
Selamat membaca!
Maharani mengatupkan kedua tangannya ketika dirinya sudah tiba di ruang tamu. Senyuman pun mulai terulas menyapa pria paruh baya yang tak lain adalah pengacara dari mantan suaminya.
"Selamat pagi, Bu Rani. Saya minta maaf bila mengganggu waktu Ibu," ucap seorang pria bernama Alvin mengawali kunjungannya.
"Selamat pagi juga. Silahkan duduk, Pak."
"Terima kasih banyak, Bu. Maaf ya saya sampai datang sepagi ini ke rumah Ibu. Soalnya nanti siang saya akan berangkat ke Batam ada urusan pekerjaan. Makanya, sebelum berangkat saya menyempatkan dirinya untuk singgah terlebih dulu ke rumah Ibu. Sekali lagi saya minta maaf bila kunjungan saya ini mengganggu waktu Ibu dan keluarga."
Permintaan maaf dari sang pengacara pun disambut hangat oleh Maharani dengan senyuman yang terulas dari kedua sudut bibirnya. "Iya tidak masalah, tapi memangnya ada perlu apa ya sampai menemui saya sepagi ini?" tanya Maharani yang sejak tadi benar-benar dikuasai oleh rasa penasaran akan maksud kedatangan sang pengacara ke rumahnya.
Sebenarnya bukan hanya Maharani, Dion yang ikut menemani sang istri pun dibuat bertanya-tanya. Namun, ia tak ingin ikut campur atas sesuatu yang bukan merupakan urusannya, walau itu menyangkut istrinya sendiri. Dion kini hanya diam dan menanti jawaban dari pengacara itu yang terlihat mengambil sesuatu dari tas kerjanya.
"Ini Bu, ada surat yang dititipkan oleh Pak Rendy untuk Ibu. Surat ini beliau berikan tiga hari sebelum Pak Rendy ditemukan meninggal di kamarnya. Saya harap Ibu berkenan membacanya," ungkap Alvin menyodorkan sebuah surat yang tersimpan rapi di amplop berwarna putih.
Maharani pun meraihnya. Ada rasa penasaran yang kian membuncah. Namun, tentunya ia tak bisa menebak akan isi dari surat tersebut sebelum membacanya. Jauh di dalam hatinya, ia masih tak menyangka bahwa pria yang pernah menjadi bagian dari hidupnya, kini telah tiada dan hanya meninggalkan sebuah surat untuknya.
"Selain itu Bu, saya juga ingin menyampaikan bahwa menurut wasiat yang ditinggalkan oleh Pak Rendy, Ibu juga berhak atas kepemilikan rumah yang pernah Ibu tempati sewaktu masih menjadi istri Pak Rendy."
Maharani tercengang. Ia tak menyangka bila mantan suaminya ternyata memberikan rumah yang menyimpan begitu banyak kenangan tentang masa di mana ia pernah menjadi istri dari seorang Rendy Wijaya. Tanpa berpikir, Maharani pun seketika menolak semua itu. Ia merasa itu bukan lagi haknya. Bahkan saat ini pikirannya tengah menduga bahwa kebencian Nina disebabkan karena hal itu. Sesuatu yang benar-benar tidak pernah diinginkannya.
"Bu, saya ingin Ibu menandatangani surat-surat ini karena saya akan mengurus pengalihan kepemilikan rumah menjadi atas nama Ibu, tapi bukan hanya itu saja, Pak Rendy juga memberikan sebagian hartanya untuk Ibu. Walaupun tidak terlalu banyak, tapi Ibu berhak mendapatkan 25% dari harta Pak Rendy. Demikian isi wasiat yang telah Pak Rendy tuliskan dan maksud kedatangan saya adalah untuk menyampaikan semua itu," ungkap sang pengacara yang semakin membuat Maharani merasa tak enak terhadap Nina dan keluarganya.
Sama dengan Maharani, Dion pun tak pernah menyangka sedikit pun bahwa Rendy akan memberikan semua itu kepada istrinya. Bahkan saat ini Dion sepemikiran dengan Maharani, ia beranggapan bahwa Nina yang sempat menghina istrinya di rumah duka pasti karena dipicu atas keputusan Rendy dalam hal warisan yang memang sangat mengejutkan berbagai pihak.
"Sebegitu menyesalnya Rendy atas pengkhianatan yang telah dilakukannya, sampai sebelum bunuh diri dia sempat menulis surat untuk Rani dan menitipkan wasiat secara tertulis kepada pengacaranya," batin Dion terus menatap Maharani yang masih menyisakan keterkejutan di wajahnya.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif kalian.
Terima kasih banyak sudah menunggu.
Mari kita lanjut dan hari ini 3 episode langsung ya.
Follow Instagram Author : ekapradita_87
Baca juga : One Night Stand With My Boss