
Selamat membaca!
Perasaan sedih yang sempat hadir dalam hati Maharani, perlahan berangsur hilang saat kedua matanya mulai menatap sekeliling gedung pernikahan yang sudah terlihat indah dengan dekorasi yang tertata baik di setiap detailnya.
Tak ada lagi parasnya yang sendu. Bukan hanya kesadarannya yang memaksanya harus tampil bahagia. Namun, juga permintaan dari Vania dan Dini yang ia ingin melihat dirinya bahagia di hari pernikahannya.
"Ya Allah, aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk bahagia di saat Mas Rendy telah tiada, tetapi ini juga bukan hal yang adil untuk Dion jika dia melihatku bersedih di hari pernikahan kami. Jadi aku harus bahagia apapun yang terjadi! Mau bagaimanapun pernikahan ini adalah sesuatu yang sangat aku nantikan," batin Maharani sambil menatap punggung calon suaminya yang terus melangkah untuk menuju ruang pengantin.
Beberapa jam kemudian setelah semua persiapan selesai dilakukan, Maharani terlihat anggun dengan nuansa serba putih. Sama halnya dengan Dion yang juga tampil dengan warna yang senada, keduanya tampak serasi saat melangkah menuju tempat di mana ijab qobul akan berlangsung.
Satu meja yang sudah di dekor dengan beberapa kursi yang mengelilinginya. Kala itu jantung Dion entah mengapa berdebar lebih cepat dari biasanya. Rasa gugup yang tadi tak dirasakannya, kini seakan mulai mengalir di pembuluh darahnya.
"Ya Allah, aku gugup. Semoga saja aku bisa melalui ijab qobul ini dengan lancar," gumam Dion yang mulai duduk di kursinya sambil memandangi seorang pria yang bertindak sebagai wali dan penghulu yang sudah memindainya dengan senyuman.
"Saudara Dion, apa sudah siap?" tanya penghulu memulai dengan ramah.
"Iya Pak, Insya Allah saya siap."
"Santai saja Dion, semua pasti akan lebih mudah dilalui kalau kamu tidak gugup," ucap Rahman coba menenangkan Dion yang terlihat sangat gugup saat ini.
Dion pun tersentak kaget, saat rasa gugupnya ternyata dapat dibaca oleh Rahman, paman dari Maharani yang bertindak sebagai wali pernikahannya. "Iya Om, Insya Allah saya bisa Om."
"Baiklah kita mulai ya?" tanya penghulu memastikan kesiapan Dion.
Sementara Maharani masih terus melihat calon suaminya yang memang benar-benar tampak gugup hingga membuat dahinya tampak lembab "Dion kamu berkeringat sekali," ucap Maharani sambil menggunakan sehelai tisu untuk mengusapnya.
"Terima kasih Rani," jawab Dion tersenyum malu.
Ijab qobul pun mulai berlangsung hingga membuat suasana haru tampak menyelimuti hati Dini dan Vania. Sebuah momen yang akan menyatukan keduanya menjadi satu keluarga.
"Aku sangat bahagia Vania, akhirnya persahabatan kita bisa berubah menjadi kekeluargaan karena kedua anak kita akan menikah," ucap Dini sambil menoleh untuk sejenak melihat sahabatnya yang berada tepat di sampingnya.
"Iya aku juga tidak menyangka Dini, tetapi aku bahagia dengan semua ini. Dion itu baik dan aku yakin, dia bisa membuat Rani bahagia," jawab Vania dengan seulas senyuman dari kedua sudut bibirnya.
"Rani juga wanita baik, Vania. Aku sebagai ibu Dion sangat beruntung karena Dion mendapatkan istri sepertinya."
"Terima kasih ya Din," ucap Vania sambil menggenggam tangan sahabatnya yang ada di atas pangkuannya.
Kembali ke acara ijab qobul yang hampir memasuki fase akhir, tampak sang penghulu sudah menjabat tangan Dion dengan erat. "Saudara Thoriq Dion Prasetya bin Damar Prasetya, saya nikahkan dan kawinkan saudara dengan Fanny Maharani binti Yusuf Bachtiar dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar, tunai."
"Saya terima, nikah dan kawinnya Fanny Maharani binti Yusuf Bachtiar dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar, tunai," jawab Dion dengan lancar tanpa ada hambatan apa pun. Walaupun dengan jantung yang berdebar, tetapi Dion pada akhirnya bisa mengucapkan ijab qobul tersebut tanpa kesalahan di kesempatan pertamanya.
"Bagaimana saksi?" tanya penghulu kepada kedua saksi yang berada di kiri dan kanannya.
Kedua saksi pun menjawab sah dan prosesi ijab qobul kala itu ditutup dengan doa dari sang penghulu. Hari itu betapa bahagianya Maharani karena akhirnya luka masa lalunya berhasil digantikan dengan kebahagiaan oleh seorang Thoriq Dion Prasetya. Seorang dokter tampan yang merupakan tetangganya, anak dari Dini, sahabat dari ibunya.
"Alhamdulillah, semoga aku bisa memberikan kebahagiaan untuk Dion dengan menjadi istri yang sempurna. Walaupun aku tidak sepenuhnya yakin, tetapi aku masih sangat berharap akan keajaiban-Mu ya Allah. Aku ingin sekali hamil dan memberikan kebahagiaan itu kepada Dion juga Mama Dini," batin Maharani saat Dion mengecup keningnya dengan penuh kelembutan.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
Saya kembali setelah sakit karena vaksin.
Semoga ke depannya saya bisa terus update dan tidak ada halangan lagi. Maaf ya kalau lama updatenya. Makasih semua yang sudah sabar menunggu.