
Selamat membaca!
Anjani masih terus melangkah dengan perlahan. Namun, langkah yang terlihat gontai itu seketika terhenti saat Anindya melarangnya. "Aku enggak mau Tante mendekatiku!" titah gadis kecil itu penuh penekanan. Ada rasa takut yang tampak jelas di wajahnya. Terlebih ketika ingatan sewaktu Anjani menghina Maharani di sekolahnya kembali terlintas di pikirannya.
"Nak, jangan takut! Mama enggak akan nyakitin kamu, Nak. Mama sayang sama kamu, Anin." Dengan berurai air mata Anjani mengatakannya. Namun, ternyata itu tak cukup memudarkan rasa takut yang kian berkecamuk dalam diri Anindya. Gadis kecil itu kini terlihat mendekap tubuh Maharani dengan begitu erat.
"Anjani, tolong kasih waktu Anin dulu! Biar aku coba menjelaskan padanya. Sekarang kalau kamu tidak keberatan, bisakah kamu menunggu di luar?" Maharani coba menjaga mental Anindya yang terlihat sangat terkejut atas pengakuan Anjani. Pengakuan yang seolah menguak asal usul siapa Anindya sebenarnya.
"Tapi Rani, aku hanya ingin memeluknya. Lagipula aku tidak bisa ada di sini terlalu lama. Aku mohon berikan aku waktu bersama Anin!" pinta Anjani terus memohon dengan isak tangisnya.
Namun, walaupun begitu Maharani tetap bersikeras tak mengizinkan Anjani untuk melangkah lebih dekat dari posisinya saat ini. "Tolong kamu mengerti! Sekarang kamu bisa lihat sendiri, Anin sedang sakit. Jadi aku mohon jangan memaksakan kehendakmu!" Kali ini perkataan Maharani lebih tegas. Ia tak mau mentolerir semua perkataan Anjani selama keinginannya hanya membuat Anindya ketakutan.
Merasa perlu untuk menengahi situasi antara Maharani dan Anjani, Dion pun ikut meminta Anjani agar mengikuti apa yang Maharani katakan. Sesuatu yang harus dipatuhi oleh Anjani, walaupun itu berat sekalipun.
"Anjani, tolong keluar dulu! Kasih waktu Anin untuk tenang, jangan seperti ini! Apa kamu mau kondisi putri kamu akan drop karena kedatanganmu?" Dion terus mencoba membuat Anjani mengerti karena mau bagaimanapun, semua ini adalah demi kebaikan Anindya yang tengah sakit.
Anjani pun akhirnya diam tanpa kata. Tak ada lagi permintaannya yang memaksa. Kini ia mulai sadar bahwa niat baik itu tidak selalu berjalan sesuai harapan. Terlebih atas semua hal yang telah dilakukannya. Bukan hanya telah membuang Anindya dengan menitipkannya pada Erma, Anjani pun tak pernah memikirkan keberadaan putrinya itu. Seolah Anindya tidak pernah ada dalam hidupnya.
"Maafkan Mama, Anin. Maafkan, Mama." Lidah yang sempat kelu itu pun, kini mulai mengulangi permintaan maafnya. Kata maaf yang menandakan bahwa Anjani begitu menyesal atas apa yang pernah dilakukannya di masa lalu. Saat ini, ia malah berpikir untuk memutar waktu dan mengulang masa itu. Masa di mana Anjani memberikan seorang bayi perempuan kepada Erma. Masa yang ingin ia hindari.
"Saya mau memberikan bayi ini ke kamu." Anjani mengatakan itu setelah ia memberhentikan mobilnya di depan sebuah ruko yang saat itu sedang tutup.
"Enggak ah, saya takut, Mba! Tapi memangnya ini anak siapa?" tanya Erma merasa takut karena ia tidak pernah mendengar penawaran seperti itu dari orang lain.
"Ini anak saya. Saya tidak mau merawat anak ini. Makanya, saya ingin memberikan anak saya sama kamu. Anak ini pasti sangat berguna untuk kamu. Kalau kamu bawa anak ini saat mengemis, pasti orang-orang banyak yang simpati sama kamu," tutur Anjani coba merayu Erma agar mau menerima tawarannya.
"Ini ada sejumlah uang juga untuk kamu. Totalnya 20 juta, uang itu cukup buat kamu selama beberapa bulan ke depan. Tolong jangan pernah mencari saya! Kamu cukup bilang sama anak ini dia itu anak yatim piatu, kamu mengerti!" Dengan penuh penekanan, Anjani mengatakan semua itu. Ia seolah lupa jika perkataan itu adalah sebuah doa. Doa yang bisa saja menimpa dirinya suatu hari nanti atau bahkan bisa saja perkataan itu jadi berbalik menimpa putrinya.
"Baiklah kalau begitu, Mba. anak ini biar saya yang merawatnya." Pada akhirnya, Erma pun tak dapat menolak tawaran Anjani. Terlebih saat penawaran itu disertai dengan sejumlah uang yang membuat salivanya sulit sekali untuk ditelannya. Wajar saja, uang yang diberikan oleh Anjani adalah nominal yang sangat besar dan belum pernah ia miliki sebelumnya.
"Bagus, kamu memang pintar! Pokoknya ingat, jangan pernah mencari saya, oke!" titah Anjani kembali mengingatkan Erma.
"Baiklah, Mba. Oh ya, tapi nama anak ini siapa ya? Apa Mba sudah memberikannya nama?" tanya Erma yang kini sudah menggendong bayi yang tadinya berada di tangan Anjani.
"Terserah kamu saja. Kamu saja yang memberikan anak itu nama. Pokoknya bukan urusan saya!" jawab Anjani yang buru-buru ingin menyudahi pertemuannya dengan Erma.
"Kasihan sekali ya bayi ini. Padahal dia sama sekali tidak berdosa, tapi dia sudah jadi korban dari keegoisan orang tuanya. Semoga hidupnya saat dewasa nanti bisa jauh lebih sempurna, walau anak ini tidak memiliki orang tua nantinya," gumam Erma sambil terus menatap wajah yang tak berdosa itu. Wajah mungil yang kini sedang terlelap.
Lamunan Erma pun seketika buyar, saat Anjani memintanya untuk keluar dari mobilnya. "Ya sudah kalau begitu, ingat sekali lagi yang saya katakan ya! Jangan pernah kamu cari saya!" Lagi dan lagi Anjani memberi ultimatum itu kepada Erma. Ia tidak ingin anak itu bisa jadi bumerang dan aib untuk hidupnya di masa mendatang.
Erma pun langsung mengangguk, mengiyakan perintah dari Anjani. "Baiklah, Mba. Oh ya, saya kasih nama anak ini dengan nama Anindya ya. Boleh, kan?" tanya Erma dengan senyum yang mengembang dan penuh rasa canggung. Nama yang tiba-tiba teringat dalam pikirannya. Sebuah nama yang jika di kampungnya memiliki arti sempurna.
"Ya terserah kamu saja. Ya sudah, saya ada janji dengan teman saya nih!"
Erma pun keluar dari mobil dengan membawa satu tas yang berisikan keperluan Anindya dan sejumlah uang di dalamnya.
"Semoga saja aku tidak pernah bertemu lagi dengan anak itu. Ini semua gara-gara kamu Rendra! Seandainya kamu mau tanggung jawab, pasti aku tidak sampai hati melakukan semua ini," batin Anjani masih menatap geram kepergian Erma. Tanpa simpati dan tanpa ada rasa empati karena kehilangan anak yang baru satu bulan dilahirkannya.
Bersambung ✍️