
Selamat membaca!
Perjalanan yang awalnya penuh duka, kini berganti senyuman di wajah Maharani. Tak lagi ada kesedihan. Semua seakan sirna bersama waktu yang telah beranjak.
Setibanya di rumah, kedatangan keduanya sudah disambut hangat oleh Vania dan juga Dini yang menunggu mereka dengan rasa cemas. Bagaimana tidak, berulang kali panggilan telepon dari keduanya gagal terhubung. Membuat dua wanita paruh baya itu, benar-benar dilanda rasa cemas sejak menanti kepulangan mereka.
"Kalian ini, kenapa suka buat cemas seperti ini sih?" protes Vania yang diakhiri sebuah pertanyaan kepada putrinya.
Sama halnya dengan Vania, Dini pun juga menegur putranya yang tak bisa dihubungi sejak kepergian mereka. "Mama itu cemas mikirin keadaan kamu sama Maharani, soalnya kalian sudah dua jam enggak ada kabar."
Tak ingin membuat kedua wanita istimewa dalam hidup mereka terus dilanda rasa cemas, Maharani dan Dion pun coba meredakannya dengan langsung meminta maaf. Mereka sudah sepakat sebelum keluar dari mobil. Sepakat untuk menutupi apa yang telah terjadi di rumah duka, sewaktu mereka datang.
"Maaf ya Mah, tadi itu aku sama Mas Dion enggak enak ninggalin rumah duka. Maklum di sana juga ada Nina jadi aku harus menenangkannya dulu." Maharani berkilah. Mengatakan hal yang tidak sebenarnya terjadi. Ada rasa tak enak di hatinya. Namun, ia berpikir ini adalah keputusan tepat agar sang ibu dan juga mertuanya tidak terlalu mengkhawatirkannya.
Kebimbangan Maharani yang tengah diselimuti rasa bersalahnya seketika pecah, di saat melihat raut wajah kedua wanita paruh baya itu tersenyum sambil berbisik. Maharani coba menguping dengan mendekatkan daun telinganya. Namun, sang ibu begitu sigap menarik tubuh sahabatnya hingga beringsut mundur menjauhi mereka.
"Ih, Mama kenapa sih? Kok bisik-bisik begitu?" protes Maharani menuntut jawaban atas pertanyaan yang hanya diabaikan oleh Vania maupun Dini.
Dion menatap penuh selidik. Tak jauh berbeda dengan sang istri, ia pun coba mencari tahu sambil mendekatkan wajahnya kepada sang ibu. Sampai akhirnya, kedua wanita itu memutuskan untuk melangkah pergi meninggalkan keduanya.
"Lho, Mama mau ke mana?" tanya Dion semakin penasaran atas sikap Dini dan juga Vania.
"Sudah kalian di sini saja ya! Soalnya rumah kita enggak boleh kosong, harus ada yang nempatin. Kamu pasti paham, kan, Dion?" ungkap Dini yang diakhiri sebuah pertanyaan dengan alis terangkat.
Maharani dan Dion saling menatap ragu. Mereka seketika mulai sadar bahwa malam ini adalah malam pengantin bagi keduanya. Ya, hari ini mereka baru saja menikah dan malam ini merupakan malam pertama untuk mereka lalui bersama.
"Rani, nanti pagi Mama datang masakin kamu sama Dion jadi kalian tidak usah buru-buru keluar dari kamar ya!" titah Vania dengan mengembangkan senyuman.
Tanpa menunggu jawaban putrinya yang tengah bersemu merah karena mendengar perkataan Vania, wanita paruh baya itu kembali melenggang bersama Dini yang dirangkulnya. Kedua wanita itu penuh sukacita keluar dari rumah dan langsung menutup pintunya kembali.
"Kamu saja dulu, kamu mau ngomong apa?" tanya Dion yang juga tengah dilanda rasa canggung. Canggung untuk memulai karena ini adalah pengalaman pertama baginya. Tak ada yang bisa menggambarkan kebingungannya, ia coba merasa pintar dan biasa menghadapi situasi asing yang tak pernah dialami. Namun, ia merasa tak bisa. Lidahnya kembali kelu. Bahkan kedua tangannya mulai membeku. Ia praktis hanya mengandalkan kedua matanya untuk bicara lewat tatapannya. Sampai akhirnya, terlintas di pikirannya untuk merengkuh tubuh Maharani dan membawanya ke kamar, seperti kebanyakan film romantis yang pernah ditontonnya.
"Mas, aku duluan deh ke kamarnya ya." Maharani lebih berhasil menepikan situasi canggungnya. Ia mulai melangkah menaiki anak tangga setelah perkataanya disambut Dion dengan senyuman. Namun, di saat pandangan mata wanita itu tak lagi melihat ke arahnya, dengan tiba-tiba Dion langsung merengkuh untuk menggendong tubuh Maharani.
Maharani tercekat dan sempat berteriak karena kaget. Namun, teriakan itu malah ditanggapi dengan penuh suka cita oleh kedua wanita paruh baya yang ternyata masih menguping di depan pintu rumah.
~ "Mas, lepaskan aku! Aku bisa jalan sendiri ke atas, Mas!" protes Maharani.
"Kamu dengar itu Vania, sepertinya rencana kita berhasil. Semoga malam pertama mereka akan jadi malam yang indah untuk keduanya dan Maharani segera dianugerahi seorang anak agar keluarga kecil mereka bisa semakin sempurna."
"Betul kamu Dini. Pokoknya yang paling penting adalah kita bisa secepatnya menggendong cucu," jawab Vania yang tak kalah ramai dari sahabatnya itu.
Malam itu, dua sejoli yang akhirnya dipersatukan oleh takdir, kini saling memadu kasih di kamar yang ternyata telah disiapkan oleh Vania dan juga Dini. Kamar pengantin dengan taburan bunga dan wangi dari aromaterapi yang menyamankan suasana seisi kamar. Belum lagi, cahaya temaram dari lilin yang sengaja diletakkan di atas nakas, semakin membuat kamar pengantin itu benar-benar terkesan romantis. Membuat sepasang pengantin itu mulai menyibukkan diri dengan melucuti satu persatu pakaian mereka. Ranjang pun mulai tak bergeming, mengikuti permainan yang dilakukan keduanya malam itu. Malam di mana kehidupan baru akan mulai dijalani keduanya sebagai sepasang suami-istri.
"Aku mencintaimu, Rani." Dion terus menciumi tubuh Maharani yang sudah tak lagi dibalut sehelai benang pun.
Sementara Maharani, mulai merasakan hal yang begitu canggung dan sudah terlalu lama tak dirasakannya. Situasi di mana pria yang dulunya asing baginya kini berubah status sebagai seorang pria yang akan menjaganya seumur hidup dalam ikatan pernikahan.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif kalian.
Terima kasih banyak.
Follow Instagram Author : ekapradita_87