
Selamat membaca!
Lamunan Anjani seketika buyar, saat Dion kembali memberitahu wanita itu agar segera keluar dari ruangan untuk memberi waktu Anindya beristirahat.
"Anjani, sebaiknya kamu keluar dulu agar Anin bisa tenang! Tolong mengerti ya!" pinta Dion mengulangi permintaannya karena belum mendapatkan jawaban dari Anjani yang termangu tanpa kata.
Sambil menghela napasnya yang berat, Anjani pun terlihat pasrah menuruti permintaan Dion untuk keluar dari ruangan di mana sebenarnya ia masih ingin melihat dan juga memeluk putrinya. Anjani hanya bisa menangis dan tertunduk piluh. Saat ini dirinya begitu hancur dalam penyesalan tanpa bisa berontak dalam situasi yang menuntutnya untuk pergi. Hatinya pun begitu sakit ketika harapannya harus berubah menjadi rasa kecewa karena ia tak berhasil meyakinkan Anindya, betapa menyesalnya ia telah membuang putri kandungnya.
"Baiklah, kalau memang Anin enggak mau maafin Mama. Mama enggak apa-apa. Mama terima karena memang Mama enggak pantas untuk menerima maaf dari Anin. Cuma satu pesan Mama, Anin harus sehat. Anin harus kuat dan bertahan demi orang-orang yang sudah menyayangi Anin. Mama akan selalu mendoakan kesembuhan Anin, walau Mama enggak ada di sini." Derai air mata itu semakin membasahi kedua pipi Anjani. Menandakan bahwa wanita itu benar-benar merasa sakit karena ia mau tak mau harus memendam kerinduan untuk memeluk putri yang selama ini telah disia-siakannya.
Sambil memutar tubuhnya, Anjani mulai melangkah keluar, diikuti oleh seorang petugas polisi yang mengantar Anjani ke rumah sakit. Seorang polisi wanita yang tahu betul perasaan Anjani saat ia akhirnya menceritakan tentang putrinya yang telah dibuangnya. Ya, saat Anjani kembali ke dalam sel tahanan, seorang polisi datang dengan membawa sebuah foto yang ditinggalkan oleh Anjani di ruang kunjungan. Dari sanalah semua bermula. Saat itu, Anjani baru menyadari bahwa anak perempuan yang ditemuinya sewaktu di sekolah selesai ia menghina Maharani ternyata adalah putri kandungnya. Namun, saat Anjani ke rumah Maharani yang didapatnya malah sebuah kabar mengejutkan bahwa putrinya telah dilarikan ke rumah sakit karena tak sadarkan diri dengan darah yang tertinggal di telapak tangannya.
"Sabar ya, Mba. Kasih waktu putri Mba dulu untuk istirahat. Tenang saja, saya akan memberikan waktu buat Mba satu jam sebelum kita pergi dari rumah sakit ini," tutur polisi wanita itu yang merasa iba dengan Anjani.
Perkataan itu seketika membuat Anjani tersenyum. Ia seperti memiliki harapan baru. Sebuah harapan untuk bisa kembali menemui putrinya.
"Terima kasih ya, Bu. Anda baik sekali. Saya benar-benar berhutang budi sama Anda. Bagaimana cara saya agar bisa membalas kebaikan, Ibu?" tanya Anjani mengungkapkan isi hatinya.
"Jadilah wanita yang baik! Jangan pendendam dan harus bisa ikhlas melihat kebahagiaan orang lain. Itu saja pesan saya!" jawab polisi wanita itu membuat Anjani seketika tersadar akan perbuatannya pada Maharani dan Dion. Tidak seharusnya ia sampai melakukan hal sepicik itu hanya untuk bisa memiliki Dion.
Di saat pikirannya kembali teringat akan kesalahan yang dilakukannya, tiba-tiba seorang dokter datang bersama dua suster yang melangkah beriringan masuk ke dalam ruangan Anindya.
"Permisi," ucap Dokter tersebut berpapasan di ambang pintu dengan Anjani yang hendak keluar dari ruangan.
Perkataan dari dokter itu seketika membuat pikiran Anjani jauh ke belakang, ia langsung teringat akan masa lalunya bersama Rendra. Sosok pria yang sempat dicintainya. Pria yang sudah beristri. Namun, ia tetap nekat menjalin hubungan dengannya karena alasan cinta. Sampai akhirnya, saat Anjani hamil, Rendra seolah hilang tanpa berniat bertanggung jawab atas kehamilannya.
"Rendra," lirih Anjani sambil memutar tubuhnya untuk kembali masuk ke dalam ruangan. Ia hanya ingin memastikan apa benar dokter yang baru saja melewatinya adalah Rendra, pria yang merupakan ayah kandung dari putrinya.
Di saat Anjani baru saja melewati pintu ruangan, Dion seketika langsung menahannya, lalu membawa wanita itu kembali keluar dari ruangan. Membuat Anjani tak bisa memastikan dugaannya saat ini.
"Dion, aku mohon izinkan aku masuk! Aku harus memastikan pria itu!" ungkap Anjani terdengar begitu memohon pada Dion.
"Maksud kamu apa, Anjani?" tanya Dion penasaran dengan apa yang didengarnya saat ini.
"Apa benar yang kamu katakan itu, Anjani? Bagaimana aku bisa percaya setelah banyak kebohongan yang telah kamu katakan?"
"Kali ini aku tidak akan berbohong! Aku sungguh-sungguh, Dion. Aku mohon!" Anjani kembali mengulangi permintaannya.
"Maaf Anjani, aku tetap tidak bisa mengizinkanmu masuk apa pun alasanmu. Sebaiknya kamu tunggu saja sampai dokter itu selesai memeriksa Anin. Nanti setelah dokter keluar dari ruangan baru kamu memastikan dan bertanya secara langsung padanya, tapi untuk sekarang ini, biarkan Anin istirahat dan jangan diganggu dulu!"
Anjani yang masih dihantui rasa penasarannya pun akhirnya hanya dapat menghela napasnya dengan berat. Ia sadar bahwa apa yang dikatakan oleh Dion sangatlah tepat. Terlebih dengan kondisi Anindya yang tengah sakit. Saat ini, Anjani paham bahwa putrinya bukan mengidap penyakit yang ringan, apalagi setelah ia mengetahui bahwa Anindya sempat mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Baiklah, Dion. Aku akan menunggu di sini." Anjani pun mulai menjauh dari pintu ruangan. Langkahnya kini tertuju pada sebuah kursi panjang yang berada di depan ruangan itu. Ruangan yang tak memiliki jendela pada sisi dinding koridor hingga tak ada celah bagi Anjani untuk melihat wajah sang dokter.
"Apa benar itu Rendra? Kalau benar dia ternyata bekerja di sini, berarti ini adalah takdir yang sangat kebetulan karena kedua orang tua Anin bisa berkumpul," batin Anjani sambil mengusap telapak tangannya untuk mengusir rasa cemas yang tengah menguasai dirinya.
Di tengah lamunannya, tiba-tiba ia kembali tidak tenang saat mendengar suara putrinya sedang kesakitan saat ini. Membuat wanita itu langsung bangkit dan tak memedulikan keberadaan Dion di depan pintu. Anjani mendorong tubuh pria itu hingga menyingkir dari jalannya.
"Anin, kamu kenapa, Nak?" Anjani langsung membuka pintu ruangan dan masuk tanpa memedulikan keadaan Dion yang telah didorongnya dengan sekuat tenaga.
Saat ini, kedua matanya langsung melihat sosok Anindya dengan darah yang baru saja dikeluarkannya. Darah yang tampak berceceran di lantai. Sampai akhirnya, pandangan Anjani pun mulai beralih pada sosok dokter yang kini terlihat sibuk memeriksa kondisi Anindya.
"Rendra," lirih Anjani dengan suara yang bergetar. Suara yang seketika membuat dokter itu pun langsung menoleh dan menghentikan penanganannya terhadap Anindya untuk sejenak.
"Anjani, kenapa kamu di sini?" tanya sang Dokter yang tak percaya atas apa yang dilihatnya.
Kebingungan pun sesaat terlihat di wajah Maharani yang merasa aneh atas apa yang terjadi di depan matanya. Namun, wanita itu memilih fokus pada Anindya sambil terus mengusap rambut gadis kecil itu yang masih mengerang kesakitan.
"Anin, kamu harus kuat ya! Demi Mama, Anin! Mama, mohon!" Maharani terus meminta pada putrinya dengan air mata yang sudah berderai hebat membasahi kedua pipinya.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️.