar membuat mereka tertawa melihat tingkah laku bocah kembar nan menggemaskan itu.
Hahahahaa
Keseruan keluarga itu pun berlanjut sampai Leka menyuruh kedua bocah itu untuk segara tidur di temani oleh bi Yuni.
Sementara itu,Leka,Hardi dan Nico mereka masih membahas soal Fandi.
Semua bukti keterlibatan dia dengan penyelewengan dana pun sudah lengkap.Hardi pun,sudah menyusun rencana untuk penangkapan Fandi selanjutnya.
"Setelah selesai dengan urusan kita,papa minta kalian bisa memikirkan acara resepsi pernikahan kalian." ucap Hardi.
"Apa perlu pah,Leka rasa nggak perlu lah.." ujar Leka
"Mana bisa begitu sayang,papa ingin semua tahu kalau anak kesayangan papa ini sudah menikah,dua bocah kembar itu pun perlu pengakuan." terang Hardi.
"Lalu,kalau aku adakan resepsi apa nggak masalah dengan reputasi papa juga keluarga Nico pah?" tanya Leka menimbang usulan sang papa.
"Ku rasa nggak masalah.Biar mereka tahu kalau aku sudah punya pawang sekarang.Jangan takut dan jangan risau dengan ucapan orang-orang."ucap Nico.
Leka memandang suaminya dan menghela nafas berat.
"Aku tahu kamu khawatir anggapan masyarakat soal si kembar kan? kamu tenang saja,mereka tidak akan dianggap anak yang terlahir dari hubungan terlarang ataupun di bilang anak har*m.Aku jamin."ujar Nico meyakinkan sang istri.
"Kalau keputusan papa dan kalian semua jika acara itu memang harus diadakan apa boleh buat,aku ikut dengan rencana kalian."akhirnya Leka pun pasrah dengan keputusan papa dan suaminya.
Semoga ketakutan yang ada dalam hatinya tak terjadi.
...****************...
Pagi di perusahaan Nugraha.Leka sedang sibuk dengan berkas-berkas yang ada di atas mejanya.
Di bantu oleh Sri ,dia menyusun berkas-berkas itu dari dokumen beberapa tahun lalu sampai saat ini.
Tok tok tok.
"Masuk.." ucap Leka dengan sedikit berteriak.
Ceklek.
Pintu ruangan itu pun terbuka menampakkan seorang laki-laki yang ada diambang pintu dengan wajah yang terlihat datar.
"Ohh..pak Fandi,silahkan masuk !" ucao Leka menyuruh rekan kerjanya masuk ke dalam ruangan nya.
"Permisi Bu Leka,saya menyerahkan beberapa dokumen yang ibu minta.Tapi, ada sebagian yang belum ketemu." ucap Fandi.
"Hemmm..belum ketemu,atau memang anda tidak ingin menyerahkan pada saya?" tanya Leka dengan senyum miring terukir di bibirnya.
"Ma_maksud ibu apa,saya benar-benar nggak paham apa yang ibu bicarakan?" tanyanya seolah tak tahu arah ucapan Leka barusan.
"Pak Fandi adalah salah satu orang cerdas yang ada di kantor ini.Pastinya pak Fandi tahu arah ucapan saya barusan." ucap Leka sinis.
"Kenapa saya harus susah payah menebak-nebak apa yang ibu Leka maksud kan.Saya,rasa anda sedang menuduh saya." ujar Fandi yang berubah memasang wajah tak bersahabat.
"Menuduh,buat apa saya menuduh anda.Kalau saya tidak punya bukti,saya nggak mungkin akan berbuat seperti ini.Jangan kamu pikir saya tidak tahu,beberapa dokumen yang kamu bilang kalau belum ketemu,nyatanya dokumen itu ada di meja kerja anda.Kenapa nggak langsung di serahkan ke saya,apa yang anda rencanakan.Mau memanipulasi data lagi,apa nggak capek sudah bertahun-tahun menjadi kacung Susi yang sudah menjadi tersangka dalam kasus kecelakaan yang hampir menimpa saya." ungkap Leka menatap tajam ke arah Fandi
Mendengar ucapan Leka barusan,mendadak wajah Fandi berubah menjadi pucat pasi.Dia memang belum tahu jika Susi sudah di tangkap dan jadi tersangka.
Bersambung