Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Kedatangan Pengacara


Selamat membaca!


Suasana di meja makan tampak penuh kebahagiaan. Ada Dini dan juga Vania yang sudah terlihat berada di sana, menikmati setiap masakan yang disuguhkan oleh Maharani. Tak hanya kedua wanita paruh baya itu yang bahagia, Dion pun merasakan hal yang sama. Ia sangat bersyukur karena memiliki Maharani adalah sebuah kado terindah yang diberikan oleh Tuhan padanya. Pertemuan secara tidak sengaja di klinik tempatnya bekerja, menjadi awal dari rajutan kisah mereka hingga berakhir di pelaminan.


"Masakan kamu enak banget, Ran. Kamu itu beruntung deh Dion punya istri kaya Rani. Lihat tuh, saking salehanya dia sampai menunda makannya hanya untuk menyiapkan buah sebagai pencuci mulutmu," puji Dini kepada menantunya yang sedang mengupas buah mangga.


"Mama ini terlalu berlebihan. Aku cuma ngupasin buah mangga doang kok, Mah" jawab Maharani yang tak ingin terlalu dipuji oleh sang mertuanya.


Sementara itu, Dion dan Vania hanya menatap kebahagiaan Maharani yang tampak penuh senyuman sejak kehadiran mereka di meja makan.


"Ya Allah, aku bahagia melihat putriku sudah menemukan kebahagiaannya kembali. Aku harap Rani segera mengandung agar kebahagiaan mereka bisa lengkap," batin Vania menatap haru senyuman yang tak pernah pudar dari kedua sudut bibir putrinya.


Di saat mereka semua masih menikmati santap pagi dengan penuh rasa bahagia, tiba-tiba saja bunyi bel yang berasal dari depan rumah menjeda situasi hangat yang tengah terjadi.


"Siapa ya sepagi ini datang bertamu?" tanya Dini dengan penasaran.


Tak hanya Dini, Vania pun tampak mencebik kesal atas kedatangan tamu yang kini terus menekan bel rumahnya. "Iya ya, padahal ini masih pagi sekali. Apa orang itu tidak ada etika bertamu? Ini masih jam 9 pagi padahal."


Maharani yang mendengar kekesalan sang ibu, coba menenangkan dengan penuh kesabaran. "Mah, enggak boleh begitu. Kita itu harus menerima tamu yang datang ke rumah kita dengan baik. Ya, walaupun ini masih pagi, tapi siapa tahu ada hal penting sampai orang itu berkunjung sepagi ini."


Dion yang mendengar perkataan Maharani semakin kagum atas sikap istrinya. Ia benar-benar merasa beruntung karena memiliki seorang istri berhati sangat mulia.


"Ya Allah, begitu baiknya Rani. Aku mohon berikan istriku kebahagiaan. Aku tahu keinginannya terbesarnya adalah memiliki seorang anak, maka itu aku mohon kabulkanlah keinginannya ya Allah," batin Dion penuh kesungguhan.


Tak berapa lama kemudian, Bibi Mei yang telah membukakan pintu dan melihat siapa gerangan tamu yang datang, langsung menghadap untuk memberitahu.


"Permisi Mba Rani, ada seorang pengacara datang ingin menemui Mba," ucap Bibi Mei memberitahu.


"Pengacara?" tanya Vania penuh rasa heran.


"Iya Bu, katanya dia ingin menemui Mba Rani untuk menyampaikan wasiat dari almarhum Mas Rendy."


"Kira-kira apa yang ingin dibicarakan ya?" tanya Dion dengan kedua alis yang saling bertaut dalam.


"Maaf Mas, saya sudah tanyakan, tapi katanya beliau ingin menyampaikan sendiri," jawab Bibi Mei memberitahu.


"Baiklah Bi, kasih tahu saja kalau saya sebentar lagi akan menemuinya. Sekalian Bibi tanyakan kepada tamu mau minum apa dan disediakan ya!" titah Maharani yang langsung dijawab sigap oleh Bibi Mei.


"Baik, Mba. Saya permisi dulu ya." Bibi Mei mulai berlaku pergi meninggalkan ruang makan untuk kembali ke ruang tamu.


Sementara itu, Maharani langsung didera beragam pertanyaan dari mertua dan juga sang ibu.


"Ran, memangnya ada urusan apalagi? Kenapa sepertinya penting banget ya, sampai sepagi ini pengacara itu datang? Terlebih ini baru satu hari kematian Rendy, kan?" tanya Vania yang mulai dibalut rasa penasaran dalam pikirannya.


"Ya, aku juga enggak tahu, Mah. Sebaiknya aku temui dulu ya. Mas, kamu mau ya temani aku?" tanya Maharani dengan lembut.


"Tidak ada alasan untukku menolaknya, sayang. Sebaiknya kita temui dulu, tidak baik membuat tamu menunggu kita terlalu lama," jawab Dion dengan senyum yang mengembang.


Setelah pamit pada kedua wanita paruh baya yang terlihat penarasan akan maksud kedatangan sang pengacara, Dion dan Maharani pun mulai melangkah pergi dengan beriringan meninggalkan ruang makan. Ada rasa penasaran dalam pikiran keduanya. Namun, mereka tak berani menerka sebelum mengetahui secara langsung dari mulut pria yang sudah terlihat menunggu di sofa ruang tamu. Seorang pria berusia sekitar 52 tahun, pengacara Rendy yang memang belum pernah sekalipun ditemui oleh Maharani. Membuat wanita itu memang tak mengenalinya.


"Sebenarnya apa yang ingin disampaikan pengacara itu? Apa ini ada hubungannya dengan wasiat Mas Rendy sebelum meninggal?" batin Maharani penuh pertanyaan dalam pikirannya.


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️


Berikan komentar positif kalian.


Follow Instagram Author : ekapradita_87