
Selamat membaca!
Setelah tak berhasil menghubungi Dion, raut wajah Vania pun seketika cemas. Ia mulai menganggap apa yang dikatakan oleh Maharani benar adanya. Sampai akhirnya, wanita itu pun langsung mengajak Maharani untuk pergi ke klinik tempat di mana Dion berada.
"Kamu tenang ya, Rani! Jangan berpikir yang macam-macam dulu! Sebaiknya sekarang kita berdoa saja, semoga tidak terjadi apa-apa dengan Dion." Vania coba menenangkan putrinya yang tengah dibalut resah akan perkataan Nina.
"Bagaimana aku bisa tenang, Mah. Nina bilang sama aku kalau dia memerintahkan seseorang untuk membunuh Mas Dion dan kebetulan juga ponsel Mas Dion tidak aktif, Mah. Aku takut, Mah. Aku takut bila sesuatu yang buruk menimpa Mas Dion." Maharani masih terus menangis dengan terisak. Saat ini, ia tak dapat menahan kesedihannya karena memang baginya kehilangan Dion merupakan luka yang teramat menyakitkan.
"Ya Allah, Ran, kamu jangan bilang begitu. Percayalah Allah pasti akan melindungi Dion. Kamu harus yakin ya! Sekarang lebih baik kita sampai dulu ke klinik, siapa tahu Dion hanya mematikan ponselnya karena sedang melakukan pemeriksaan pada pasien," ucap Vania coba menenangkan putrinya yang masih begitu mengkhawatirkan Dion.
Mendengar perkataan Vania, membuat Maharani mulai menarik napas panjangnya. Ia ingin menuruti perkataan ibunya untuk tenang dan berdoa agar segala pikiran buruk yang kini menghantuinya tidak sampai terjadi.
"Aku harap perkataan Mama benar. Semoga tidak ada sesuatu apa pun yang menimpa Mas Dion. Aku mohon ya Allah, tolong jaga suamiku di mana pun dia berada saat ini," batin Maharani begitu sungguh-sungguh mendoakan suaminya.
Sepanjang perjalanan Maharani hanya diam tak bicara. Hatinya terus berdzikir dan berdoa agar harapannya bisa terwujud. Tak ada hal lain yang diinginkannya, selain melihat suaminya dalam keadaan baik-baik saja. Sama halnya dengan Maharani, Vania pun melakukan hal yang sama. Wanita paruh baya itu terus berharap agar apa yang disampaikan Maharani tidak menimpa menantunya. Vania benar-benar tidak tega bila melihat air mata kembali membasahi wajah putrinya. Ada rasa sedih yang begitu perih ketika itu kembali dilihatnya.
"Ya Allah, sudah cukup ujian yang kemarin Kau berikan pada Rani. Aku mohon, jangan Kau ambil kembali kebahagiaannya. Aku ingin melihat putrinya hidup bahagia bersama suaminya," batin Vania terus berdoa di kedalaman hatinya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam lamanya, kini mobil pun mulai memasuki area klinik. Tak ingin membuang waktu, Maharani langsung keluar di saat Vania sudah memarkir mobilnya di tempat yang memang tersedia di area parkiran.
"Padahal pasien di klinik hari ini sepi, tapi kenapa Mas Dion mematikan ponselnya? Apa yang terjadi? Ya Allah, aku enggak kuat bila sesuatu yang buruk sampai menimpa Mas Dion. Aku mohon lindungilah suamiku," batin Maharani coba menahan air mata agar tak lolos begitu saja membasahi kedua pipinya yang masih terlihat lembab.
Maharani terus berlari menuju ruangan Dion yang berada di sisi kanan lobi klinik. Ia tak memedulikan pandangan setiap pengunjung di sana yang saat ini begitu aneh melihat kepanikannya. Baginya, yang terpenting adalah tiba di ruangan Dion dan memastikan kondisi suaminya sambil berharap bahwa Dion baik-baik saja.
...🌺🌺🌺...
Di dalam mobil, Angga tampak terkekeh penuh kemenangan. Bagaimana tidak, tanpa menyelesaikan misinya yang berakhir dengan kegagalan, pria itu berhasil mendapatkan uang dari Nina setelah membohongi wanita itu.
"Untung saja Nina percaya padaku. Kalau tidak pasti dia tidak akan memberikan sisa pembayaran ini. Semoga pria itu tidak melaporkan penyerangan yang aku lakukan tadi kepada pihak berwajib, tapi sebaiknya untuk sementara aku pergi jauh dulu dari kota ini," batin Angga masih berkutat dengan kemudinya.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif kalian. Terima kasih banyak. Follow Instagram Author : ekapradita_87