
Selamat membaca!
Langkah Vania yang tergesa, disusul oleh Maharani yang mengikuti tepat di belakangnya. Kini keduanya pun tampak sudah menuruni anak tangga dan seketika kedua mata Maharani membeliak saat dipertengahan anak tangga, Vania sejenak menghentikan langkah kakinya, hingga Maharani mulai melihat sosok pria berpakaian putih sudah berada di ruang tamu rumahnya.
"Mah, ini maksudnya apa? Dion dan Tante Dini yang jadi tamu kita?" tanya Maharani dengan kedua alisnya yang saling bertaut.
"Maaf ya, Mama bohong sama kamu. Mama cuma ingin tahu perasaanmu sama Dion seperti apa," ungkap Vania dengan senyum yang mengembang.
Kedua pipi Maharani mulai merona, saat ia mengetahui yang datang ternyata adalah seorang pria yang memang diharapkannya. Terlebih saat Dion tersenyum ke arahnya, Maharani sampai membuang pandangan matanya agar tak melihat pria itu.
"Ayo sayang, kasihan tamu kita sudah menunggu lama!" titah Vania sambil menarik tangan Maharani kembali untuk menuruni anak tangga.
Sementara itu, Dion yang masih terus menatap Maharani sejak kemunculannya, kini coba menepikan rasa gugup yang tengah menggerogoti ketenangannya. Ia tak ingin rasa gugup itu membuatnya membisu, walau kecantikan Maharani sudah membuatnya terpukau.
"Ya Tuhan, semoga saja aku bisa mengatakan semuanya dengan lancar. Bismillah," batin Dion meyakinkan dirinya bahwa ia bisa melewati semua ini, walau pria itu masih belum mengetahui jawaban apa yang akan diberikan oleh Maharani.
"Nak Dion, silahkan apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Vania sesaat setelah dirinya menempati sofa yang ada di seberang Dion.
Maharani pun sudah terlihat duduk di sebelah sang ibu, setelah ia mencium tangan Dini yang menyambutnya dengan sebuah pelukan dan ciuman di kedua pipinya.
Saat lamunan Dion buyar oleh pertanyaan Vania, kini pria itu mulai menatap secara bergantian kedua wanita yang berada di hadapannya. Selesai menarik napas panjangnya, Dion pun mulai membuka suaranya untuk mengutarakan niat baiknya datang menemui Vania dan juga Maharani. "Jadi begini Tante Vania, sebelumnya saya minta maaf, kalau ini agak terlalu cepat, tapi saya sudah benar-benar yakin karena selama satu Minggu ini jawaban yang Allah berikan lewat mimpi saya itu selalu sama. Saya selalu melihat Maharani duduk di sebelah saya, melangkah bersama saya dan bahkan salat di belakang saya. Maka itu, saya putuskan untuk memberanikan diri, saya ingin melamar Maharani untuk menjadi istri saya, Tante." Perkataan Dion terdengar sungguh-sungguh, hingga membuat Maharani sangat terkejut mendengarnya. Ia tak menyangka jika Dion sampai melakukan semua itu hanya untuk mendapatkan petunjuk tentang hubungan mereka. Petunjuk yang akhirnya menuntun Dion agar berani melamar Maharani hari ini.
"Jujur saja, Tante senang mendengarnya, akan tetapi Tante menyerahkan semua keputusannya kepada Maharani. Tante percaya, dia pasti bisa menentukan jalan mana yang tepat untuknya," ucap Vania sambil menggenggam tangan putrinya dengan erat. Tangan yang kini ada di atas pangkuannya.
"Gimana Maharani?" tanya Dini menimpali jawaban yang diberikan oleh Vania.
"Ayo sayang jawab!" titah Vania terus menatap Maharani yang saat ini menampilkan keraguan di raut wajahnya.
Setelah membiarkan ketiganya tampak begitu cemas menunggu jawaban Maharani, akhirnya wanita yang tengah diselimuti keraguan itu pun mulai membuka suaranya. "Maafkan aku, Mah. Maaf Dion, maaf Tante, tapi saya tidak bisa menerima lamaran Dion," jawab Maharani dengan kedua mata yang terlihat mulai berkaca-kaca. Mata yang terlihat begitu sedih itu, membuat Dion semakin yakin bahwa jawaban yang diberikan oleh Maharani adalah sebuah keterpaksaan.
"Ran, tolong jawab yang jujur! Aku yakin jawaban itu bukan berasal dari hatimu dan sebenarnya bukan itu yang ingin kamu katakan," sahut Dion menimpali jawaban Maharani.
"Ran, kamu jangan berkata demikian! Semua itu hanyalah hasil pemeriksaan dokter dan Mama sangat yakin, hasil itu bukan merupakan takdirmu. Kamu harus ingat! Kamu punya Allah yang dapat membolak-balikan sesuatu hal yang mustahil menjadi kenyataan. Tidak ada yang tidak mungkin terjadi di dunia ini bila Allah menghendakinya, bahkan kemandulanmu sekalipun itu tidak lantas menutup harapanmu untuk memiliki seorang keturunan. Percaya sama Mama!" Vania mulai menangkup kedua sisi wajah putrinya, setelah wanita paruh baya itu mengurai genggaman dari tangan sang putri. Kini Vania menatap dalam kedua mata Maharani yang sudah dipenuhi air mata. Air mata yang memperlihatkan kesedihan yang begitu mendalam.
"Tapi Mah, aku mandul dan tidak akan bisa memberikan Dion keturunan, sedangkan Dion pasti ingin memiliki seorang anak, Mah, apalagi Tante Dini, pasti sangat menginginkan cucu dari Dion dan aku tidak akan bisa memberikan kebahagiaan itu." Maharani pun bangkit dari posisi duduknya dan berlalu pergi begitu saja menuju anak tangga.
Namun, saat Maharani sampai dipertengahan anak tangga, suara Dion seketika menghentikan langkah kakinya. "Ran, tunggu dulu! Tolong dengarkan aku kali ini saja, aku mohon!" pinta Dion yang mulai melangkah menuju anak tangga, tempat dimana Maharani kini terdiam menatapnya.
"Ran, aku itu mencintaimu, itu artinya aku juga mencintai bukan hanya kelebihan yang kamu miliki, tetapi juga kekuranganmu. Aku tidak peduli sama sekali tentang keturunan, saat ini yang aku tahu adalah aku mencintaimu. Aku ingin menghabiskan sisa umurku bersamamu. Sumpah demi Allah, Ran, aku ikhlas jika Allah memang tidak memberikan kita keturunan, tapi kita kan masih bisa mengadopsi anak di panti asuhan. Sekarang aku mohon sama kamu, abaikan tentang kekuranganmu! Tolong jawab, Ran, jawab dengan hatimu, tanyakan! Apakah kamu tidak mencintaiku? Apakah kamu tidak ingin hidup bersamaku? Dan jika memang jawabannya adalah tidak, maka aku akan pergi dan tidak akan lagi mengganggumu!" Selesai mengutarakan seluruh isi hatinya, Dion pun memberikan waktu untuk Maharani berpikir. Pria itu tak mendekat, ia tetap pada posisinya sambil terus menatap wajah Maharani dengan kedua manik mata yang penuh harapan. Harapan agar wanita yang dicintainya itu mau menerima lamarannya.
Lain halnya dengan Dion, Maharani kian bimbang untuk menjawab. Hatinya kini kalut, dibalut resah. Ingin ia mengakui, tapi sulit. Jujur bukanlah pilihan tepat karena ia tahu, semua itu hanya akan memberikan Dion kesedihan. Mau bagaimanapun, anak yang berasal dari darah sendiri merupakan kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Sementara Maharani, tidak bisa memberikan semua itu.
"Maafkan aku, Dion, aku tidak bisa! Maafkan aku, maafkan aku, Tante Dini." Maharani melanjutkan langkahnya yang terhenti, setelah wanita itu menatap Dini yang juga tengah berharap padanya.
Dion tak ingin mengejar langkah Maharani yang mulai pudar di pandangannya. Ia hanya pasrah dan memilih untuk kembali duduk di tempatnya semula. Namun, saat pria itu melewati Vania, wanita paruh baya itu coba menenangkannya dengan sebuah kata-kata.
"Sabar ya Nak Dion, berikan Maharani waktu. Sekarang Tante tinggal dulu, Tante mau ke atas ke kamar Maharani. Kamu tunggu sebentar ya!" titah Dini dengan senyumnya yang mengembang singkat. Ia turut merasakan kesedihan yang kini dirasakan oleh Dion dan juga Dini. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa karena semua keputusan memang ada di tangan Maharani, walau Vania sangat ingin agar putrinya itu bisa berdampingan dengan Dion di pelaminan.
"Iya Tante. Semoga saja Tante bisa meyakinkan Maharani ya," ucap Dion dengan suara yang terdengar lemah seakan tak bertenaga. Ia coba tersenyum, walau terlihat sangat getir.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif dan gift kalian ya.
Terima kasih banyak atas dukungannya.
Follow Instagram Author juga : ekapradita_87