
Selamat membaca!
Rasa cemas tak bisa ditampik oleh Dion saat ini. Hatinya kian terombang-ambing karena kehabisan cara untuk bisa meyakinkan Maharani. Sampai akhirnya, ia pun menyerah untuk menunggu dan memutuskan pulang dengan membawa kekecewaan di dalam hatinya.
"Mah, aku pulang saja ya. Rasanya semua ini percuma karena sekeras apa pun aku mencoba, tapi Maharani selalu saja menjauh." Pada akhirnya tanpa menunggu jawaban dari sang ibu, Dion pun bangkit dari posisi duduknya dan melangkah dengan gontai untuk pergi.
Sementara Dini, hanya menatap nanar kepergian putranya dengan perasaan sedih yang kian membuncah. Ia paham betul, bagaimana perasaan Dion saat ini. Ada kekecewaan mendalam dan rasa sakit atas penolakan Maharani yang pasti membekas di hatinya. Bagaimana tidak, Dion sudah berkata sedemikian tulusnya, tapi tetap saja Maharani bersikeras menolak lamarannya.
"Mama mengerti kekecewaan kamu, Dion. Semoga saja Vania bisa membuat Maharani mempertimbangkan kembali jawabannya. Saat ini Mama hanya bisa berharap dan terus berdoa yang terbaik untuk kamu, Dion," ucap Dini yang masih menunggu dengan sabar di ruang tamu rumah Vania.
Saat Dini hanya tertunduk dengan doa yang tak putus diucapkannya, suara derap langkah kaki seseorang terdengar menuruni anak tangga. Pandangan Dini pun mulai menatap ke arah sana dengan sorot mata yang penuh harapan. Harapan agar Maharani merubah jawabannya dan percaya bahwa Dion memang takdirnya untuk memulai kehidupannya yang baru. Namun, harapan itu harus kandas, saat pandangan Dini hanya melihat sosok Vania yang turun sendiri tanpa Maharani.
"Ternyata Vania pun gagal meyakinkan Maharani," batin Dini kembali tertunduk dengan tetesan air mata yang tak dapat ditahannya lagi hingga membasahi kedua pipinya.
Kesedihan yang hampir pecah itu seketika buyar saat suara Maharani terdengar memanggilnya. Dini pun tak sempat mengusap air matanya dan langsung mengangkat wajahnya untuk memastikan apa yang telah didengarnya.
"Tante Dini, maafkan Maharani ya." Maharani langsung berlutut di hadapan Dini dengan raut penyesalan karena telah membuatnya bersedih.
"Bangun, Ran! Tidak perlu begini." Dini pun mengangkat tubuh Maharani dan menuntunnya untuk duduk di sebelahnya.
Sementara itu, Vania hanya menatap dengan penuh haru karena pada akhirnya, ia berhasil meyakinkan Maharani lewat sebuah ancaman kecil kepada putrinya. Ya, Vania mengancam bahwa dirinya akan pergi meninggalkan Maharani kalau putrinya itu tidak mau jujur dan menjawabnya dengan hati atas lamaran yang sudah disampaikan oleh Dion.
"Kamu pantas bahagia, Rani. Mama yakin, Dion bisa menjadi imam yang baik untuk kamu dan mau menerima kekuranganmu. Mama percaya itu!" batin Vania dengan linangan air mata yang turut mengiringi perkataannya.
"Tante, Dion ke mana?" tanya Maharani setelah Dini mengurai pelukannya.
"Dion pulang Ran, dia kecewa sama kamu, tapi kamu tenang saja! Tante panggil dia dulu ya." Saat Dini mulai bangkit dari posisi duduknya, Maharani pun menahannya.
"Biar Rani saja yang nemuin Dion, Tante. Mau bagaimanapun ini kesalahan, Rani? Rani yang tak menghargai niat baik, Dion."
"Biar Mama temani ya, Ran!" Vania pun mulai mengekor di belakang putrinya yang sudah berada di depan pintu. Namun, ketika Maharani membuka pintu rumahnya, sosok Dion ternyata tengah berlutut di hadapannya sambil menyodorkan sekotak cincin kepada Maharani.
"Aku harap kali ini kamu tidak menolakku lagi, Ran. Apa kamu mau menikah denganku?" ungkap Dion yang diakhiri sebuah pertanyaan yang terdengar begitu sungguh-sungguh.
Maharani terhenyak kaget dengan apa yang dilihatnya. Ia tak menyangka, bila Dion ternyata sudah menunggunya di depan pintu rumahnya dan telah menyiapkan semua ini. Rasa haru yang kian melelehkan air matanya hingga membuat kedua pipinya basah. Namun, hal yang paling indah justru terjadi di saat Maharani akhirnya menerima lamaran Dion.
"Aku mau Dion. Maaf ya, aku terlalu keras kepala memikirkan jawaban ini," ucap Maharani sambil mengusap air mata di kedua pipinya secara bergantian.
"Tidak apa-apa, Ran. Aku paham situasinya, tapi percayalah padaku! Segala kekuranganmu itu tidak akan membuatku goyah untuk terus mencintaimu," ungkap Dion yang seakan membuat semesta terasa ikut terharu saat mendengarnya.
Kicauan burung-burung pun terdengar bersorak-sorai merayakan kebersamaan mereka. Di tambah, senyuman bahagia yang mulai terulas di wajah Vania dan Dini membuat situasi bahagia itu semakin lengkap untuk keduanya.
"Terima kasih ya, Imamku!" ucap Maharani dengan penuh keyakinan.
Dion pun tanpa keraguan lagi mulai menyematkan sebuah cincin pada jemari Maharani. Cincin yang menandakan ikatan di antara mereka di mulai hari ini dan akan segera di sahkan lewat proses pernikahan.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif kalian ya.
Terima kasih banyak sudah sabar menunggu update-nya.
Follow Instagram Author juga : ekapradita_87