Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Berharap



Menjelang Ending -



Selamat membaca!


Setelah selesai memberikan keterangan di kantor polisi, kini Dion, Dini, dan juga Maharani sudah berada di dalam mobil untuk kembali ke rumah. Ada perasaan lega yang ketiganya rasakan setelah semua hal buruk dapat dilalui tanpa ada siapa pun yang terluka. Bahkan tak hanya itu, saat ini kebahagiaan tengah menyelimuti mereka karena kehamilan Maharani. Kehamilan yang sudah sangat dinantikan oleh mereka.


"Sayang, selamat ya! Akhirnya, kamu hamil. Mama senang banget deh. Sejak dulu Mama itu sudah yakin, kalau kamu pasti bisa hamil. Mama percaya akan kekuatan doa karena mau bagaimanapun, ilmu kedokteran itu masih bisa dipatahkan oleh kuasa Allah. Benar begitu kan, Pak Dokter?" ungkap Dini yang diakhiri dengan sebuah pertanyaan kepada putranya yang tengah fokus mengendarai mobil.


Maharani yang sejak tadi masih berada dalam dekapan ibu mertuanya pun tak henti-hentinya mengulas senyuman sambil mengusap bagian perutnya. Ia merasa begitu bahagia atas anugerah yang telah Allah berikan padanya. Anugerah yang seketika berhasil mengobati setiap luka yang sempat ditorehkan oleh Anjani.


"Iya Mah, aku juga masih tidak menyangka jika aku bisa hamil. Aku sangat bersyukur, akhirnya semua doa-doaku bisa menjadi kenyataan," jawab Maharani dengan senyum manisnya.


"Sekali lagi selamat ya, Rani! Pokoknya setelah ini kamu harus jaga kesehatan dan tidak boleh kecapekan! Kamu harus tahu, kehamilan pertama itu sangat rentan dengan yang namanya keguguran, tapi kamu enggak perlu khawatir karena ada Dion yang akan memberitahu, mana yang boleh dan tidak untuk kamu lakukan di usia kehamilanmu sekarang ini. Kamu juga ingat ya, Dion! Kamu itu harus puasa dulu, setidaknya sampai Rani bisa melewati trimester pertamanya!" tutur Dini yang begitu menunjukkan perhatiannya terhadap Maharani. Bagaimana tidak, wanita paruh baya itu tidak ingin bila Maharani sampai harus merasakan hal yang pernah dirasakannya, yaitu kehilangan anak di usia kandungan yang tergolong masih baru atau biasa disebut hamil muda.


Sontak perkataan yang diucapkan oleh Dini, membuat wajah Dion tersipu karena menahan rasa malu yang mulai hinggap pada dirinya.


"Mama ini ada-ada aja. Aku kan jadi malu sama Rani," batin Dion yang sesekali membagi pandangannya antara melihat jalan di depannya dan melihat Maharani juga Dini dari kaca tengah mobilnya.


Di saat wajah Dion masih menahan rasa malunya, pria itu dikejutkan dengan perkataan Maharani yang ternyata tidak mengerti akan maksud perkataan ibunya. Pertanyaan yang mengundang gelak tawa, bukan hanya untuk Dion, tetapi juga Dini.


"Maksudnya puasa itu apa, Mah? Bukannya bulan ramadhan itu masih beberapa bulan ke depan lagi?" tanya Maharani yang dari sekian banyak perkataan yang coba dicernanya, wanita cantik itu masih gagal memahami arti puasa yang dimaksudkan ibu mertuanya.


"Bukan puasa itu, sayang. Maksud Mama, puasa untuk tidak berhubungan dulu. Kamu itu polos banget sih, sayang." Dini langsung memeluk tubuh menantunya dengan erat sambil mengusap pucuk kepala Maharani penuh kasih sayang.


"Maaf ya, Mah. Aku pikir puasa bulan Ramadhan," jawab Maharani sambil melihat suaminya yang tengah tersenyum kepadanya.


Maharani memang benar-benar tidak mengerti akan semua itu. Sesuatu yang menurutnya asing karena selama pemeriksaan kandungan, ia sama sekali tidak pernah menggunakan test pack. Wanita itu lebih memeriksa rahimnya dengan USG dan metode kedokteran lainnya.


Dering ponsel Maharani pun seketika membuyarkan lamunannya. Setelah mengurai pelukan Dini, wanita itu mulai mengambil ponsel miliknya dari dalam tas kecil yang ia bawa. Dilihatnya, nomor sang ibu tertera pada layar ponselnya. Maharani memang belum sempat memberi kabar kepada Vania tentang apa yang terjadi padanya. Dalam pikiran wanita itu, saat ini ibunya pasti tengah cemas memikirkannya.


"Mas, Mama telepon. Sepertinya Mama mencemaskan kita karena sudah mau magrib kita masih belum sampai rumah."


"Ya sudah jawab saja sayang, tapi kamu tidak perlu menceritakan tentang Anjani di telepon. Nanti saja di rumah, sekarang kamu cukup memberitahu Mama Vania kalau kita sebentar lagi sampai. Ini hanya tinggal keluar tol Pondok Indah saja," jawab Dion memberitahu istrinya apa yang harus dikatakannya.


Setelah mengiyakan perintah suaminya, Maharani mulai menjawab panggilan telepon itu. Namun, apa yang terjadi malah membuat wanita itu kembali resah. Bagaimana tidak, suara tangisan Vania tiba-tiba terdengar dari seberang sana. Membuat Maharani seketika melontarkan pertanyaan atas apa yang sebenarnya terjadi pada sang ibu.


"Assalamualaikum, Mah. Mama, kenapa? Mama kenapa menangis?" tanya Maharani mengawali sambungan teleponnya.


"Ran, Anin, Ran, Anin." Vania terdengar menarik napasnya dengan terisak. Menambah resah yang seketika berubah menjadi kepanikan dalam diri Maharani.


"Anin kenapa, Mah?" tanya Maharani menuntut sang ibu agar segera menjawab pertanyaannya.


Tak hanya Maharani yang mulai merasa panik, Dion dan juga Dini pun ikut bertanya-tanya atas apa yang menjadi alasan Vania hingga wanita paruh baya itu terdengar begitu terisak.


"Ya Allah, jangan-jangan ini ada hubungannya dengan doa itu. Apa Anin menyembunyikan sesuatu yang tidak aku ketahui? Aku mohon ya Allah, apa pun yang terjadi dengan Anin, tolong selamatkan dia," batin Dion dengan penuh harap sambil mengingat sesuatu yang sempat didengarnya, saat melintas di depan kamar Anindya. Doa dari seorang gadis kecil yang membuat hati Dion begitu tersentuh.


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️


Berikan komentar positif kalian. Terima kasih banyak. Follow Instagram Author juga : ekapradita_87.