
Selamat membaca!
Kembali kepada Maharani yang sampai saat ini masih tak sadarkan diri. Dion tampak sedang memeriksa kondisi istrinya itu dengan menggunakan stetoskop yang memang dimilikinya sebagai seorang dokter. Tak hanya Dion, Vania juga terlihat di sana. Duduk di samping Maharani dengan raut wajahnya yang cemas.
"Kondisinya normal, Mah. Sepertinya Rani lemah karena mungkin dia terlambat makan siang," ucap Dion setelah selesai memeriksa kondisi Maharani.
Perkataan Dion pun membuat perasaan Vania yang sejak tadi begitu cemas memikirkan Maharani, kini mulai sedikit lebih tenang. "Alhamdulillah kalau memang seperti itu. Ran, bangun sayang!" Vania coba kembali menepuk-nepuk sebelah pipi putrinya itu dengan perlahan.
Sampai akhirnya, kedua mata wanita itu mulai terbuka. Dilihatnya, sosok Vania kini sudah berada di dekatnya. Membuatnya kembali menangis, saat pertengkaran yang sempat terjadi antara dirinya dan sang suami teringang dalam ingatannya.
"Mama," lirih Maharani mendekap tubuh ibunya dengan erat. Ada kesedihan yang begitu tersirat dari tangisannya. Hanya mendengar dari tarikan napas putrinya yang terdengar sesak, Vania sudah bisa langsung menebak bahwa ada luka yang teramat dalam yang kini dirasakan oleh Maharani.
"Kenapa sayang? Apa yang membuatmu jadi seperti ini? Ayo coba cerita sama Mama!" titah Vania seolah tidak tahu menahu dengan apa yang terjadi kepada putrinya itu, walau sebenarnya ia sudah mendengar tentang masalah ini dari Dion sewaktu pria itu memanggilnya di ruang keluarga. Namun, Dion berpesan kepada Vania agar mertuanya itu berpura-pura belum mengetahuinya jika di depan Maharani. Dion ingin, Maharani sendiri yang menceritakan semua masalah yang menimpa mereka.
Mengetahui keberadaaan Dion yang masih berada di dekatnya. Membuat Maharani terdiam tanpa menjawab pertanyaan Vania. Wanita itu pun coba menahan tangisannya. Ia tak ingin, Dion sampai melihatnya lemah. Sebisa mungkin, ia coba untuk menguatkan dirinya akan keputusan pisah yang akan diambilnya. Sebuah keputusan yang sebenarnya teramat sulit untuk bisa ia lalui. Namun, Maharani tak punya pilihan lain. Ia ingin sekali melihat Dion bisa merasakan betapa bahagianya memiliki seorang keturunan. Bukan sekadar anak angkat yang tak sedarah dengannya.
"Maafkan aku, Mas. Maafkan aku karena harus memilih perpisahan ini," batin Maharani hanya menatap nanar suaminya dengan raut sendu. Ada kesedihan mendalam yang dirasakannya dan itu membuat hatinya begitu terluka.
Melihat Maharani yang membisu dan hanya menatap suaminya dengan linangan air mata, Vania pun memberi isyarat kepada Dion agar pria itu keluar dari kamar lebih dulu untuk memberikan waktu pada Maharani agar bisa membagi kesedihannya. Vania percaya jika beban yang Maharani rasakan saat ini pasti akan jauh lebih ringan setelah bercerita kepadanya.
Setelah mengerti isyarat yang disampaikan oleh Vania lewat tatapan matanya, Dion pun langsung pamit untuk pergi, walau dengan berat hati. "Ran, aku keluar dulu ya! Kamu jangan mikir apa-apa ya, sayang. Pokoknya, satu hal yang harus kamu tahu, aku itu mencintaimu. Tidak peduli apa yang dikatakan orang lain, bagiku kamu adalah wanita yang sempurna. Mah, aku nitip Rani ya!" ucap Dion, diakhiri dengan senyuman kepada mertuanya.
Kini pria itu pun mulai berbalik dan melangkah menuju pintu kamar untuk keluar. Langkah yang terasa begitu berat karena ia harus meninggalkan Maharani dalam keadaan seperti sekarang ini.
"Semoga Mama Vania bisa menjelaskan masalah ini kepada Maharani," gumam Dion penuh harap.
Setelah Dion keluar dari kamar, tinggallah Vania dan Maharani hanya berdua. Wanita itu masih tak kuasa menahan air matanya. Derai yang terus berlinang tiada henti. Membuat Vania merasa harus menenangkan kesedihan putrinya agar tak berlarut-larut. "Sayang, kamu jangan menangis seperti ini dong! Sekarang kamu tarik napas, tenangin diri kamu dulu! Lalu, kamu cerita sama Mama ya!" pinta Vania sambil membelai lembut pucuk kepala putrinya.
Suara tangisan yang dapat terdengar jelas oleh Dion dari depan pintu kamar. Pria itu pun ikut merasakan kesedihan istrinya. Sambil bersandar pada badan pintu, Dion perlahan mulai terduduk di lantai. Ia benar-benar lemah mendengar rasa sakit yang begitu dalam dari tangisan istrinya, apalagi ia sudah berjanji kepada Maharani bahwa ia tidak akan pernah sekalipun menyakiti hati wanita itu dan akan selalu membuat hidupnya bahagia. Namun, kenyataan seolah mengkhianatinya. Dion yang bersikeras menghindar agar tidak ada kesedihan dalam hidup istrinya harus menelan pahitnya kegagalan yang disebabkan oleh Anjani. Wanita yang pernah begitu ia cintai di masa lalu dan saat ini perasaan itu berubah menjadi kebencian.
"Aku tidak akan memaafkanmu, Anjani." Amarah sang dokter yang kini telah menguasai dirinya, kini mulai menggerakkan tubuh pria itu untuk bangkit. Saat ini, pikirannya hanya satu. Mengusir Anjani dan memberi peringatan kepada wanita itu agar tidak lagi mengganggu ketenangan istrinya.
Dion melangkah cepat. Menjauh dari kamarnya. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti di depan kamar Anindya yang terbuka ketika mendengar tangisan dari gadis kecil itu yang terlihat masih bersimpuh di atas sajadah.
"Anin," ucap Dion dengan suara yang terdengar samar. Kedua matanya mulai berkaca-kaca, saat mendengar untaian doa yang terucap dari mulut mungil Anindya.
"Ran, harusnya kamu tidak boleh kalah, apalagi wanita itu benar-benar mencari masalah sama kamu. Kamu harus buktiin sama dia bahwa semua perkataannya itu salah. Kamu masih hamil dan kamu tidaklah mandul seperti yang dikatakan oleh wanita itu."
"Tapi Mah, aku memang mandul. Vonis dokter itu sudah cukup menjelaskan kalau aku itu memang tidak akan pernah bisa memiliki seorang keturunan. Aku enggak mau jika Mas Dion menderita sama aku. Mah, tidak ada satu pun laki-laki yang tidak ingin memiliki anak, begitu juga dengan Mas Dion. Makanya, aku harus rela membiarkan Mas Dion hidup bahagia dengan wanita lain dan wanita itu bukan aku!" tutur Maharani dengan penuh penekanan. Bulir bening yang tiada henti mengalir dari kedua sudut matanya. Membuat Vania semakin merasa iba akan kondisi putrinya saat ini.
"Kamu percaya tidak sama adanya, Tuhan?" tanya Vania yang seketika membuat Maharani terhenyak sambil mengusap air mata di kedua pipinya.
"Iya, Mah. Aku percaya itu," jawab Maharani disertai dengan anggukan kepalanya.
"Kalau begitu kamu harus percaya jika bukan dokter yang menentukan takdir hidup seseorang. Kamu jangan pernah lupa bahwa kekuatan doa bisa mengabulkan setiap harapan, sekalipun itu terbilang mustahil untuk terwujud. Kamu harus percaya kepada Allah. Yakin sayang! Yakin kalau kamu itu bisa hamil. Jangan lepaskan pernikahanmu! Mama tahu kamu sangat mencintai, Dion dan kamu ingin melepas Dion agar dia bisa bahagia, tapi satu hal yang harus kamu tahu, Ran. Kebahagiaan Dion itu adalah bersama kamu, sayang," tutur Vania sambil mengusap lembut wajah putrinya yang masih basah oleh air mata.
Perkataan Vania benar-benar mampu menghancurkan kerasnya hati Maharani. Seketika wanita itu mulai tersadar akan perkataan ibunya. Sebuah nasihat yang sungguh meluluhkan hati Maharani seolah mampu mengusir gelap dalam hatinya dengan cahaya yang terang.
"Benar kata, Mama. Tidak seharusnya aku mengatakan hal seperti tadi kepada Mas Dion. Maafkan aku, Mas. Maafkan aku karena sudah berpikir sependek itu," batin Maharani sambil mendekap tubuh ibunya. Meluapkan segala sisa-sisa kesedihannya.
...πΊπΊπΊ...
Bersambung βοΈ
Berikan komentar positif kalian. Terima kasih atas dukungannya sejauh ini. Ketahuilah author selalu berusaha untuk update setiap hari dan update panjang-panjang. Akan tetapi, terkadang ada beberapa episode yang memang lebih baik bersambung dan tidak bisa panjang.
Terima kasih semua.
Follow Instagram Author : ekapradita_87
Baca juga cerita Author yang lain dan sudah tamat :
π Sekretarisku Canduku
π One Night Stand With My Boss
π Suamiku Calon Mertuaku
π Ansel Dan Irene