Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Senyum Terakhir


Selamat membaca!


Bukan hanya Anjani yang masih terkejut atas pertemuan tak terduga dengan Rendra. Pria yang dalam beberapa hari itu menangani Anindya pun dibuat terhenyak, saat kedua matanya kembali melihat sosok Anjani kini ada di hadapannya.


"Anjani," ucap Rendra masih tak percaya dengan pertemuannya saat ini.


Berbeda dengan keduanya yang masih diliputi keterkejutan, Maharani terlihat panik saat Anindya kembali memuntahkan darah dari mulutnya. Tubuh gadis kecil itu sudah kelihatan lemah dengan wajah yang semakin memucat. Membuat Maharani sadar bahwa waktu Anindya berpulang sudah hampir dekat.


"Anin," ucap Anjani langsung mendekat ke samping ranjang di sisi yang berbeda dengan Maharani dan juga Rendra, saat melihat kondisi Anindya yang semakin memburuk.


"Ini Mama, Nak. Maafin Mama ya, Anin. Maafin, Mama." Anjani terus mengulangi permintaan maafnya dengan air mata penyesalan yang terus menetes membasahi kedua pipinya. Perasaannya begitu hancur tak dapat diungkapkan. Ia begitu menyesali atas apa yang telah dilakukannya pada anak tak berdosa yang seharusnya bisa merasakan kebahagiaan di usianya yang masih belia.


"Apa benar kamu adalah Mamaku?" tanya Anindya yang akhirnya menjawab pertanyaan Anjani setelah melihat ketulusan dalam tangisan wanita itu.


"Benar, sayang. Ini Mama, ini Mama, Nak. Anin, harus kuat ya! Anin harus bertahan karena sekarang Anin tidak akan sendiri lagi, ada Mama yang akan selalu bersama Anin dan enggak akan pernah ninggalin Anin lagi," lirih Anjani dengan suaranya yang bergetar.


Seketika senyuman pun mengembang dari kedua sudut bibir gadis kecil itu yang sudah terlihat memutih, saat kedua tangan Anjani mendekap tubuh mungilnya. Tubuh yang sudah lemah hingga membuat kesedihan bukan hanya dirasakan oleh Anjani, tetapi juga Maharani dan juga Dion yang sengaja memberikan waktu bagi Anjani untuk berbicara terakhir kali dengan putrinya.


"Maafin Anin, Mah, kalau Anin enggak bisa lama-lama sama Mama, tapi Anin bahagia banget karena masih dikasih kesempatan untuk bisa melihat Mama," lirih Anindya yang masih terus merasakan betapa nyamannya berada di pelukan ibu kandungnya. Pelukan yang sejak kecil tak pernah ia rasakan. Sampai akhirnya, ia bertemu Maharani yang benar-benar dapat membuatnya merasakan betapa bahagianya memiliki seorang ibu.


"Bukan cuma Mama, sayang. Ini Papa kamu juga ada di sini!" sambung Anjani mengungkapkan semua rahasia tentang Rendra. Membuat seisi ruangan terkejut karena mendengar perkataan yang baru saya diucapkannya.


"Jadi dokter itu adalah ayah dari Anin," batin Dion masih tak percaya atas apa yang didengarnya.


Sama halnya dengan Dion, Maharani pun menatap tak percaya atas apa yang telah dikatakan oleh Anjani. Ia merasa semua ini adalah keajaiban dari Tuhan di saat-saat terakhir Anindya berpulang, gadis kecil itu masih diberi kesempatan untuk bisa bertemu dengan kedua orang tuanya.


"Sekarang Anin sudah bisa pergi dengan tenang, sayang. Anin enggak perlu lagi merasakan sakit. Mama, sayang sama An..." Maharani merasa tak sanggup meneruskan semua perkataan itu di dalam hatinya. Kesedihan yang dapat dibaca oleh Dion. Ya, pria itu seketika berdiri di belakang tubuhnya. Menjadi tumpuan bagi Maharani yang saat ini rapuh karena menghadapi situasi piluh yang tengah terjadi di depan matanya.


"Jadi anak ini, anak kamu. Anak kita Anjani?" tanya Rendra masih tak percaya dengan kenyataan yang terpampang di depan matanya.


Rasanya bagaikan tersambar petir ketika apa yang terjadi tak pernah sekalipun terbayangkan olehnya. Sesuatu yang sebenarnya selalu disesalinya, yaitu meninggalkan Anjani dan tak bertanggung jawab atas kehamilannya.


"Iya Mas, dia anakku, anak kita. Anak yang tidak kamu anggap karena kamu lebih memilih keluarga kamu daripada aku," ungkap Anjani membuka tabir rahasia yang selama ini hanya disimpannya sendiri dengan rapat karena tak ingin nama baiknya tercemar.


Rendra mulai menatap putrinya yang juga sedang melihat ke arahnya. Tatapan rindu dari seorang gadis kecil yang benar-benar haus akan kasih sayang. Sorot mata yang tanpa dendam dan hanya binar air mata terlihat di pelupuk mata Anindya. Membuat Rendra langsung berlutut di samping ranjang dan langsung mendekap tubuh putrinya itu setelah Anjani mengurai dekapannya.


"Maafin Papa, Nak. Maafin Papa, sayang. Maaf karena Papa pergi begitu saja dan membiarkan mamamu sendirian merawatmu," ungkap Rendra dengan penuh penyesalan. Saat ini, pria itu memang tidak mengetahui bahwa Anjani telah membuang putrinya di saat ia memilih pergi dan menghilang dari kehidupan wanita itu.


Mendengar akan hal itu, senyum Anindya semakin terulas. Terlihat jelas kebahagiaan di raut wajah Anindya saat ini. Wajah yang polos dan tanpa dosa itu pun seketika tak sadarkan diri, tanpa sempat menjawab apa yang dikatakan oleh Rendra. Membuat Maharani histeris sambil memanggil nama Anindya berulang kali. Sama halnya dengan Maharani, Anjani pun kembali mendekap tubuh putrinya itu dan terus coba menyadarkannya dengan menepuk-nepuk kedua pipi Anindya secara bergantian.


"Anin, bangun. Anin, bangun, Anin, jangan tinggalin Mama. Anin, Mama mohon! Anin, bangun!" Anjani terus mengatakan hal itu dengan isak tangisnya yang pecah. Membuat siapa pun pasti akan ikut menangis, saat mendengar kesedihan dari wanita itu, tak terkecuali Maharani yang juga tengah menangis dalam pelukan Dion.


Rendra tak menyerah begitu saja. Pria itu meminta Anjani untuk berhenti mengguncangkan tubuh Anindya dan mulai melakukan kompresi pada bagian dada Anindya.


"Suster ambilkan alat pacu jantung! Cepat, Suster!" titah Rendra dengan panik. Membuat suster pun langsung beranjak, mengambil apa yang sang dokter perintahkan dan menepikan sejenak air matanya karena situasi haru yang baru saja dilihatnya.


Dengan berderai air mata, baik Maharani dan Anjani terus berharap bahwa masih ada kesempatan bagi Anindya untuk hidup. Walaupun mereka merasa bahwa kepergian Anindya mungkin adalah yang terbaik agar gadis kecil itu tidak perlu lagi merasa kesakitan.


"Ya Allah, jika ini yang terbaik untuk Anin. Bahagiakan Anin di surga-Mu, ya Allah. Mama, sayang sama, Anin," batin Maharani penuh kesungguhan sambil terus menatap nanar Anindya yang sudah terpejam.


...🌺🌺🌺...


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, sudah 8 bulan berlalu setelah apa yang terjadi di rumah sakit. Walaupun berat, setiap hari keduanya berusaha mengikhlaskan kepergian Anindya yang pernah mengisi hari-hari mereka di rumah. Sampai akhirnya, Maharani positif hamil. Hal yang seolah membuktikan bahwa keajaiban Tuhan itu benar-benar nyata. Bahkan vonis mandul dari dokter pun terasa tak memiliki arti ketika Tuhan sudah berkehendak lain.


Malam itu, tepatnya pukul 21.00 Maharani dan suaminya baru saja selesai membahas kenangan manis sewaktu mereka masih menjadi orang tua sambung dari Anindya. Kenangan manis yang tidak mudah untuk dilupakan dan akan selalu tersimpan rapi di hati keduanya.


"Sayang, ini sudah malam. Waktunya kamu tidur. Aku antar kamu ke kamar yuk!" ucap Dion memperingatkan istrinya yang masih tampak nyaman duduk di balkon kamar ditemani angin malam yang berhembus kencang hingga membuat hijab yang Maharani kenakan seolah menari-nari dibuatnya.


"Tapi aku masih betah duduk di sini melihat bintang, Mas. Boleh ya aku masuknya kalau sudah bosan saja?" pinta Maharani dengan suara yang terdengar begitu manja.


"Baiklah, aku akan kembali ke kamar, tapi gendong aku ya, Mas," pinta Maharani yang sudah memutar tubuhnya hingga kini posisinya berhadapan dengan Dion.


"Gendong?" tanya Dion yang tampak syok mendengar keinginan istrinya.


"Iya! Kenapa? Kamu udah nggak kuat lagi ya gendong aku, walau cuma sampai kasur karena aku gendut?" Bibir Maharani mengerucut kesal begitu melihat ekspresi terkejut suaminya yang seakan keberatan atas permintaannya.


Dion pun dibuat kebingungan hingga akhirnya pria itu terlihat menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali untuk mengusir pikirannya yang kalut. Saat ini, Dion masih terus berpikir harus menjelaskan apa kepada Maharani. "Bukannya gitu sayang. Aku cuma takut kalau kamu jatuh saat aku gendong."


"Ini maksudnya kamu mau bilang kalau kamu nggak kuat gendong karena aku gendut?" tanya Maharani untuk memperjelas semuanya dengan menampilkan ekspresi kesal yang begitu menggemaskan.


"Kamu enggak gendut kok, sayang. Kamu hanya lebih berisi dan itu wajar karena kamu sedang hamil anakku. Ya sudah, aku coba gendong kamu pelan-pelan ya. Jangan bete gitu dong, ayo senyum dulu!" pinta Dion untuk mengembalikan senyuman manis istrinya dengan mengabulkan permintaan Maharani.


Maharani pun tersenyum manis setelah mendengar perkataan suaminya yang tidak mengatakan bahwa dirinya gendut. Hanya karena perkara hal kecil seperti ini, tapi Maharani begitu bahagia memiliki suami yang bisa menghargai perasaannya sebagai seorang istri dengan menjaga tutur katanya.


Setelah Maharani tersenyum, Dion segera menggendong tubuh istrinya penuh kehati-hatian karena tidak ingin membuat istri dan calon buah hatinya merasa tidak nyaman. Maharani pun langsung mengalungkan kedua lengannya di leher sang suami. Raut wajahnya tampak bahagia karena bisa kembali merasakan hal ini setelah cukup lama Dion tidak berani menggendongnya dengan alasan demi menjaga kehamilannya.


Setibanya di dalam kamar, Dion segera merebahkan tubuh istrinya dengan perlahan di permukaan ranjang. Setelah itu, Dion pun mencium singkat dahi istrinya dengan seulas senyuman puas penuh kemenangan karena berhasil menggendong tubuh Maharani, walau berat badan istrinya itu naik pesat selama menjalin kehamilannya hingga 20 kilogram.


"Terima kasih ya, Mas, karena kamu sudah mau menuruti aku," ucap Maharani yang juga tersenyum bahagia kepada Dion yang masih menatapnya dalam.


Di tengah senyum bahagia keduanya, dering ponsel Maharani pun berbunyi. Wanita itu pun langsung meraih benda pipih miliknya yang masih ada dalam jangkauan tangannya. Setelah menatap layar pada ponselnya, Maharani mulai melihat sebuah panggilan video dari Anjani tampak menunggu untuk dijawabnya.


"Mas, Anjani video call, Mas." Maharani memberitahu Dion yang juga tampak begitu antusias dengan panggilan tersebut.


"Cepat jawab, sayang! Aku jadi enggak sabar ingin tahu bagaimana kondisi Anindya di Singapura? Bagaimana pengobatan di sana?" Dion pun sudah berada tepat di samping Maharani dan menatap layar ponsel di mana senyuman Anindya mulai terlihat di sana.


"Mama, lagi apa?" Suara itu terdengar begitu manja. Suara yang selalu dirindukan oleh Dion dan juga Maharani. Suara yang sempat mereka pikir tidak akan pernah mereka dengar lagi untuk selamanya. Namun nyatanya sekali lagi, kuasa Tuhan menentukan setiap takdir hidup dari seseorang. Ya, alat pemacu jantung yang ditempelkan oleh Rendra pada dada Anindya berhasil membuat jantung gadis kecil itu kembali berdetak. Saat itu, seketika senyuman bahagia langsung terulas di wajah kesemua orang yang menyaksikan keajaiban itu. Termasuk Anjani yang benar-benar bersyukur atas kesempatan yang masih Tuhan berikan padanya. Kesempatan untuk menjadi ibu bagi Anindya.


"Mama, lagi di kamar nih, sayang? Kamu sendiri lagi apa, sayang?" tanya Maharani kembali dengan senyuman di wajahnya.


"Hari ini aku lagi bahagia karena Papa datang ke sini," jawab Anindya yang tak henti-hentinya mengulas senyuman di wajah mungilnya.


"Mama sama Papa di sini ikut senang, sayang. Kamu yang sehat ya di sana. Semoga pengobatan kamu berjalan lancar dan kamu bisa secepatnya kembali ke Indonesia. Nanti kita bisa berkumpul lagi, sayang!"


"Iya Mah, doain aku ya, Mah. Aku juga kangen sama Mama, sama Papa. Kata temannya papa sih kondisi aku mulai membaik."


"Iya Ran, Dokter Fahri bilang kondisi Anindya sudah semakin membaik, tapi masih butuh beberapa bulan sampai kondisinya benar-benar sembuh. Dia juga bilang, ini kasus langka karena kanker lambung itu mustahil disembuhkan, tapi kasus Anindya saat ini benar-benar tidak bisa dijawab oleh ilmu medis sekalipun. Sel kankernya seolah menjinak dan tidak lagi ganas. Aku sendiri saja benar-benar takjub dibuatnya. Mungkin ini yang dinamakan kekuatan doa ya, Ran. Makasih ya atas doa kalian yang enggak pernah putus untuk Anindya," timpal Anjani yang ikut menjelaskan pada Dion dan juga Maharani tentang kondisi putrinya itu. Membuat keduanya seketika merasa tenang.


"Alhamdulillah, kalau begitu Anjani. Aku dan Mas Dion juga sangat bahagia mendengarnya."


"Iya Ran, setelah semua yang terjadi, aku sangat bersyukur atas apa yang ada saat ini. Setelah bertemu kamu, aku jadi sadar banyak hal. Apalagi setelah 5 bulan lalu keluar dari penjara, aku semakin tahu bahwa menjadi orang baik itu bukan sebuah pilihan, tapi keharusan yang memang harus kita jalani."


Maharani benar-benar bersyukur atas apa yang dilihatnya. Baginya, kebahagiaan Anjani merupakan kebahagiaan juga untuknya. "Kalau kamu bahagia, aku juga bahagia, Anjani, tapi ngomong-ngomong itu cincin di jari kamu?"


"Oh ini, Mas Rendra akhirnya melamarku, Ran. Dia kan memang sudah bercerai juga dari istrinya 3 tahun lalu. Jadi sekarang karena dia masih single, tadi dia melamarku dan ingin mengajakku ke arah yang lebih serius. Dia ingin bersama-sama menjaga Anin agar Anin memiliki keluarga yang lengkap dengan kedua orang tuanya," ungkap Anjani yang memang terlihat bahagia saat ini.


Seketika Maharani dan Dion sama-sama mengucap syukur atas kabar bahagia yang baru saja mereka dengarnya. Kabar yang tentunya juga membahagiakan untuk Anindya karena pada akhirnya, gadis kecil itu bisa merasakan betapa bahagianya hidup bersama kedua orang tuanya.


...-Tamat-...


Tidak ada kata terlambat untuk bertaubat. Tidak pernah ada kata terlambat untuk berubah. Manusia memang tempatnya salah, tapi bukan berarti kesalahan itu tidak bisa kita sadari. Hal yang berat memang memaafkan, tapi hal yang paling indah adalah saling memaafkan satu sama lainnya.


Dari kisah Maharani ini kita belajar bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Sampai jumpa lagi sahabat EP semua di judul berikutnya. Kalian bisa baca, Istri Satu Miliar yang sudah tamat atau Wanita Pengganti Di Malam Pertama.


Sehat selalu dan terima kasih.


Follow Instagram Author : ekapradita_87