Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Sebuah Harapan


Selamat membaca!


Momen mengharukan yang membuat Dini begitu tak menyangka dengan apa yang baru saja dilihatnya, ketika Maharani akhirnya menerima lamaran putranya. Hal yang membuat Dini menangis begitu bahagia dan langsung mendekap erat tubuh sahabatnya yang juga ikut menyaksikan semua kebahagiaan itu dengan penuh haru.


"Alhamdulillah ya Van, akhirnya Maharani merubah keputusan dan mengikuti apa yang hatinya katakan!" ungkap Dini dengan penuh rasa syukur.


"Iya Din, aku juga sangat bersyukur. Pada akhirnya, Rani mau jujur dengan perasaannya kepada Dion dan sebentar lagi impian kita untuk dapat melihat mereka menikah akan segera terwujud." Vania menjawab dengan lembut sambil mengusap punggung sahabatnya yang tengah menangis haru di dalam dekapannya.


Momen haru itu pun semakin membahana tatkala Maharani turut mendekap kedua wanita yang kini sangat dicintainya. Dekapan erat yang membuat Dion jadi merasa iri karena ia masih belum dapat memeluk ketiga wanita istimewa dalam hidupnya itu. Terutama Maharani, setidaknya sampai proses ijab qobul nanti sudah dilaluinya.


"Terima kasih karena Mama telah meyakinkan, Rani," ungkap Maharani dengan lelehan air mata yang terus berlinang membasahi kedua pipinya.


"Asalkan kamu bahagia, Mama pasti ikut bahagia, Ran," jawab Vania dengan senyum bahagianya.


Selang beberapa detik kemudian, Dion pun berdeham dengan keras agar ketiga wanita yang masih dalam posisi saling mendekap itu tidak melupakan keberadaannya.


"Boleh minta waktunya sebentar!" pinta Dion dengan nada sindiran yang membuat ketiganya langsung mengurai pelukan mereka.


"Eh Nak Dion. Biasalah para wanita hatinya terlalu baper," ucap Vania dengan senyum canggungnya.


Dini yang melihat raut bahagia di wajah putranya itu, kini mulai menghampirinya. "Dion, Mama sangat bahagia. Kamu ingat ya sayang, bahagiakan Maharani seperti kamu selalu membuat Mama bahagia!"


Dion pun langsung meraih punggung tangan sang ibu dan menciumnya dengan lekat. "Iya Mah, Dion minta doanya, Mah. Doain Dion dan juga Rani agar rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah bisa kami jalani."


Dini pun membelai rambut putranya dan melabuhkan sebuah kecupan singkat pada kening Dion. "Kamu itu seperti Papa kamu, bertanggung jawab dan sangat menyayangi Mama. Mama sangat yakin, kamu bisa menjadi imam yang baik untuk Maharani. Selamat ya sayang." Dini begitu tak kuasa menahan bulir air matanya untuk tak menetes, hingga membasahi kedua pipinya.


"Kamu ini ada aja caranya untuk membuat aku tersenyum, Van." Tangisan Dini pun seketika membias berganti seulas senyuman. Tak ada lagi air mata yang sudah dengan cepat diusap oleh Dini dengan jemarinya.


Sementara Dion dan Maharani kini saling menatap malu-malu. Membuat Vania yang melihatnya langsung menjadi dinding penghalang di antara keduanya dan membuyarkan pandangan mereka yang sejak tadi sudah saling bertaut dalam.


"Hayo, hayo, kalian belum mahram, jadi enggak boleh menatap lama-lama. Sekarang lebih baik kita ke ruang makan yuk! Kita lanjutin membahas tanggal pernikahan kalian sambil mencicipi makanan yang sudah Mama masak," ucap Vania dengan senyumnya yang mengembang sempurna. Manik matanya pun terlihat berbinar bahagia setelah menyaksikan momen dimana Maharani berani berkata jujur dan menerima lamaran Dion, sang menantu idamannya.


Sadar dengan perkataan yang baru saja dikatakan oleh Vania. Maharani pun teringat dengan aktivitas yang dilakukan oleh ibunya itu sejak subuh tadi.


"Oh iya, Rani hampir saja lupa! Dion, kita masuk yuk! Pokoknya kamu sama Mama Dini harus cobain masakan Mama aku deh, Mama itu sengaja masak dari subuh lho untuk menyambut kedatangan kalian," ungkap Maharani yang tak lagi memanggil Dini dengan sebutan tante seperti sebelumnya.


Mereka pun mulai melangkah secara bersamaan menuju ruang makan dengan perasaan bahagia di hati masing-masing. Rasa bahagia yang tentunya akan menjadi momen tak terlupakan sepanjang hidup mereka. Terutama Maharani dan juga Dion.


"Sekarang aku baru merasakan jika sorot mata Dion ternyata mampu membuat pandanganku tak ingin berhenti menatapnya. Terasa begitu hangat dan sangat nyaman. Ya Allah, semoga pernikahan yang akan aku jalani dengan Dion nanti, menjadi pernikahanku yang terakhir," batin Maharani berdoa dengan penuh harapan sambil terus melangkah untuk menuju ruang makan.


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️


Berikan komentar positif & gift kalian ya.


Terima kasih banyak atas dukungannya.


Follow Instagram Author juga : ekapradita_87