Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Tipu Daya


Selamat membaca!


Dion pun kembali dari rumahnya dengan menahan rasa kesal yang masih berkecamuk dalam dirinya. Pria itu sadar, waktu terus bergerak maju dan tak mungkin menunggunya. Waktu di mana ia harus berada di klinik pukul 08.00 pagi. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 06.30, tanda bahwa ia harus segera berangkat, apalagi sebelum ke tempat kerjanya, Dion harus mengantar Anindya dan Maharani terlebih dulu ke sekolah.


"Sebaiknya aku tidak perlu cerita sama Maharani kalau ada Anjani datang ke rumah. Lagipula aku tadi sudah bilang sama Mama kalau Anjani tidak bisa tinggal di rumah, walau hanya sementara waktu saja. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menceritakan kepada Mama tentang Anjani, mungkin nanti sepulang bekerja aku akan coba memberitahukannya. Semoga saja keberadaan Maharani saat ini bisa membuat Mama kuat untuk menerima kenyataan bahwa Anjani bukanlah wanita baik seperti yang Mama kira sebelumnya," batin Dion memutuskan sambil terus menyebrang menuju rumah Maharani. Pria itu sadar betul kedekatan Dini dengan Anjani selama dirinya menjalin kasih dulu, benar-benar begitu dekat layaknya seorang ibu dan anak kandungnya sendiri.


Setibanya di rumah, kedatangan Dion ternyata sudah ditunggu oleh Maharani dengan wajah yang cemas. "Mas, sebenarnya apa yang terjadi sama Mama? Kok kamu ke rumah enggak bilang dulu sama aku?" tanya Maharani melontarkan beberapa pertanyaan sesaat setelah Dion terlihat masuk ke dalam rumah.


Dion sedikit gugup sebelum menjawab pertanyaan dari Maharani. Ia pun terpaksa berbohong karena tak ingin membuat Maharani jadi salah paham kepada dirinya. "Maaf sayang, itu tadi Mama bingung soalnya listrik di rumah kok mati tiba-tiba. Ternyata salah satu lampu di dapur ada yang konslet."


"Oh, jadi begitu Mas. Ya sudah, kamu makan dulu ya! Itu sudah aku siapkan di meja makan," ucap Maharani yang sama sekali tak curiga bila Dion sedang menutupi sesuatu darinya.


"Kita langsung berangkat saja deh, sayang. Aku enggak mau Anin telat masuk ke sekolah," jawab Dion setelah melihat waktu pada pergelangan tangannya.


Sama halnya dengan Dion, Maharani juga melihat waktu yang terpampang pada dinding ruang tamu. Ia pun akhirnya setuju dengan keputusan Dion, walau sebenarnya ia cemas karena suaminya belum sempat sarapan terlebih dahulu.


"Benar kamu enggak apa-apa? Kalau begitu aku buatin kamu roti saja ya. Kamu mau kan, lumayan Mas buat ganjal perut. Nanti saat kamu tiba di klinik aku akan pesankan kamu makanan pakai gi-food," ucap Maharani memberikan ide. Wanita itu langsung melangkah menuju ruang makan tanpa menunggu jawaban Dion yang hanya mengangguk untuk mengiyakan perkataan Maharani.


"Maafkan aku ya, Ran. Aku terpaksa berbohong karena aku tidak ingin kamu salah paham dengan kedekatan Mama dan juga Anjani di rumah. Semoga saja wanita itu segera pergi sebelum kamu nantinya tahu dan jadi salah paham," batin Dion menatap kepergian istrinya dengan rasa bersalah.


Ini pertama kalinya pria itu berkata bohong kepada Maharani. Hal yang terpaksa dilakukannya. Dion beranggapan bahwa keputusannya saat ini adalah sesuatu yang paling tepat, ketimbang ia harus menceritakan hal yang sebenarnya dan nantinya bisa memicu kesalahpahaman antara dirinya dan juga Maharani.


...🌺🌺🌺...


"Sudah ya, sayang! Jangan dipikirin lagi! Biarkan saj l mertuamu seperti itu. Keputusan kamu untuk pergi dari rumah adalah hal yang tepat, apalagi setelah suami kamu meninggal sudah tidak ada lagi yang membela kamu di rumah itu. Cuma maafin Mama ya sayang, kamu enggak bisa tinggal di sini terlalu lama karena Dion meminta kamu untuk pergi," ucap Dini sambil mengusap pucuk kepala Anjani yang masih sesenggukan menangis di dekapannya.


Mendengar perkataan Dini, Anjani seketika mengurai pelukannya dan menatap sendu wajah wanita paruh baya itu seolah meminta simpati yang lebih darinya. "Mama tega ngusir aku dari sini. Aku tuh pergi enggak bawa apa-apa selain uang di dalam tas ini, Mah. Masa Mama tega ngusir aku!" protes Anjani yang semakin terisak di hadapan Dini. Wanita itu tahu betul sikap Dini yang tidak akan tega melakukan hal tersebut, apalagi saat melihatnya menangis seperti sekarang ini.


Benar saja, hati Dini pun seketika luluh. Wanita itu mengabaikan perkataan Dion dan lebih mementingkan kondisi Anjani saat ini. "Ya sudah kamu boleh tinggal di sini, tapi Mama minta tolong ya! Kamu harus punya planning dalam 2 hari ini karena tidak akan mungkin kamu bisa selamanya tinggal di sini, sayang," ucap Dini dengan suara yang lembut. Wanita itu coba menasehati Anjani tanpa melukai hatinya.


"Terima kasih ya karena Mama sudah mau mengerti. Aku janji dalam dua hari ini aku akan memikirkan ke mana aku akan pergi," jawab Anjani yang kembali mendekap tubuh Dini dengan seringai liciknya.


"Dua hari adalah waktu yang cukup untukku menyingkirkan wanita mandul itu dari hidup Dion," batin Anjani penuh rencana.


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️


Satu episode lagi nanti sore ya. Terima kasih banyak atas dukungannya. Follow Instagram Author : ekapradita_87