
Selamat membaca!
Sore hari pun tiba dan Dion terlihat saat murung saat masuk ke dalam rumahnya. Bahkan pertanyaan dari sang ibu hanya dijawabnya dengan singkat tak seperti biasanya. Meninggalkan keanehan dalam pikiran Dini yang saat ini masih berada di ambang pintu setelah membukakannya untuk menyambut kepulangan Dion.
"Kenapa ya Dion kelihatan aneh banget? Apa dia sedang ada masalah dengan pasiennya di Klinik? Tapi biasanya dia tidak seperti ini?" tanya Dini yang terus memandangi anak laki-lakinya berlalu pergi melewatinya.
Bahkan langkah yang terlihat begitu lemah saat menaiki anak tangga pun masih menjadi perhatian Dini yang tak sedetik pun mengalihkan pandangan matanya. Ia mulai menerka-nerka apa yang terjadi terhadap putranya saat ini. Sesuatu yang sebelumnya memang tak pernah terjadi, terlebih dengan rutinitas kerjanya di klinik yang tak menentu. Walaupun pada dan sibuk sekalipun, namun, saat kembali ke rumahnya, Dion selalu bersikap biasa saja di hadapan sang ibu. Seolah-olah ia sama sekali tak merasa kelelahan sedikit pun karena pekerjaannya.
"Pasti tentang Maharani," ucap Dini menebak karena ia ingat betul, jika tadi pagi Dion sempat memesan sebuah buket bunga dan ketika ditanya, Dion pun memberitahu bahwa itu adalah untuk Maharani.
Setelah menutup pintu rumahnya kembali, wanita paruh baya itu pun langsung menyusul langkah putranya yang sudah berada di lantai dua. Ia merasa perlu untuk menanyakan keadaan putranya karena ia tak ingin jika Dion harus memendam masalahnya seorang diri.
...🌺🌺🌺...
Sama halnya dengan Dion yang sedang murung karena Maharani, Rendy pun terlihat begitu sedih memikirkan hidupnya yang sudah tak lagi sama semenjak Maharani bukan lagi menjadi seorang ratu di rumahnya. Kini ia merasa sangat hampa dan benar-benar kehilangan sosok istri yang sudah begitu setia menemaninya selama ini. Bukan hanya saat bahagia, tapi juga di saat perusahaannya sempat mengalami defisit finansial. Ya, ketika itu Maharani tak pernah berpikir sedikit pun untuk meninggalkannya. Ia tetap setia mendampingi suaminya dan tak peduli akan ancaman kebangkrutan yang saat itu membayangi perjalanan hidup mereka. Padahal di saat perusahaannya sedang diambang kebangkrutan, usia pernikahan mereka baru memasuki satu tahun dan bukan tidak mungkin, Maharani sebenarnya bisa saja pergi meninggalkan Rendy yang saat itu kondisinya benar-benar sedang berada di tempat yang paling dasar. Namun, Maharani bukanlah wanita yang menjadikan harta sebagai prioritas utama dalam hidupnya, tapi baginya, ada yang lebih penting dari sebuah harta, yaitu kejujuran dan cinta.
Jujur dalam menerima segala kekurangan pasangan kita dan mencintainya dengan tulus tanpa menuntut lebih.
"Ran, aku masih tidak rela dengan akhir dari pernikahan kita. Apakah tidak ada cara agar kita bisa bersatu lagi?" Rendy beberapa kali terlihat mencengkram rambutnya dengan kasar. Ia tampak sangat frustasi dan tubuhnya terlihat menyusut, karena semenjak kebohongan Celine terungkap, pria itu jadi kehilangan nafsu makannya.
Perih begitu menyakitkan, hingga membuat air mata mulai menganak di pelupuk mata pria itu. Ia masih belum dapat memaafkan dirinya sendiri, atas semua kesalahan yang dilakukan karena telah mengkhianati Maharani.
Kini pria itu tampak berpikir dengan keras untuk menemukan sebuah cara agar ia bisa kembali kepada Maharani. Rendy tidak ingin jika penyesalan itu terus menggerogoti ketenangannya seumur hidupnya. Penyesalan yang membuat pria itu selalu sulit memejamkan kedua matanya. Belum lagi rasa bersalahnya kepada Maharani sangat mengganggu aktivitas dalam bekerja.
Saat kebuntuan terus dialaminya, tiba-tiba saja sebuah ide gila mulai terbesit dalam benaknya.
"Aku harus meyakinkan Maharani dan mencari seorang pria yang mau menikah dengannya hanya untuk sebuah status dan setelah mereka bercerai, aku bisa kembali lagi dengan Maharani. Aku rela jika harus membayar mahal semua itu, yang penting rencanaku bisa berjalan sesuai keinginanku," gumam Rendy yang mulai dapat tersenyum, walau ia belum sepenuhnya yakin apa Maharani bersedia melakukan semua itu atau tidak, tapi Rendy masih sangat yakin, jika di lubuk hati Maharani yang paling dalam pasti masih ada rasa cinta untuknya.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif kalian ya.
Terima kasih banyak atas dukungannya.
Jangan lupa berikan gift untuk novel ini.
Follow Instagram Author juga ya : ekapradita_87