
Selamat membaca!
Langkah Dion dan Maharani pun telah sampai di luar restoran. Berbeda dengan Dion yang tampak acuh dengan Anjani, Maharani masih sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan kondisi wanita itu yang tadi sempat terjatuh akibat perlakuan kasar dari suaminya. Membuatnya mulai membaca bahwa ada luka mendalam yang ditinggalkan oleh Anjani hingga menimbulkan kebencian dalam hati Dion. Pria yang romantis dan begitu penyabar terhadapnya.
"Sebegitu bencinya kamu, Mas. Sebenarnya apa sih yang membuat kamu bisa bersikap sekasar itu terhadap Anjani?" tanya Maharani coba memberanikan diri untuk mendapatkan jawaban dari rasa penasaran yang kian memenuhi pikirannya.
Dion yang masih terbelenggu dalam amarah masa lalunya pun seketika menetralkan raut tegang di wajahnya dan mulai tersenyum menatap Maharani.
"Nanti aku pasti cerita sama kamu ya, tapi jangan di sini! Nanti saja setelah kita sampai rumah," jawab Dion yang langsung ditanggapi Maharani dengan balik tersenyum.
"Iya, Mas. Terima kasih ya karena kamu mau cerita sama aku. Sekarang kamu jangan marah-marah kaya tadi lagi ya!" pinta Maharani dengan senyum teduhnya.
"Maafin aku ya karena tadi aku enggak bisa mengontrol amarahku. Pokoknya nanti saat kita sampai di rumah, aku akan cerita semuanya. Nanti pasti kamu akan mengerti, kenapa aku bisa sebenci itu terhadap Anjani."
"Iya Mas." Maharani mengusap lengan kekar suaminya. Mencoba meredakan amarah yang masih tersisa di raut wajah Dion. Terlebih ketika mengucapkan nama Anjani. Nada suara yang terdengar bergetar, seperti menyimpan rasa sakit yang mendalam.
Di saat langkah keduanya semakin dekat dengan mobil Dion yang ada di sisi tengah area parkiran. Tiba-tiba pandangan pria itu langsung tertuju pada sosok gadis kecil yang berada di depan sana. Tepatnya arah jam 2 siang dari posisinya saat ini.
"Gadis kecil itu sedang apa di sini?" tanya Dion dengan nada yang samar. Membuat Maharani langsung melontarkan sebuah pertanyaan pada suaminya.
"Kenapa Mas?" tanya Maharani coba mencari tahu apa yang telah didengarnya.
"Itu di sebelah sana ada seorang gadis kecil. Apa dia tersesat ya di sini?" jawab Dion yang diakhiri sebuah pertanyaan.
Keberadaan gadis kecil itu membuat Dion dan Maharani berbelok ke sisi berlawanan dari tujuan mereka seharusnya. Sampai akhirnya, Dion dibuat terkejut saat ia melihat dari sisi depan gadis kecil itu ada sebuah mobil yang akan berbelok ke arahnya.
"De, awas ada mobil di depanmu!" teriak Dion yang langsung melepas tangannya dari genggaman tangan Maharani.
Pria itu pun dengan cepat berlari menghampiri gadis kecil yang nyaris saja tertabrak. Beruntung, sang pengendara mobil tepat menghentikan laju kendaraannya di depan gadis kecil itu yang seketika menangis dengan terisak karena ketakutan. Bukan hanya sorot lampu yang menerpa tubuh gadis kecil itu, bunyi klakson yang memekikkan telinga terdengar begitu keras sebagai isyarat agar gadis kecil itu segera menyingkir.
"Kamu enggak apa-apa?" tanya Dion langsung menggendong tubuh mungil gadis yang usianya sekitar 8 tahun itu.
"Aku takut," jawab gadis kecil itu sambil menangis.
"Sekarang kamu enggak usah takut lagi ya, ada Om di sini!" ucap Dion coba menenangkan gadis kecil itu.
"Mas, bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Maharani sesaat setelah tiba di hadapan Dion dengan napas yang terengah karena habis berlari.
"Dia baik-baik saja, sayang. Untungnya tidak sampai tertabrak," jawab Dion masih terlihat cemas akan kondisi gadis kecil itu yang terus menangis.
"Pak, kalau punya anak tolong dijagain ya!" Tiba-tiba suara teguran seorang pengendara mobil terdengar begitu lantang. Pria itu tak beranjak keluar dari mobil dan kembali melajukan mobilnya melewati ketiganya dengan perlahan.
"Maaf ya, Pak." Dengan tersenyum Dion membalas teguran itu. Ia tidak mencoba untuk menjelaskan kepada sang pemilik kendaraan. Dion lebih mementingkan kondisi gadis kecil itu saat ini.
"Aku enggak mau pulang." Seketika tangisan gadis kecil itu terjeda setelah mendengar perkataan Maharani.
"Lho, memangnya kenapa kamu enggak mau pulang?" tanya Maharani merasa bingung.
"Aku takut disuruh bibi untuk minta-minta ke sana ke mari lagi. Kalau aku enggak dapat uang banyak, aku pasti dipukul. Kadang aku juga enggak dikasih makan sebagai hukumannya, jadi aku enggak mau pulang, Tante. Aku sudah kabur dari rumah bibi dengan susah payah. Makanya, aku enggak mau kembali lagi ke rumah itu," tutur gadis kecil itu menceritakan apa yang terjadi pada hidupnya.
Sebuah cerita yang menggetarkan hati Maharani. Bagaimana bisa gadis kecil itu dieksploitasi sebegitu kejamnya oleh seseorang? Sedangkan ia saat ini begitu memimpikan kehadiran seorang anak.
"Ya Tuhan kasihan sekali anak ini, apa Kau memang sengaja menghadirkan gadis kecil ini untuk mengisi hidupku?" batin Maharani begitu iba akan kisah gadis kecil itu.
"Sayang, kok kamu malah melamun?" tanya Dion seketika membuyarkan kesedihan Maharani karena memikirkan nasib gadis kecil yang malang itu.
Sekilas Maharani melihat suaminya sebelum mulai berbicara kembali dengan gadis kecil yang sampai saat ini masih berada dalam gendongan Dion.
"Ya sudah kalau kamu memang enggak mau pulang. Kamu bisa tinggal sama Tante, bagaimana? Apa kamu mau?" tanya Maharani sambil tersenyum setelah mengusap bulir kesedihan di sudut matanya.
"Aku mau, Tante. Terima kasih ya." Suaranya yang terdengar lirih semakin membuat hati Maharani tersentuh. Gadis yang masih polos tanpa dosa itu sudah harus menjalani kerasnya hidup di usia belia. Hati wanita mana yang tak merasa iba saat mendengarnya. Terlebih hati itu dimiliki oleh seorang wanita yang tengah berjuang dengan kenyataan pahit karena kemandulannya.
"Ya sudah Mas. Sementara anak ini kita bawa pulang saja ya. Kamu enggak keberatan, kan?" tanya Maharani penuh harap.
"Ya tentu saja tidak, sayang. Mungkin ini sudah takdir dari Allah kalau kita akan dipertemukan dengan anak ini."
"Iya, Mas. Mungkin kehadiran anak ini bisa jadi pengobat rindu dari wanita yang tidak akan pernah bisa memiliki anak seperti aku ini," ucap Maharani terdengar begitu lirih.
Dion tertegun sedih. Mendengar perkataan Maharani yang terdengar piluh. Namun, ia tak bisa mengatakan apa pun selain menggenggam tangan istrinya itu dengan erat dan menatap dalam matanya. Ia tak ingin pembicaraannya didengar oleh gadis kecil yang memang tidak seharusnya mendengar percakapan antara orang dewasa. Terlebih itu mengenai kemandulan istrinya.
Tanpa sepengetahuan Dion dan Maharani, ternyata Anjani telah menguping pembicaraan mereka dari balik mobil yang terparkir rapi di sana.
"Ternyata wanita itu mandul. Ini adalah kesempatan agar aku bisa menyingkirkannya. Akhirnya, aku masih mempunyai kesempatan untuk bisa merebut Dion kembali," batin Anjani dengan sebuah rencana yang mulai terbesit di pikirannya. Rencana yang membuatnya sangat yakin bahwa ia bisa membuat Maharani pergi dari kehidupan Dion untuk selamanya.
🌺🌺🌺
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif kalian. Terima kasih banyak atas dukungannya. Baca juga sambil menunggu novel ini update, cerita yang enggak kalah seru.
One Night Stand With My Boss (Sudah End)