Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Kemarahan Nina


Selamat membaca!


Setelah melewati prosesi ijab qobul dan resepsi pernikahan, waktu jugalah yang menuntun kedua mempelai untuk menyudahi hari bahagia mereka. Kebahagiaan yang membuat kesedihan tak sempat lagi singgah di dalam hati Maharani. Bagaimana tidak, senyuman itu tak pernah sirna dari kedua sudut bibirnya. Ya, ada saja hal yang dikatakan oleh Dion yang membuatnya dapat kembali tertawa dan tersenyum, salah satu cara yang dilakukan pria itu untuk menghiburnya. Walaupun terkesan sederhana, tetapi itulah yang dibutuhkan oleh Maharani agar kesedihan atas kematian Rendy tak lagi terbesit dalam pikirannya.


"Mas, terima kasih banyak ya karena kamu mau berkunjung ke rumah Mas Rendy. Padahal ini hari pernikahan kita," ucap Maharani sambil menggenggam tangan suaminya yang tengah mengendarai mobil.


Dion pun tersentak dan langsung menoleh untuk melihat Maharani dengan rasa penasarannya. "Kamu manggil aku apa?" tanya pria itu mempertegas apa yang baru saja didengarnya.


"Mas, memangnya kenapa?" jawab Maharani yang diakhiri dengan sebuah pertanyaan.


"Ya tidak apa-apa, aku senang mendengarnya. Terima kasih ya sayang." Dion mengulas senyuman dan membagi pandangannya untuk sesekali melihat Maharani yang juga tersenyum menatapnya.


"Tidak perlu berterima kasih, Mas. Sekarang kamu itu suamiku jadi itu sudah tugasku untuk berbakti sama kamu dan ini adalah salah satu bakti aku, yaitu menghormati suamiku," jawab Maharani yang membuat Dion semakin mengagumi sosok istrinya.


Setelah percakapan itu kini Dion pun kembali fokus mengendarai mobilnya. Tak butuh waktu lama, hanya setengah jam mereka pun tiba di depan kediaman Rendy. Rumah yang sudah terpasang bendera kuning di sana. Tak hanya itu, beberapa kerabat dan juga para pelayat masih terlihat di sana. Pemandangan yang membuat hati Maharani kembali berkabung. Ia sadar tak mudah untuk melupakan semua kenangan bersama Rendy. Namun, ia merasa ini memang sudah menjadi bagian dari takdir hidupnya. Takdir yang membuat Maharani harus ikhlas dalam menjalaninya.


"Rani, kamu jangan sedih lagi ya! Kamu harus kuat karena ini memang sudah takdir dari Rendy. Sekarang ayo kita masuk!" titah Dion sambil mengusap pundak istrinya dengan lembut.


Maharani menoleh dengan perlahan. Menatap Dion dengan lekat. Air mata yang hampir menetes pun seketika jatuh membasahi kedua pipinya. Dion tak tinggal diam. Ia mulai mengusap bulir kesedihan itu. Baginya, kesedihan Maharani tak pantas membuatnya cemburu. Ia sadar betul bahwa Rendy adalah bagian dari masa lalu istrinya. Masa lalu yang berharga dan sulit rasanya untuk bersikap biasa atas kematiannya yang terkesan tiba-tiba.


"Terima kasih ya, Mas. Sekarang aku sudah lebih baik." Senyuman pun mulai mengembang dari kedua sudut bibir Maharani. Tubuhnya kini mulai bergerak untuk keluar dari mobil, diikuti oleh Dion yang langsung memutari mobil untuk tetap berada di samping Maharani.


"Ayo sayang," ucap Dion yang sudah menggenggam tangan istrinya dan mulai melangkah untuk masuk melewati para pelayat yang masih terlihat ramai di teras rumah.


Beberapa pasang mata pun tak luput melihat kedatangan dari sepasang pengantin baru itu. Banyak yang mengetahui bahwa keretakan rumah tangga Rendy dan Maharani adalah karena orang ketiga. Bahkan desas-desus yang menyebar mengatakan bahwa semua itu dipicu karena Maharani tak bisa memberikan keturunan kepada Rendy. Hal yang membuat beberapa orang tidak selalu menyalahkan diri, tetapi lebih menyudut Maharani dengan segala kekurangan yang dimilikinya.


"Mas, aku merasa mereka semua memperhatikan aku. Kenapa ya Mas? Apa aku ada salah?" tanya Maharani dengan berbisik di dekat telinga suaminya.


"Sudah tidak apa-apa, sayang. Lagipula niat kita ke sini itu sudah benar. Kita hanya ingin bersilaturahmi jadi abaikan saja pandangan mereka semua yang tak mengenakan.


~ "Itu Rani sama suami barunya. Kok ada yang menikahi wanita yang mandul itu?"


Perkataan yang sengaja dikeraskan suaranya itu benar-benar membuat hati Maharani sangat terluka. Ia berusaha kuat. Namun, apa daya, air mata itu tiba-tiba menetes kembali membasahi kedua pipinya. Dion yang mengetahui semua itu, coba menguatkan sang istri yang tengah rapuh dengan genggaman tangannya.


"Sudah sayang, kamu tidak usah pikirkan kata-kata mereka. Biarkan mereka berbicara sesuka hati karena pada kenyataannya, aku bahagia menjadi suamimu."


Belum sempat Maharani menjawab perkataan Dion, seorang wanita yang mengetahui kedatangan Maharani pun tiba-tiba menghampiri dengan raut wajah yang dipenuhi oleh amarah.


"Untuk apa kamu datang ke sini, Maharani?" ucap wanita muda berusia 24 tahun yang bernama Nina Tsabitah. Wanita itu merupakan adik semata wayang Rendy dan sudah lama menetap di Singapura. Ia langsung terbang ke Indonesia saat mengetahui sang kakak ditemukan mati bunuh diri di dalam kamar. Kematian yang meninggalkan luka mendalam di hati Merry, sekaligus membuat sosok wanita itu menyalahkan Maharani atas keputusan Rendy yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.


Maharani terhenyak begitu kaget. Ia merasa pertanyaan itu terdengar kasar seolah tak mengizinkannya untuk datang. Namun, ia tetap bersabar menanggapi kemarahan Nina karena tak ingin membuat kericuhan di tengah-tengah suasana duka yang sedang dialaminya. Maharani paham ini adalah hal yang berat karena sebuah kematian memang tidak mudah untuk bisa diterima oleh keluarga atau orang terdekat.


"Kenapa kamu diam? Apa kamu tidak puas melihat kakak saya mati bunuh diri?" tanya Nina dengan amarah yang sudah memuncak. Amarah yang membuat beberapa pasang mata mulai menjadikan situasi itu sebagai sebuah tontonan tanpa ada yang melerai.


"Apa maksud kamu, Nina? Aku juga sedih atas kematian Mas Rendy. Bagaimana kamu bisa mengatakan jika aku puas atas kematian Mas Rendy? Mau bagaimanapun, Mas Rendy adalah bagian dari masa laluku jadi aku tidak mungkin menginginkannya dia mati seperti ini." Maharani coba mengungkapkan apa yang ada dipikirannya. Sementara Dion, masih tetap berada di samping istrinya, walau posisinya sudah lebih maju satu langkah untuk melindungi sang istri dari kemarahan Nina yang tengah menggebu.


"Tidak perlu membela dirimu. Mas Rendy bisa bunuh diri karena kamu menolak untuk rujuk dengannya dan kamu malah menikah dengan pria ini!" Nina menjawab perkataan Maharani dengan lantang. Terlihat sekali amarah dalam dirinya seakan begitu memuncak hingga membuat beberapa kerabatnya mulai datang untuk mencegah wanita itu berbuat kasar terhadap Maharani.


"Ya Tuhan, kenapa Nina sampai mempersalahkan aku atas kematian Mas Rendy?" batin Maharani merasa piluh atas tuduhan dari mantan adik iparnya itu.


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️


Berikan komentar positif kalian.


Terima kasih banyak atas dukungannya.


Follow Instagram Author : ekapradita_87