Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Usaha


Selamat membaca!


Malam semakin larut. Saat ini, Maharani terlihat melangkah kembali ke kamarnya setelah menemani Anindya hingga tertidur. Ya, kebetulan di rumahnya terdapat satu kamar kosong yang berada di lantai atas. Kamar yang berada tepat di sebelah kamar Vania itu sekarang menjadi milik Anindya.


"Kasihan Anin, dia sampai takut gelap karena sering dikurung bibinya di gudang," ucap Maharani sambil terus melangkah menuju kamarnya.


Kamar di mana ia meninggalkan Dion seorang diri dua puluh menit yang lalu. "Mas Dion, mungkin sudah tidur kali ya? Apalagi dia besok masuk pagi."


Setibanya di depan kamar, Maharani langsung melangkah masuk. Namun saat sudah berada di dalam, raut wajahnya tampak terkejut saat kedua matanya tak menemukan keberadaan suaminya di atas ranjang. Maharani pun mulai mengedarkan pandangan matanya ke sekitar ruangan. Mencari sosok Dion yang seolah menghilang tanpa kabar.


"Lho! Ke mana, Mas Dion?" tanya Maharani mulai kebingungan. Dilihatnya, waktu yang terpampang pada dinding kamarnya menunjukkan pukul 11 malam. Waktu yang cukup larut untuk Dion terjaga. Terlebih besok pagi Dion harus bekerja kembali.


Di tengah pencariannya, tiba-tiba tubuhnya terangkat oleh sepasang tangan kekar yang seketika menggendongnya dari belakang. Membuat Maharani terkejut bukan kepalang. "Ih Mas Dion, kok iseng banget sih pake acara ngumpet-ngumpet segala," protes wanita itu sambil melabuhkan beberapa cubitan pada dada bidang suaminya yang sudah mengenakan stelan piyama tidur.


"Kamu kaget ya, sayang. Maafin aku ya, aku tuh sejak tadi sudah menunggu kamu. Makanya, pas aku dengar kamu akan masuk, aku sengaja ngumpet di balik pintu kamar."


"Ya sudah turunin aku, Mas," protes Maharani agar Dion mau melepaskan dekapan tangannya. Namun, usahanya ternyata sia-sia karena Dion terus melangkah menuju ranjang tidur yang berada beberapa langkah di depannya.


"Sudah enggak apa-apa aku gendong saja, sayang. Sekarang itu waktunya kita untuk usaha."


Maharani yang mendengar akan hal tersebut pun masih tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. "Maksud kamu usaha apa sih, Mas?" tanya wanita itu menampilkan kening yang berkerut dalam. Wajah Maharani terlihat polos. Membuat Dion semakin gemas terhadapnya.


"Kamu lupa apa yang mama tadi katakan di bawah? Kata mama, kita itu tidak boleh berhenti berusaha," jawab Dion yang diawali sebuah pertanyaan kepada Maharani. Pertanyaan yang membuat wanita itu semakin dibuat kebingungan.


"Aku masih enggak paham, Mas. Coba deh to the point saja. Aku tuh bingung, Mas!" Maharani kembali meminta penjelasan dari Dion dengan kedua tangan yang kini mulai bersedekap.


"Ya Allah, aku dapat melihat ada harapan yang begitu besar di dalam sorot mata Mas Dion. Dia benar-benar ingin mempunyai anak, tapi apakah wanita yang sudah di vonis mandul seperti aku ini bisa mewujudkan keinginannya itu?" batin Maharani penuh keraguan.


Tanpa terasa, air matanya seketika lolos begitu saja membasahi kedua pipi Maharani. Air mata yang cepat Dion usap dengan jemarinya. "Sayang, kamu kok malah menangis seperti ini? Apa aku salah?" Dion yang sejak tadi sibuk melepaskan piyama tidur yang dikenakan Maharani pun terpaksa menjeda aktivitasnya karena melihat ada air mata yang tak diundang hadir membasahi kedua pipi istrinya.


Ada rasa cemas yang mulai timbul dalam benaknya. Dion sudah dapat menebak, apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh Maharani?


"Aku tahu perasaan kamu, sayang. Aku mengerti kesedihan kamu, tapi satu hal yang harus kamu tahu, apa pun kekuranganmu, saat ini aku bahagia hidup bersama denganmu. Kamu ingat apa yang sering aku katakan padamu, kalau aku tidak akan pernah menuntutmu untuk hamil. Aku serahkan semuanya kepada Allah. Namun jauh di lubuk hatiku, aku sangat yakin kalau akan ada keajaiban untuk kamu bisa mengandung. Entah itu besok atau lusa, bahkan sampai bertahun-tahun pun aku tidak pernah lelah menunggunya. Percayalah sama aku, kehadiran Anin itu lebih dari cukup untukku," tutur Dion dengan senyum teduh yang terulas di wajahnya.


Sambil menangkup kedua sisi wajah Maharani, Dion mulai mendekatkan wajahnya. Membuat hembusan napas keduanya saling terasa di permukaan kulit mereka masing-masing.


"Terima kasih ya, Mas. Aku sebenarnya bingung bagaimana caranya aku bisa berterima kasih sama kamu. Kamu itu bagiku adalah kado istimewa dari Allah. Kado yang membuat hidupku lebih berwarna dan dapat mengembalikan semangat hidupku yang sempat hilang karena pengkhianatan Mas Rendy. Aku mencintaimu, Mas." Tanpa aba-aba, Maharani lebih dulu mencium bibir Dion. Keduanya pun kini saling memagut mesra. Memburu napsu yang mulai menguasai diri mereka.


Malam panjang yang dilalui keduanya dengan berbagi kenikmatan. Diiringi suara ******* yang mulai terdengar tanpa malu-malu, memenuhi seisi ruangan kamar.


"Ya Allah, tiada henti aku meminta keajaiban-Mu. Aku hanya ingin Kau mengabulkan kebahagian dari pria yang sudah begitu baik terhadapku. Aku mohon jangan kecewakan dia," batin Maharani sambil terus menikmati berbagai sentuhan yang dilakukan Dion terhadap tubuhnya yang sudah tak lagi mengenakan sehelai benang pun.


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️


Jangan ngintip ya, semua! Tutup tirai dulu biar kalian enggak bisa ngintip ya. Selamat membayangkan ya 😁