Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Penuh Haru



3 episode menjelang tamat -



Selamat membaca!


Keesokan harinya, tepat di pagi hari. Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Waktu di mana Anindya tampak sudah terbangun dari tidurnya. Sepanjang malam, Maharani memilih untuk tetap berada di rumah sakit menemani Anindya bersama Dion. Sementara Vania dan Dini kembali ke rumah, walau dengan hatinya yang berat karena mereka berdua sudah mendengar langsung dari Dion tentang penyakit apa yang diderita oleh Anindya. Namun, Dion masih tak memberitahukan hal ini kepada Maharani. Ia takut bila istrinya akan terguncang, apabila mengetahui jika putri angkatnya itu sudah tidak bisa lagi diselamatkan. Bahkan usianya pun diduga hanya sanggup bertahan tidak lebih dari satu Minggu.


"Mah," lirih Anindya memanggil Maharani yang baru saja kembali dari kamar mandi.


"Iya, sayang. Kenapa?" tanya Maharani yang langsung menghampiri gadis kecil itu.


"Mah, kenapa ya sejak semalam, perutku selalu terasa sakit?" Dengan wajah yang pucat, Anindya mengatakan hal itu. Membuat Maharani semakin mencemaskan kondisi putri angkatnya yang baru saja terjaga dari tidurnya.


"Mama panggilkan dokter dulu ya agar dia datang dan memeriksa kondisi kamu! Kamu tunggu ya, sayang!" Karena panik, Maharani sampai lupa bahwa di ruangan itu sudah dilengkapi dengan sebuah bel yang berada di dekat ranjang agar memudahkan pasien dalam memanggil tim medis untuk datang.


"Mah," panggil Anindya yang langsung menghentikan langkah Maharani yang baru dua langkah menjauh dari ranjang tempat di mana gadis kecil itu terbaring.


"Kenapa, sayang?" Maharani pun kembali mendekati Anindya. Jelas sekali terlihat di kedua matanya yang sembab, ada bulir bening yang kembali menganak dan siap untuk jatuh berlinang. Hatinya saat ini sudah benar-benar rapuh. Ia merasa tak sanggup mendengar putri angkatnya itu harus mengeluh kesakitan.


"Jangan tinggalin aku, Mah. Aku takut! Aku enggak mau sendirian." Gadis kecil itu memohon dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.


Tak ingin membiarkan Anindya menangis terlalu lama, Maharani pun mendekap tubuh putrinya yang saat ini terasa dingin. Padahal ia sudah mengatur suhu pendingin ruangan di temperatur 30°. Namun, tetap saja Anindya masih merasa kedinginan.


"Sayang, kamu enggak apa-apa, kan?" tanya Maharani yang sudah benar-benar panik.


Sampai akhirnya, ia mulai menyadari bel yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Tanpa berpikir lagi, Maharani pun menekan bel tersebut. Ia benar-benar merasa lemah. Hatinya begitu sakit mendapati Anindya seperti sekarang ini.


Di tengah rasa panik yang kian membuncah dalam diri Maharani, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Namun, bukan sosok dokter ataupun suster yang datang seperti apa yang diharapkannya, melainkan seorang wanita yang pernah menghinanya dengan begitu rendah.


"Anjani," ucap Maharani dengan penuh keterkejutan. Ia tak habis pikir. Bagaimana bisa wanita yang sudah ditahan, kini malah datang ke ruang rawat Anindya. Hal yang membuat pikirannya terus menebak, walau pada akhirnya, tetap saja ia gagal menemukan jawaban dari setiap pertanyaan yang saat ini mulai memenuhi pikirannya.


Anjani ternyata tidak datang seorang diri. Seorang wanita berseragam polisi dan juga Dion tampak berada tepat di belakangnya.


"Mas, kenapa Anjani di sini?" tanya Maharani kepada Dion yang sepertinya mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya.


Belum sempat Dion menjawab, Anjani mulai mengatakan sesuatu yang membuat Maharani tak percaya jika itu bisa terucap dari mulut seorang wanita yang beberapa hari lalu pernah merendahkannya di hadapan banyak orang.


"Ran, aku minta maaf ya. Maafin aku atas semua kesalahan yang aku lakukan padamu." Dengan kedua mata yang sudah basah oleh air mata, Maharani dapat melihat jelas bahwa Anjani mengatakan hal itu dengan penuh kesungguhan.


Di tengah pertanyaannya yang belum terjawab, suara Anindya terdengar memanggilnya. Membuat Maharani seketika mengabaikan kehadiran Anjani dan kembali menatap wajah gadis kecil itu yang terlihat ketakutan dengan kedatangan Anjani.


"Mama, kenapa wanita jahat itu datang ke sini?" tanya Anindya yang masih ingat betul akan semua hinaan Anjani kepada Maharani sewaktu di sekolahnya.


Saat itu, Anindya yang tengah menghampiri Maharani, melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Anjani menghina dan menampar wajah Maharani. Bahkan Anjani sempat berpapasan dengan Anindya dan menatapnya dengan sinis.


"Sayang, dia adalah Mama kandung kamu. Wanita yang sudah melahirkan kamu," ungkap Dion membuka tabir rahasia Anjani.


Ya, saat Dion baru saja keluar dari ruang dokter. Ia pun sama terkejutnya dengan Maharani saat melihat kedatangan Anjani. Namun, saat petugas polisi menjelaskan maksud kedatangannya, ditambah dengan penjelasan yang Anjani katakan, Dion pun mulai mengerti tentang semua yang terjadi. Mulai dari asal usul siapa Anindya, sampai alasan kenapa Anjani akhirnya memberikan Anindya kepada Erma. Seorang wanita yang berprofesi sebagai pengemis dan sering ditemui oleh Anjani di perempatan lalu lintas, saat wanita itu hendak pergi ke kampusnya.


"Iya, Nak. Ini Mama kamu. Mama kandung kamu." Dengan berurai air mata, Anjani mulai melangkah maju mendekati Anindya yang hanya menatap tak percaya bahwa wanita di depan matanya itu adalah ibunya. Seorang ibu yang telah tega membuangnya.


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️