
Selamat membaca!
Dion mulai melangkah masuk sambil menghela napas panjangnya. Sikap Maharani saat ini sudah cukup menjelaskan tentang kesalahannya yang tak berkata jujur pada istrinya akan kedatangan Anjani. Wanita yang telah menghina Maharani dengan kata-kata yang begitu merendahkan istrinya.
"Aku harus menjelaskan semua ini agar Maharani tak salah paham," gumam Dion terus menatap sosok istrinya yang tengah terbaring di atas ranjang.
Setelah berada di dekat ranjang, Dion mulai duduk di tepinya. "Ran, kamu pasti marah ya karena aku tidak cerita bahwa Anjani tadi pagi datang ke rumah?" tanya Dion coba memulai percakapan dengan istrinya yang tampak sedang marah padanya.
Detik demi detik pun terus berlalu. Namun, Maharani masih bergeming tanpa suara. Tak ada jawaban dari wanita itu. Membuat Dion mulai berpindah ke sisi di mana tubuh Maharani menghadap. "Sayang, jawab dong! Kamu jangan marah terus sama aku." Baru beberapa saat Dion berpindah dan duduk, Maharani kembali mengacuhkannya dengan membalikkan tubuhnya ke arah yang berbeda.
"Ran, aku harus apa? Supaya kamu mau mendengar semua penjelasanku. Ran, aku mohon jangan hanya diam seperti ini." Dion terus berusaha merayu Maharani. Namun, berulang kali ia mencoba. Wanita itu tetap diam tak menjawab sepatah kata pun.
"Ya Allah, aku harus bagaimana ini? Sebaiknya aku tunggu Maharani tenang dulu saja deh," batin Dion yang mulai pasrah karena tak ingin memaksa istrinya yang kini sedang dikuasai oleh amarah.
Sampai akhirnya, tiba-tiba Dion mulai terpikir sebuah ide yang mungkin malah bisa membuat Maharani semakin marah padanya. Namun, ia tak punya pilihan lain. Baginya, yang terpenting saat ini adalah bagaimana bisa membuat Maharani mulai bicara padanya terlebih dulu.
"Ya sudah kalau kamu enggak mau bicara juga. Sekarang aku pulang saja dan biar kamu tenang, nanti malam aku tidur di rumah saja ya!" ucap Dion sambil beranjak dari posisi duduknya. Pria itu masih terus menatap Maharani sebelum melangkah pergi. Ia sangat berharap bahwa usahanya untuk membuat Maharani bicara akan berhasil.
Setelah menunggu beberapa detik, Dion akhirnya melangkah untuk keluar dari kamar dengan membawa harapannya yang harus pupus karena rencananya ternyata tak membuahkan hasil apa pun.
"Mas." Suara panggilan itu terdengar lantang, memecahkan keheningan yang terasa pekat seisi ruangan.
Dion seketika menghentikan langkah kakinya. Ia pun memutar tubuhnya untuk melihat Maharani dengan senyum yang mulai terulas dari kedua sudut bibirnya. "Alhamdulillah, rencanaku berhasil." Dion tampak begitu sukacita menyambut teguran dari Maharani yang sudah ditunggunya sejak tadi.
Permintaan Maharani seolah di luar dugaannya. Dion sangat terkejut mendengarnya. Ia tak menyangka bahwa Maharani sampai bisa mengatakan hal tersebut. Keterkejutan yang sebenarnya wajar karena Dion sampai saat ini memang masih belum mengetahui tentang segala ancaman dan hinaan yang dikatakan oleh Anjani kepada Maharani. Dion hanya tahu bahwa istrinya bisa semarah itu karena ia memang belum menceritakan tentang kedatangan Anjani ke rumahnya tadi pagi.
"Astaghfirullah, kamu kenapa sampai mengatakan hal itu?" tanya Dion masih dengan raut wajah penuh keterkejutan.
"Kamu dari tadi ingin aku bicara, kan!? Sekarang aku akan bicara semuanya sama kamu, Mas. Aku akan mengatakan apa yang wanita itu katakan sampai ia bisa begitu merendahkanku di hadapan banyak orang!" Maharani bangkit dari posisinya. Melangkah cepat menghampiri Dion yang masih termangu akan perkataan Maharani. Permintaan untuk menceraikannya. Permintaan yang tak mungkin Dion wujudkan karena ia memang tidak pernah berpikir menjalani pernikahan dengan Maharani hanya untuk sementara waktu saja.
"Kamu kenapa, sayang? Sebenarnya apa yang terjadi? Apa jangan-jangan Anjani datang menemui kamu?" tanya Dion coba mencari tahu apa yang tidak diketahuinya.
"Iya Mas dan itu semua karena kebohongan kamu. Seandainya kamu cerita sama aku kalau Anjani datang ke rumah kamu, pasti semua tidak akan jadi seperti ini. Aku tidak akan seterkejut itu saat Anjani datang ke sekolah Anin. Dia bukan hanya membuat aku kaget dengan kedatangannya, tapi dia juga menyadarkanku bahwa aku memang tidak pantas untuk menjadi istrimu, Mas! Aku mohon lepaskan aku yang mandul ini! Aku tidak akan memberikan kebahagiaan apa pun untuk kamu, maupun Mama Dini. Aku ini mandul dan aku tidak akan pernah bisa memberikan keturunan yang selalu kamu impikan, Mas." Dengan berurai air mata, Maharani terus mengatakan isi hatinya. Sesuatu yang sudah ia pikirkan sejak tadi. Sampai akhirnya, ia berani memutuskan hal yang sebenarnya tak ingin untuk dilewatinya, yaitu sebuah perceraian yang baginya seperti mimpi buruk. Mimpi yang seolah tak pernah pergi dan terus membayangi hidupnya.
Baru selesai Maharani mengatakan semua itu, tubuh wanita cantik itu seketika roboh. Dion pun dengan cepat menangkapnya sebelum tubuh Maharani jatuh membentur kerasnya lantai. "Ran, kamu kenapa?" tanya Dion terlihat panik akan kondisi Maharani yang saat ini sudah tak sadarkan diri.
Dengan sekuat tenaga, Dion menggendong tubuh Maharani dan membawanya menuju ranjang. Ada amarah yang mulai menguasai dirinya. Amarah yang tertuju sepenuhnya pada sosok Anjani. "Awas kau, Anjani! Aku tidak akan pernah memaafkanmu! Hari ini juga aku akan mengusirmu dari rumahku dan aku tidak akan segan lagi untuk membuka aibmu kepada Mama agar dia tahu siapa sebenarnya kamu!"
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif kalian. Terima kasih banyak sudah selalu menunggu setiap episodenya. Follow Instagram Author : ekapradita_87