Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Perasaan Tidak Enak


Info penting : Tolong baca eps 27 dulu ya kemarahan Rendy. Ada tambahan sedikit agar kalian mengerti episode kedepannya. Terima kasih.


🌺🌺🌺


Selamat membaca!


Nina terus mencoba menghubungi Angga selepas kedua polisi itu pergi dari rumahnya. Namun, sayangnya panggilan itu selalu saja tidak berhasil terhubung. Angga yang tak ingin diganggu saat menjalankan misinya, sengaja mematikan ponselnya.


"Ya ampun Angga, kenapa enggak dijawab sih? Bagaimana ini? Apa aku harus cepat ke rumah Maharani ya?" Tanpa berpikir lama, Nina bergegas bangkit dari posisi duduknya. Wanita itu terlihat amat panik. Wajar saja, saat ini ia benar-benar takut bila sesuatu hal yang buruk terjadi pada Dion akibat orang suruhannya. Ia merasa begitu bersalah karena telah picik dan membiarkan pikirannya menyudutkan Maharani atas kematian sang kakak.


"Semoga aku belum terlambat untuk mencegah Angga melakukan semua itu," batin Nina sambil terus melangkah keluar dari rumah, menuju mobil yang terparkir di teras.


🌺🌺🌺


Satu jam pun berlalu dengan begitu cepat. Matahari kini mulai terlihat terik menerpa semesta. Cahayanya bahkan begitu terasa menyengat kulit ketika secara langsung menerpa. Saat ini, suasana rumah yang tadinya hingar-bingar dengan celotehan Vania dan Dini, seketika berubah senyap sejak kedua wanita paruh baya itu pergi, mengurus sebuah acara pernikahan di kawasan Kuningan. Acara yang memang menggunakan jasa WO Vania.


Kini tinggallah Maharani berkawan dengan sepi. Tanpa ada yang menemani raganya bicara. Wanita itu pun memutuskan untuk berdiam diri di kamar. Menunggu kepulangan suaminya yang baru dua jam lalu berangkat bekerja.


"Sepi banget deh di rumah cuma sendiri. Mama pergi, Mama Vania juga ikut pergi. Bahkan Bibi Mei juga lagi belanja ke pasar," gerutu Maharani dengan semburat jenuh yang tersirat di raut wajahnya.


Ketika rasa jenuh itu kian mengusik ketenangannya, tiba-tiba saja Maharani teringat akan sosok suaminya.


"Sekarang Mas Dion mungkin sudah sampai di klinik. Sebaiknya aku coba tanyakan saja deh." Maharani yang sedang dilanda mood tidak enak sejak tadi mulai mengambil benda pipih miliknya yang berada di atas nakas. Tepatnya di samping ranjang, tempatnya berada saat ini.


"Kok HP-nya Mas Dion enggak aktif ya? Enggak biasanya Mas Dion sampai mematikan ponselnya saat sedang bekerja di klinik." Pikiran Maharani seketika semakin tak menentu arahnya. Rasa cemas dibalut resah, kian melekat dalam dirinya saat ini. Namun, Maharani bisa apa. Ia tidak ingin pergi dari rumah tanpa izin suaminya. Bahkan tawaran dari Vania dan Dini yang mengajaknya untuk ikut bersama mereka pun ditolak karena Dion belum menjawab pesan singkat yang dikirimnya. Begitulah Maharani, ia selalu patuh terhadap suaminya. Baginya, menjadi seorang istri bukan hanya bersikap dan patuh di depan suaminya, tetapi juga ketika sang suami tidak bersamanya di rumah.


"Kenapa perasaanku jadi semakin tidak enak ya memikirkan Mas Dion?" Maharani tampak panik. Wajahnya kian menggambarkan betapa wanita itu begitu cemas memikirkan suaminya. Terlebih kejadian yang tadi dialaminya, seperti sebuah firasat yang benar-benar mengusik ketenangannya.


Maharani bangkit dari posisi tidurnya. Wanita itu duduk di tepi ranjang dengan jemari yang masih sibuk mengirim pesan singkat kepada suaminya. Namun, tanda centang satu semakin membuat resah di hatinya kian membuncah.


"Apa sebaiknya aku coba ke klinik saja ya? Tapi bagaimana ya? Aku kan belum izin sama Mas Dion." Tiba-tiba saja kenangan masa lalu akan perselingkuhan Rendy kembali menelusup masuk ke dalam pikirannya. Apalagi kenangan itu benar-benar nyata karena Maharani melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika Rendy bermesraan dengan Celine.


"Tidak, tidak, Mas Dion tidak mungkin seperti itu. Pasti karena pasien di klinik sedang ramai. Apalagi kan Mas Dion bilang bahwa dokter di klinik hari ini cuma satu," ucap Maharani yang tiba-tiba dikejutkan dengan suara ketukan pintu yang terdengar keras dari depan rumahnya.


"Siapa ya itu? Apa Bibi Mei? Tapi kalau Bibi Mei untuk apa dia mengetuk pintu segala. Bukannya dia membawa kunci rumah sendiri. Sebaiknya aku lihat saja deh." Maharani pun mulai bangkit. Melangkah dengan cepat keluar kamar dengan membawa rasa penasaran yang tengah bertahta dalam pikirannya.


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️


Berikan komentar positif kalian.


Terima kasih banyak telah setia menanti updatenya. Follow Instagram Author : ekapradita_87