Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Romantis


Selamat membaca!



Suasana romantis langsung terlihat jelas ketika langkah Maharani tiba di sebuah roof top yang memang telah Dion siapkan di malam istimewa mereka saat ini. Malam di mana tak ada siapapun di sana, selain satu pelayan dan seorang pemain biola yang sudah menunggu kedatangan mereka.


"Silahkan, Pak Dion! Meja Anda berada di sebelah sana dan sesuai permintaan Anda, kami juga sudah menyiapkan seorang pemain biola," ucap sang pelayan yang telah mengantar keduanya sampai tiba di roof top.


Dion pun tersenyum, menatap Maharani dengan penuh harap. "Sayang, apa kamu menyukainya?"


"Apa kamu bercanda, Mas? Kenapa kamu masih menanyakan hal itu? Ya, sudah pasti aku suka banget, Mas. Semua ini indah dan lebih indah lagi karena aku melewatinya bersama kamu. Pria paling romantis yang pernah aku kenal sepanjang hidupku," puji Maharani menatap sekitarnya dengan penuh decak kagum. Wanita itu tak menyangka bila Dion sampai menyiapkan hal seistimewa ini, padahal usia pernikahan mereka baru saja menginjak satu bulan.


"Ya, aku takut kamu enggak suka, sayang. Kalau memang kamu suka, aku sih sangat bersyukur. Karena itu artinya, aku berhasil membuat malam ini jadi malam paling indah untuk kita berdua." Dion mengatakan itu sambil tersenyum. Walaupun dengan susah payah, pria itu kini telah berhasil mengembalikan mood-nya yang sempat rusak karena pertemuannya dengan Anjani, wanita yang pernah menjadi bagian dari hidupnya di masa lalu.


Keduanya pun mulai menempati dua kursi yang saling berseberangan, di mana sebuah meja berada di antaranya. Mereka kini saling menatap satu sama lain dengan penuh cinta. Bagi Maharani, hal ini membuatnya sangat bersyukur karena ia memiliki seorang suami yang tetap memperlakukannya dengan baik, walau ia masih belum bisa memberikan Dion seorang keturunan.


"Ini indah, Mas. Di sana itu Bunderan HI, kan ya, Mas?" tanya Maharani coba melihat hamparan kilau cahaya kota yang menari indah dalam sorot matanya.


"Betul, sayang. Itu memang Bunderan HI," jawab Dion dengan penuh senyuman.


Di tengah rasa kagum Maharani melihat suasana malam yang penuh dengan cahaya lampu kota, tiba-tiba Dion mulai beranjak dari posisi duduknya sambil mengeluarkan sebuah kotak dari saku jasnya. Dion pun berjalan hingga langkahnya tepat berhenti di belakang tubuh Maharani.


"Kamu mau ngapain, Mas?" tanya Maharani sambil menoleh ke belakang. Melihat Dion yang terlihat menyembunyikan sesuatu di tangannya.


Sebuah kedipan mata pun, Dion tujukan kepada sang pemain biola yang seketika mulai memainkan alat musiknya. Membuat suasana indah malam itu semakin sempurna karena diiringi dawai biola yang terdengar begitu romantis.



"Kalung ini akan semakin cantik bila kamu yang mengenakan. Ini adalah hadiah satu bulan pernikahan kita, sayang." Dion mulai melingkarkan sebuah kalung berlian pada leher Maharani. Kalung yang memang sudah disiapkannya dari beberapa hari lalu untuk ia diberikan kepada sang istri.


"Ya ampun, Mas. Kalung ini indah banget, Mas. Kenapa sih, malam ini kamu selalu berhasil membuat hatiku berbunga-bunga?" tanya Maharani menampilkan semburat bahagia di wajahnya.


Perkataan Dion kali ini membuat kedua mata Maharani langsung berkaca-kaca. Bagaimana tidak, semua yang diberikan oleh suaminya begitu menyentuh hatinya. Namun, sampai saat ini wanita itu masih belum bisa mewujudkan impian Dion untuk memiliki seorang keturunan.


"Kok kamu malah menangis, Ran? Kamu kenapa, sayang?" tanya Dion mulai cemas, saat melihat bulir bening menetes dari kedua sudut mata istrinya.


"Kenapa kamu sebaik ini sama aku, Mas? Kenapa, Mas? Padahal aku ini tidak sempurna dan mungkin saja aku tidak akan bisa memberikan keturunan seumur hidupmu! Apa nanti kamu masih akan bersikap sama seperti ini, Mas?" Maharani begitu sedih ketika kekurangannya harus mengusik kebahagiaan yang ia rasakan saat ini. Kekurangan yang sering kali membuatnya merasa tidak pantas bila bersanding dengan sosok Dion. Seorang pria yang begitu baik dan sempurna di mata Maharani.


Dion dengan cepat bangkit dari posisi duduknya kembali, ia mendekat ke arah Maharani dan langsung berlutut agar posisinya sejajar dengan wajah istrinya. "Sayang, tolong jangan bicara seperti itu! Aku tidak peduli akan hal itu. Saat ini yang aku tahu adalah aku mencintaimu dan aku percaya pada Allah, bila suatu saat nanti, DIA pasti akan mengabulkan doa-doa kita. Selama kita percaya bahwa tidak ada yang hal mustahil bagi Allah bila DIA sudah berkehendak," tutur Dion dengan lembut sambil mulai mengusap air mata di kedua pipi Maharani.


"Terima kasih, Mas. Terima kasih karena kamu sudah mau mencintaiku dengan segala kekuranganku. Aku mencintaimu, Mas." Dengan lirih, Maharani mengatakan semua itu sambil menggenggam tangan suaminya yang masih menangkup kedua sisi wajahnya.


"Aku juga mencintaimu, sayang. Sekarang jangan menangis lagi ya! Nikmati malam ini dan jadikan malam ini sebagai malam yang indah untukmu," ungkap Dion meyakinkan Maharani bahwa apa yang dipikirkan bukan merupakan masalah besar untuknya.


"Ya Allah, begitu besar cinta suamiku ini terhadapku. Aku mohon ya, Allah. Izinkan aku membalas semua kebaikannya dengan memberikannya seorang keturunan," batin Maharani berdoa dengan penuh kesungguhan.


Di tengah usaha Dion yang coba menenangkan istrinya, ponselnya tiba-tiba berdering. Menandakan bahwa seseorang kini tengah menghubunginya.


"Siapa yang menghubungiku ya? tanya Dion sejenak melihat layar ponsel yang ia ambil dari saku celananya. Dilihatnya, deretan angka-angka yang tidak tersimpan dalam phone book ponselnya tertera di sana.


"Sayang, aku jawab dulu ya teleponnya. Aku takut ini penting." Dion mulai menggeser lambang hijau di layar ponselnya untuk menjawab panggilan telepon itu. Sampai akhirnya, suara yang terdengar dari seberang sana membuatnya tersentak dengan kedua alis yang saling bertaut dalam.


"Anjani! Untuk apa dia menghubungiku?" batin Dion merasa enggan menjawab panggilan telepon tersebut.


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️


Berikan komentar positif kalian. Terima kasih banyak atas dukungannya selama ini. Follow Instagram Author : ekapradita_87


Baca juga : Wanita Penghangat Ranjang