Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Tertunda


Selamat membaca!


Perasaan itu sungguh mendebarkan. Antara rasa takut dan bahagia terasa menyatu, membuat senyum seakan bimbang apa harus terulas atau terus rapat karena menunggu kepastian. Itulah situasi yang tengah dialami oleh Maharani. Kini wanita itu terlihat sudah berbaring di atas sebuah ranjang yang tersedia di sana. Hatinya begitu menanti detik-detik di mana alat USG akan menempel erat pada bagian perutnya. Sesuatu yang dapat menjawab semua teka-teki kehamilannya.


"Sebentar ya, sayang. Aku tunggu Indah mengambilkan gel-nya dulu ya," ucap Dion sambil mengusap pucuk kepala istrinya dengan lembut.


"Mas, tapi aku takut," sahut Maharani menanggapi perkataan Dion.


Dion mengerutkan keningnya dalam. Perkataan Maharani membuat pria itu merasa perlu untuk meyakinkan istrinya agar lebih tenang saat ini. "Kamu itu takut kenapa, sayang? Memangnya apa yang kamu takutkan? Lagipula yang akan memeriksa kandungan kamu itu kan suami kamu sendiri," ucap Dion menanggapi ketakutan Maharani.


Maharani pun dengan cepat mengibas sebelah tangannya kehadapan Dion. "Bukan itu, Mas. Aku itu cuma takut bila hasilnya nanti malah akan mengecewakanmu. Aku takut." Maharani seketika terdiam dengan bulir bening yang tampak menganak di kedua matanya. Ada harapan yang begitu besar tersirat dari keraguan di wajahnya.


"Kita serahkan saja kepada Allah ya! Apa pun hasilnya nanti, aku pasti akan menerimanya. Bagiku, yang terpenting kamu bahagia. Itu saja sudah cukup untukku."


"Tapi Mas, kamu juga harus bahagia. Masa hanya aku yang bahagia, tapi kamu terus merasakan kekecewaan karena aku man.." Belum sempat Maharani menyelesaikan perkataannya, jari telunjuk Dion langsung menempel erat pada bibirnya. Membuat wanita itu tak bisa melanjutkan perkataannya dan hanya menatap kagum sosok suaminya.


"Jangan pernah mengatakan hal itu lagi ya, sayang! Aku mohon!" titah Dion penuh keyakinan. Tak ada keraguan yang terlihat di mata pria itu saat mengatakan hal tersebut. Hal yang membuat Maharani semakin mengagumi sosok suaminya.


"Kamu itu seperti malaikat, Mas. Aku sungguh beruntung bisa menjadi istrimu. Dulu di ruangan ini ya pertama kali kita bertemu. Waktu itu aku sempat berpikir untuk menolak tawaran, saat kamu Inging mengantarku pulang. Waktu itu aku pikir kamu hanya ingin memanfaatkan kesempatan di saat aku sedang hancur, tapi ternyata aku salah, Mas. Terima kasih ya, sejauh ini kamu sudah menjadi yang terbaik dalam hidupku."


Dion pun kembali mengusap pucuk kepala Maharani. Lalu, ia mulai mendekatkan wajahnya dan memberi sebuah kecupan pada kening istrinya itu.


"Aku mencintaimu, sayang. Hari ini, sekarang, dan untuk selamanya. Tidak peduli apa pun hasil pemeriksaan nantinya," ucap Dion yang mampu membuat air mata Maharani menetes seketika hingga membasahi kedua pipinya.


"Aku juga mencintaimu, Mas." Maharani pun menggenggam erat tangan Dion, kemudian mencium punggung tangan pria itu dengan penuh rasa syukur.


Di tengah keromantisan keduanya, tiba-tiba ketukan pintu mulai terdengar. "Dok." Indah memberi isyarat agar Dion memberi izin padanya untuk masuk.


"Masuk, Indah!" ucap Dion menjawab ketukan itu.


"Permisi Dok, ini gel-nya." Indah menyodorkan gel yang dibawanya kepada Dion. Setelah memberikan gel tersebut, Indah pun kembali keluar dari ruangan. Indah merupakan seorang suster yang memiliki wajah yang cantik. Bahkan saking cantiknya, pikiran Maharani yang mulai tenang kembali terusik karena memikirkan suaminya saat sedang bekerja di klinik.


"Mas, Indah cantik ya?" tanya Maharani sesaat setelah sang suster keluar dari ruangan.


"Masih cantikan kamu, sayang. Kenapa memangnya?" jawab Dion yang diakhiri sebuah pertanyaan.


"Aku tahu deh apa yang ada di pikiran kamu. Kamu pasti mikir yang aneh-aneh ya? Kamu tenang saja, sayang. Indah itu sudah punya suami. Jadi kamu jangan punya pikiran macam-macam ya! Sekarang ayo kita mulai USG-nya. Bismillah ya, sayang."


Dion pun mulai menarik pakaian istrinya ke atas dan mulai mengolesi gel pada permukaan perut Maharani. Namun, di saat Dion hendak menempelkan transduser yang digenggamnya, tiba-tiba ponselnya berdering.


"Mas, itu jawab saja dulu teleponnya! Takutnya penting, Mas," pinta Maharani menyarankan.


Dion pun kembali meletakkan transduser yang digenggamnya dan mulai menjawab panggilan telepon itu.


"Halo, Dion." Suara Anjani terdengar dari seberang sana. Membuat wajah Dion berubah menjadi geram.


"Anjani, ada apa ya dia menghubungiku?" gumam pria itu yang mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️


Halo sahabat semua. Author mau vote nih, kira-kira setelah judul ini, kalian ingin Author melanjutkan karya yang mana :



Sahabatku Canduku


Wanita Penghangat Ranjang


Istri Lumpuh Kesayangan Tuan Ryan (Sekuel dari Sekretarisku Canduku)


Gundik CEO Kejam


Penjara Hati Sang CEO



Silahkan bantu votenya ya πŸ™