
Selamat membaca!
Sekembalinya Dion dari toilet, ia tetap tak melihat tanda-tanda ada siapapun yang hendak datang ke rumah itu. Dion pun akhirnya hanya bisa pasrah dan mulai duduk di samping Anjani. Hatinya teramat resah karena sebentar lagi, pria itu akan mulai mengucapkan kalimat ijab qobul-nya di hadapan seorang penghulu.
"Ya Allah sekarang bagaimana ini? Maafkan aku, Rani. Maafkan aku. Aku tidak bisa melakukan apa-apa," batin Dion yang hanya bisa pasrah dan mulai menjabat tangan sang penghulu.
"Saudara Dion, ikuti semua perkataan saya ya!" titah penghulu itu memberitahu.
Di samping Dion, Anjani tampak semringah melihat momen di mana sebentar lagi dirinya akan resmi menjadi istri dari seorang Thoriq Dion Prasetya.
"Sebentar lagi Dion akan sah menjadi suamiku. Maafkan aku ya wanita mandul, aku jadi merebut suamimu. Lagipula kasihan juga jika Dion terus bersama kamu, dia tidak akan pernah bisa merasakan bagaimana bahagianya memiliki seorang keturunan," gumam Anjani tertawa puas penuh kemenangan dalam hatinya.
"Saudara Thoriq Dion Prasetya bin Damar Prasetya, saya nikahkan dan kawinkan Anda dengan Anjani Priscilia binti Farhan Haris Subrata dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar, tunai." Penghulu itu pun menghentakan tangan Dion bersamaan dengan tatapan sinis Anjani saat pria itu melirik ke arahnya. Membuat Dion tak punya pilihan selain harus mengatakan hal yang begitu berat diucapkannya.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Anjani Priscilla binti Farhan Haris dengan mas kawin tersebut dibayar, tunai." Lidah yang sempat kelu itu akhirnya tuntas menjawab ijab dari sang penghulu. Membuat Anjani merasa sangat bahagia saat ini.
"Akhirnya kita resmi menjadi suami-istri, Dion." Anjani tampak semringah mengatakan hal tersebut. Namun tiba-tiba, kebahagiaan itu seketika sirna saat kedua saksi mengatakan ijab qobul tidak sah karena Dion kurang lengkap menyebutkan nama Anjani.
"Kita ulangi lagi ya!" titah sang penghulu kepada Dion yang menampilkan raut wajahnya yang datar.
Perkataan dari penghulu itu tak ditanggapi dengan baik oleh Dion yang hanya diam tanpa kata. Sampai akhirnya, Anjani pun mendekatkan mulutnya pada daun telinga Dion untuk berbisik. "Kalau kamu tidak mengatakan ijab qobul ini dengan benar, maka aku akan menghubungi anak buahku untuk membunuh Mama Dini. Apa kamu memang menginginkan hal itu terjadi?" ancam Anjani dengan suara berbisik yang membuat Dion tampak begitu geram terhadapnya.
Apa yang dikatakan oleh Anjani, benar-benar melemahkan Dion. Pria itu sama sekali tidak ingin bila ibunya harus menjadi korban atas obsesi cinta dari Anjani kepadanya. Obsesi untuk memilikinya tanpa memikirkan orang lain dan entah perbuatan itu salah atau benar.
"Baiklah, Anjani. Aku akan mengatakannya! Tapi ingat! Lepaskan ibuku! Aku tidak akan memaafkanmu kalau sampai ibuku terluka," ungkap Dion yang balik mengancam Anjani dengan berbisik di dekat daun telinga wanita itu.
"Saudara Dion, apa Anda sudah siap sekarang untuk mengulanginya?" tanya sang penghulu kembali setelah melihat hal yang tak biasa terjadi di depan matanya. Sesuatu yang wajar karena Anjani memang tidak mengatakan bahwa pernikahannya kali ini adalah keterpaksaan karena Dion berada dalam ancamannya.
Setelah hanya bergeming tanpa kata, barulah Dion menanggapi dengan sebuah anggukan kepala. Membuat sang penghulu pun mulai mengulangi prosesi ijab qobul yang tadi sempat gagal karena kesalahan Dion.
"Baiklah, ikuti saya lagi ya!" pinta penghulu itu dengan menyimpan tanda tanya dalam pikirannya.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Anjani Priscilla binti Farhan Haris Subrata dengan mas kawin tersebut.." Belum sempat Dion menyelesaikannya tiba-tiba suara gaduh mulai terdengar. Membuat prosesi ijab qobul terhenti. Anjani pun seketika menoleh ke belakang tubuhnya. Ia tampak terkejut, saat beberapa polisi' berseragam datang ke rumahnya.
"Saudari Anjani, Anda kami tangkap atas kasus penculikan saudari Dini, ibu dari Dokter Dion!" kecam seorang polisi yang langsung meringkus kedua tangan Anjani.
Perasaan Dion seketika menjadi lega. Rasa sesak yang sejak tadi menghimpit dadanya, seolah sirna tak tersisa. Terlebih di saat sosok wanita yang teramat dirindukannya datang menghampirinya. Membuat senyuman langsung terulas dari kedua sudut bibirnya.
"Mas Dion," ucap Maharani, mendekap Dion dengan begitu eratnya.
"Ran, maafkan aku ya. Maaf karena aku sempat berbicara seperti itu. Kamu tahu kan, aku tidak mungkin melakukan hal itu?" ungkap Dion sambil mengurai pelukan istrinya. Menatap kedua mata indah Maharani dengan dalam.
"Aku pikir kamu menceraikan aku setelah melihat hasil test pack aku negatif, Mas. Aku benar-benar hancur saat itu. Aku sampai sulit sekali bernapas dan hanya terdiam di dalam ruangan. Aku bingung saat itu, Mas. Bingung apa yang harus aku lakukan. Sampai akhirnya, Indah datang dan masuk ke dalam ruangan dengan tergesa-gesa. Dia memberikan aku surat ini dan aku langsung menghubungi polisi sesuai dengan apa yang kamu tulis. Aku juga sempat bertanya kepada Indah, apa arti test pack aku itu, saat Indah menjawab bahwa aku hamil, seketika duniaku yang runtuh mulai kembali utuh. Aku bahagia dan sekejap melupakan hal yang sedang terjadi karena Anjani. Maafkan aku ya, Mas. Maaf karena aku memang tidak tahu, apa arti dua garis merah pada test pack itu," tutur Maharani menceritakan apa yang terjadi setelah Dion mengatakan talak padanya.
"Kamu enggak salah, sayang! Tapi di sini aku yang salah. Semua masalah ini berasal dari masa laluku, jadi aku yang harusnya minta maaf sama kamu. Maafkan aku karena telah membuat kamu sampai mengalami hal ini. Oh ya, selamat ya, sayang. Akhirnya, kamu bisa mengandung dan akan menjadi seorang ibu." Keduanya pun kini kembali saling mendekap dengan erat. Melepas rindu yang sempat membuncah dalam dada. Tak ada lagi resah yang terasa, selain bahagia yang mulai menyapa dengan indah. Kebahagiaan yang dapat menggantikan kelam yang sempat merajai waktu di mana mereka pernah terpuruk hingga bisa bangkit dan kembali tersenyum.
Momen penuh haru antara Dion dan Maharani pun benar-benar membuat Anjani menatap iri ke arah mereka. Namun, ia tak bisa melakukan apa-apa ketika polisi terus memaksanya melangkah menuju mobil patroli yang sudah terparkir di depan mobilnya.
"Ayo cepat jalan! Dasar wanita aneh! Padahal kamu itu cantik dan seorang dokter lagi, tapi kenapa kamu bisa berpikir untuk melakukan hal seperti ini? Apa kamu lupa? Negara ini adalah negara hukum dan bisa membuat rencana kamu gagal. Sekarang pada akhirnya kamu akan dipenjara untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu. Cepat katakan di mana anak buahmu, menyekap ibu Dini?"
Tanpa bisa berkelit lagi, Anjani pun mulai menjawab pertanyaan salah satu petugas polisi yang dengan paksa memasukkannya ke dalam mobil.
"Awas kalian! Aku benar-benar enggak terima dengan semua ini, apalagi wanita mandul itu ternyata hamil. Aku enggak rela kalah dari wanita itu!" geram Anjani atas apa yang terjadi saat ini.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif kalian. Terima kasih banyak. Follow Instagram Author : ekapradita_87