
Selamat membaca!
Setibanya di rumah, kedatangan Maharani dan Dion disambut hangat oleh Vania yang ternyata sengaja menunggu kepulangan putri dan menantunya. Wanita paruh baya itu pun dibuat terkesiap, saat mendapati seorang gadis kecil berdiri di hadapannya dengan tangan yang digenggam erat oleh putrinya.
"Ternyata Mama belum tidur," ucap Maharani langsung meraih tangan Vania dan mencium punggung tangannya diikuti oleh Dion yang juga melakukan hal yang sama dengan sang istri.
"Belum, sayang. Mama itu enggak tenang kalau kalian belum pulang, tapi ngomong-ngomong ini anak siapa? Cantik banget!" tanya Vania sembari mengusap pucuk kepala gadis kecil itu setelah ikut mencium tangannya.
"Kita masuk dulu yuk, Mah. Nanti di dalam, Maharani akan jelasin semua," jawab Dion dengan cepat dan langsung diiyakan oleh Vania lewat anggukan kepalanya.
Vania yang begitu penasaran dengan gadis kecil itu pun segera mengajak ketiganya untuk masuk. Setelah semuanya duduk di ruang tamu, Maharani segera menyampaikan kabar pada Vania mengenai niatnya bersama Dion untuk mengangkat Anindya sebagai putri mereka.
"Mah, tadi aku dan Mas Dion nggak sengaja ketemu sama anak ini di parkiran restoran. Namanya Anindya Putri. Tadi Anin hampir saja ketabrak mobil yang mau parkir, tetapi untung saja mobil itu masih sempat berhenti. Nah, Mas Dion kebetulan lihat kejadian itu dan datang menolong Anin, Mah. Terus selama diperjalanan, Anin cerita kalau kedua orang tuanya sudah meninggal dunia sejak 3 bulan yang lalu. Di Jakarta, Anin tinggal bersama bibinya, tapi bibinya itu sangat jahat, Mah. Katanya Anin sering dipukulin kalau enggak mau ngamen atau jadi pengemis di jalanan, Anin juga dilarang sekolah karena dia harus mencari uang setiap hari untuk kehidupan bibinya yang sudah tak lagi memiliki suami itu. Sampai akhirnya, Anin memberanikan diri untuk enggak pulang dan memilih kabur setelah selesai mengamen. Maka itu, aku dan Mas Dion ingin mengangkat Anin sebagai anak kami. Soalnya aku enggak tega melihat kondisi Anin, apalagi banyak luka lebam akibat kekasaran yang dilakukan oleh bibinya di sekujur tubuhnya. Menurut Mama bagaimana? Mama enggak keberatan, kan kalau Anin tinggal sama kita di rumah ini?" tutur Maharani menjelaskan semua yang terjadi tentang Anindya kepada sang ibu.
Ada raut bahagia yang akhirnya terpancar jelas di kedua matanya, saat perkataan Maharani mulai bertanya tentang kesediaan Vania agar dapat menerima keberadaan Anindya sebagai anak angkatnya.
Seperti pepatah bilang, gayung bersambut kata berjawab. Ternyata apa yang diharapkan oleh Vania benar-benar sesuai dengan harapan Maharani. Ya, wanita paruh baya itu pun langsung mengulas senyum bahagianya sambil menggenggam erat tangan putrinya.
"Mama tidak keberatan sama sekali, sayang. Malah Mama sangat bangga karena kamu dan Dion mempunyai hati yang tulus dan mau mengangkat Anin sebagai anak kalian. Lagian kasihan juga kan kalau Anin terus dibiarkan tinggal sama bibinya yang jahat dan terus disiksa, apalagi dia itu masih terlalu kecil untuk menjalani kehidupan yang keras di jalanan. Jadi Mama sangat setuju jika Anin tinggal bersama kita sebagai anak kalian. Mama sangat berharap dengan kehadiran Anin di tengah-tengah kalian ini bisa memancing kamu agar dapat segera hamil."
Maharani yang baru pertama kali mendengar tentang hal itu pun seketika melontarkan sebuah pertanyaan kembali kepada Vania. Kali ini semburat bingung benar-benar terlukis jelas di wajahnya.
"Maksud Mama, mancing-mancing tuh bagaimana? Sumpah aku baru dengar tentang hal ini, Mah," tanya Maharani menuntut jawaban dari Vania.
"Iya, sayang. Mama itu benar, semoga saja dengan semua yang kita lakukan ini ada sisi positif untuk kamu. Terutama, tentang kehamilan kamu," jawab Dion coba menjelaskan kepada istrinya yang benar-benar dibuat penasaran.
"Nah, ternyata Dion juga tahu tentang itu. Pokoknya, terpenting kalian tetap berdoa dan berusaha saja ya! Jangan pernah putus asa karena Allah pasti punya rencana indah untuk semua umat-Nya, apalagi kamu, Rani. Mama selalu percaya, suatu saat akan ada keajaiban dalam hidupmu," timpal Vania melengkapi jawaban Dion.
Perkataan sang ibu, sungguh membuat hati Maharani begitu berbunga-bunga. Tak ada lagi resah dan rasa cemas yang sempat mengusik ketenangannya. Terlebih ketika Vania benar-benar menyambut baik niatnya untuk mengangkat Anindya sebagai anaknya.
"Makasih banyak ya Mah, karena Mama sudah menerima kehadiran Anindya dalam rumah ini. Aku juga berharap hal yang sama. Semoga aku masih diberikan kepercayaan oleh Allah untuk memiliki seorang anak, walau dokter sudah memvonis aku mandul," ucap Maharani lirih. Air matanya pun seketika jatuh membasahi kedua pipinya. Namun, Vania langsung memeluk tubuh rapuh putrinya itu dengan erat.
Hal yang membuat Anindya ikut merasakan kesedihan Maharani. Gadis kecil itu pun, diam-diam mulai berdoa dengan sungguh-sungguh di dalaman hatinya.
"Ya Allah, aku mohon bahagiakan selalu Mama Rani. Aku enggak mau ada air mata dan kesedihan di matanya. Dia orang baik ya Allah, jadi biarkan Mama bahagia," batin Anindya hanya menatap momen haru yang terjadi antara Vania dan juga Maharani. Walaupun ia tidak mengerti apa itu arti kata mandul. Namun, dari gestur tubuh dan ekspresi wajah yang diperlihatkan Maharani saat mengatakan hal tersebut, Anindya dapat menyimpulkan bahwa saat ini Maharani benar-benar sedang merasakan kesedihan yang mendalam
🌺🌺🌺
Bersambung ✍️
Terima kasih banyak atas dukungannya. Berikan komentar positif kalian ya. Follow Instagram Author : ekapradita_87
Baca juga One Night Stand With My Boss