
Selamat membaca!
Melihat raut wajah suaminya yang berubah kesal, Maharani semakin penasaran siapa yang sebenarnya tengah menghubungi Dion. "Mas, siapa yang menghubungimu? Apa jangan-jangan itu Anjani?" tanya Maharani mulai menebak bahwa telepon tersebut berasal dari wanita yang telah menyakitinya.
"Iya, kamu benar. Telepon barusan itu dari Anjani. Makanya, aku langsung menutup teleponnya," jawab Dion yang telah memutus sambungan telepon itu secara sepihak tanpa menjawab perkataan Anjani sepatah kata pun.
"Tapi kira-kira ada urusan apa lagi dia menghubungimu, Mas?" tanya Maharani berpikir keras akan maksud Anjani menghubungi suaminya.
"Aku sendiri enggak tahu, sayang. Ya sudah, sekarang kita lanjutkan lagi ya!" Dion mulai mengambil transduser yang sempat ia letakkan di dekat monitor USG. Setelah mengambilnya, Dion secara perlahan mulai mendekatkan transduser yang digenggamnya ke arah perut Maharani.
Sampai akhirnya, alat tersebut pun kini telah menyentuh permukaan perut Maharani. Dion mulai mengamati dengan seksama layar pada monitor USG. Tak ada ekspresi apa pun yang Dion tunjukkan. Raut wajahnya masih terlihat datar tanpa senyuman. Membuat Maharani seakan tak berani mendengar apa yang akan suaminya sampaikan padanya.
"Ya Allah, apa memang Rani tidak hamil ya? Atau mungkin kehamilannya baru di bawah 4 Minggu, sehingga belum tampak janinnya di dalam monitor USG. Sekarang bagaimana aku bisa mengatakan hal ini? Maharani pasti akan kecewa dan terpukul. Kalau cara ini belum bisa mendeteksi kehamilan Rani, sepertinya satu-satunya cara adalah dengan menggunakan test pack. Lagian juga kenapa aku bisa lupa ya? Harusnya aku membuktikan kehamilan Rani dengan test pack terlebih dahulu dan bukan malah mengajaknya ke klinik untuk langsung melakukan USG. Kenapa aku jadi bodoh begini ya? Mungkin aku terlalu senang, saat Rani menunjukkan tanda-tanda kehamilan sampai aku bisa melupakan segalanya," batin Dion yang tengah sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Tiba-tiba Maharani menarik lengan pria itu hingga membuat lamunannya sekita buyar. "Mas, jadi bagaimana? Apa aku memang benar-benar sedang hamil?" tanya Maharani begitu antusias.
"Sepertinya sih iya sayang, tapi untuk memastikannya, kita harus menguji lagi dengan menggunakan test pack agar hasilnya bisa lebih akurat."
"Lho Mas, bukannya hasil USG itu lebih akurat?" tanya Maharani dengan penuh rasa heran.
"Itu betul sayang, tapi ada ketentuan usia kandungan yang dapat dilihat dengan cara USG ini. Sekarang, aku hanya bisa melihat adanya penebalan di rahim kamu saja dan aku baru bisa melihat kantung gestasi rahim kamu, saat usia kandungan kamu memasuki 7 Minggu, sayang."
Wajah yang penuh semangat itu seketika memudar. Tak ada lagi senyuman yang mengembang. Saat ini, Maharani terlihat pasrah akan semuanya. "Ya sudah kalau begitu, Mas. Aku ikut apa yang kamu katakan saja!"
Melihat istrinya yang mulai terlihat sendu, Dion langsung mengusap sebelah pipi Maharani dengan lembut. Ia paham seperti apa perasaan istrinya saat ini. Perasaan yang pastinya begitu resah memikirkan kehamilannya. "Sayang, kamu harus terus berdoa ya! Jangan hilangkan harapan itu di wajah kamu! Kamu harus percaya jika Allah pasti akan mengabulkan keinginan kita hanya bila kita percaya akan kuasa-Nya. Jadi kamu harus menjaga harapan itu untuk tetap ada," ungkap Dion yang seketika mengembalikan senyuman di kedua sudut bibir Maharani.
"Iya, Mas. Aku percaya itu. Bismillah ya, semoga semua impian kita bisa terwujud atas izin Allah."
Setelah menutup kembali pakaiannya, Dion mulai membantu Maharani bangun dari posisi tidurnya. "Ayo sayang, aku bantu."
"Sayang, ini tempat sekaligus test packnya. Kamu celupkan sesuai dengan batas yang tertera di test pack itu ya! Setelah itu, kamu tunggu beberapa saat sampai kamu melihat ada garis yang akan muncul di sana."
Maharani sejenak diam tanpa kata. Setelah menghela napas dengan kasar, wanita itu pun mulai mengatakan apa yang kini dirasakannya. "Sebenarnya aku takut melakukan ini, Mas. Aku takut bila nanti akan mengecewakanmu."
Perkataan Maharani membuat Dion lagi dan lagi mengusap pucuk kepala istrinya. Tanda bahwa pria itu sebenarnya tidak mempermasalahkan apa pun hasilnya nanti. "Sayang, lebih baik kita tahu jawabannya daripada hanya menduga-duga. Sekarang kamu coba dulu ya! Lakukan seperti yang aku katakan tadi," ucap Dion kembali memberikan pengertian kepada Maharani.
"Baiklah, Mas. Aku coba dulu ya." Maharani pun mulai melangkah menuju toilet yang berada di sudut ruangan. Sementara Dion kembali duduk di kursi kerjanya sambil menatap istrinya dengan penuh harap.
"Ya Allah, aku mohon. Semoga Rani memang benar-benar hamil," gumam Dion yang tak pernah sedetik pun berhenti untuk berdoa dan terus berharap.
Beberapa menit kemudian, Maharani telah selesai melakukan apa yang Dion katakan. Bahkan saat ini test pack tersebut sudah berada dalam genggamannya. Ia agak kikuk, saat menantikan garis yang akan muncul pada test pack yang ia celupkan dalam wadah kecil tersebut.
"Kalau ini artinya apa ya?" Dengan polosnya Maharani terus memerhatikan test pack tersebut. Kini wanita yang tengah berharap itu mulai melangkah keluar dari toilet untuk memberitahu suaminya.
Setibanya di hadapan Dion yang tengah memunggunginya, Maharani pun langsung memanggil pria itu dan menanyakan arti garis yang muncul pada test pack tersebut. Debaran jantungnya semakin tak beraturan. Bahkan Maharani mulai merasakan dahinya kini tengah berkeringat, padahal suhu dalam ruangan terbilang cukup dingin. Tak hanya itu, napasnya terasa tercekat karena menunggu jawaban dari suaminya yang masih terdiam dengan raut wajahnya yang datar.
"Mas, kamu kenapa diam saja? Kalau begini artinya apa, Mas?" tanya Maharani kembali kepada Dion yang terlihat menggenggam ponsel pada sebelah tangannya.
"Ran, mulai hari ini aku talak kamu!" Tanpa menunggu jawaban dari Maharani, Dion langsung keluar dari ruangannya begitu saja. Meninggalkan Maharani yang seketika dibuat terkejut atas apa yang didengarnya. Terlebih di saat Dion membanting pintu ruangan dengan begitu kerasnya.
"Kenapa Mas? Kenapa kamu berbohong padaku? Apa test pack ini mengartikan aku memang tidak hamil? Makanya, kamu sampai marah dan menceraikan aku. Ya Allah, kenapa Mas Dion seperti itu? Kenapa dia mengatakan hal itu tanpa memberi aku penjelasan apa pun?" Kedua kaki Maharani terasa melemah. Ia bahkan mulai merasa tak sanggup lagi berdiri di atas kedua kakinya. Kini Maharani pun terjatuh di lantai. Ia menangis dengan terisak. Meratapi setiap kata demi kata yang didengar dari mulut Dion. Perkataan yang bagaikan petir hingga benar-benar mengguncang jiwanya.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif kalian. Terima kasih ya. Follow Instagram Author : ekapradita_87