
* Time to boom update *
Selamat membaca!
Ada raut bahagia yang terpancar di wajah Dion dan juga Maharani saat melangkah menuju lift. Ya, keduanya telah menyelesaikan aktivitas dinner malam ini. Malam di mana Maharani merasa seperti seorang ratu yang begitu diistimewakan oleh Dion.
"Sayang, apa kamu bahagia?" tanya Dion sambil terus melangkah dengan melingkarkan tangannya pada pinggang Maharani.
"Kamu enggak capek, Mas nanya itu terus. Ya, aku bahagia banget-lah Mas, masa enggak. Pokoknya, terima kasih banyak ya Mas atas semua ini. Ini adalah malam terbaik sepanjang hidupku yang pernah aku lalui," jawab Maharani dengan mengulas senyum bahagianya.
"Alhamdulillah, kalau kamu bahagia malam ini. Semoga seterusnya aku selalu bisa memberikan kebahagiaan untukmu," ucap Dion sambil menghentikan langkah kakinya di depan pintu lift. Lalu, mencium kening istrinya dengan lembut. Membuat kedua pipi Maharani kembali bersemu merah.
"Ih, Mas. Malu tahu dilihat sama pelayan di belakang kita." Maharani coba bersikap biasa, walau tak bisa dipungkiri wajahnya kini semakin memerah seperti kepiting rebus yang siap disantap.
"Sayang, kenapa malu? Kita itu kan suami-istri, jadi sudah halal." Dion mengusap lembut kepala Maharani dengan senyum teduhnya.
Di saat Maharani masih menatap kagum sosok suami yang begitu sempurna di matanya, pintu lift pun terbuka. "Ayo sayang, kita masuk!" Dion kembali menggenggam erat tangan istrinya dan melangkah beriringan masuk ke dalam lift.
Sementara itu, di lobi restoran Anjani masih dengan sabar menunggu kedatangan Dion. Ia sama sekali tak memedulikan bahwa saat ini pria itu tengah bersama seorang wanita. "Lama sekali ya mereka dinner-nya. Pokoknya, malam ini aku harus mendapatkan maaf dari Dion. Aku yakin, jauh di lubuk hatinya, dia pasti masih mencintaiku," ucap Anjani yang tampak begitu yakin dengan ucapannya. Hal yang sangat wajar karena memang Anjani masih belum mengetahui bahwa Dion telah menikah dengan Maharani.
Beberapa menit kemudian, lift yang ditumpangi oleh Dion dan juga Maharani telah tiba di lobi. Keduanya kini mulai terlihat oleh Anjani yang sejak tadi tak pernah mengalihkan pandangan matanya sedikit pun dari lift.
"Itu Dion." Anjani mulai bangkit dari posisi duduknya. Ia kemudian mulai melangkah untuk menghampiri Dion yang sampai saat ini belum mengetahui keberadaannya.
Di saat langkah wanita itu semakin mendekat, Maharani mulai melihat kedatangan Anjani dengan keningnya yang mengerut.
"Wanita itu lagi, apa dia memang menunggu Mas Dion dari tadi?" gumam Maharani yang mulai terganggu akan kedatangan Anjani.
Sama halnya dengan Maharani, Dion yang mengetahui kedatangan Anjani pun langsung memacu langkah kakinya. Ia coba menghindar dari Anjani, walau usahanya harus gagal karena Maharani menahan langkahnya.
Bukankah memaafkan kesalahan seseorang itu adalah sesuatu yang mulia dan sering kita dengar dari nasihat kedua orang tua kita?
"Tapi sayang.." Dion tak melanjutkan perkataannya ketika Anjani telah berdiri di hadapannya dengan wajah yang penuh rasa bersalah.
"Dion, aku mohon jangan menghindariku? Tolong kamu dengarkan dulu semua penjelasanku. Kasih waktu aku, paling tidak 5 menit saja!" pinta Anjani yang ditanggapi dingin oleh Dion.
Pria itu sama sekali tak menggubris perkataan Anjani dan mengajak Maharani untuk melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti.
"Dion, aku mohon dengarkan dulu penjelasan aku. Aku tahu, kamu pasti membenci aku atas semua kesalahanku dulu, tapi setidaknya kamu harus tahu kalau aku melakukan semua itu karena terpaksa," ucap Anjani coba meyakinkan Dion yang bersikeras pergi darinya.
Maharani yang merasa serba salah. Coba membantu dengan membujuk suaminya agar mau mengabulkan permintaan Anjani untuk memberikannya waktu bicara. "Mas, aku mohon! Kasihan wanita ini, kasih waktu saja! Lagipula 5 menit itu kan enggak lama, aku bisa menunggu di sana kok. Kamu tenang saja ya!" Sambil menunjuk sebuah sofa yang berada tak jauh di sisi kirinya. Sofa yang sejak tadi diduduki oleh Anjani saat menunggu kedatangan Dion.
"Ini demi kamu ya, sayang!" Dion mengusap lembut wajah halus Maharani sembari mengulas senyumannya.
"Ya ampun, itulah yang membuatku sulit untuk melupakan Dion. Dia itu adalah pria yang sangat romantis," batin Anjani yang seketika teringat akan semua sikap manis Dion saat keduanya masih berstatus menjadi sepasang kekasih.
"Iya Mas, makasih ya. Sekarang aku tunggu di sana ya!" Maharani tersenyum ikhlas melepas sosok suaminya saat ini akan terlibat percakapan dengan seorang wanita. Ada rasa trauma yang tiba-tiba terbesit di ingatannya. Trauma saat dirinya memergoki Rendy dengan Celine di klinik tempat Dion bekerja. Namun, itu tak membuat Maharani goyah akan keputusannya. Ia tetap mengizinkan suaminya bicara empat mata dengan Anjani karena ia sangat percaya bahwa Dion adalah sosok pria yang berbeda dari Rendy.
"Aku harus percaya sama Mas Dion. Aku yakin, dia adalah pria yang setia dan tidak akan mungkin mengkhianati janji sucinya," batin Maharani tersenyum getir. Ia coba tak menoleh kembali ke belakang, walau rasa cemas kian menggerogoti ketenangannya saat ini.
🌺🌺🌺
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif kalian. Tunggu episode selanjutnya sore ini ya. Follow Instagram Author : ekapradita_87
Baca juga Wanita Penghangat Ranjang karena setelah novel ini tamat, Author akan melanjutkan cerita itu.