
Selamat membaca!
Tanpa memberitahu Maharani terlebih dahulu, Dion bersama Dini pun melangkah pergi ke rumahnya untuk menemui Anjani. Ada amarah yang begitu memuncak dalam diri pria itu. Ia tak habis pikir, kenapa wanita yang dulu pernah melukainya kini datang kembali di saat ia sudah menemukan kebahagiaan dalam hidupnya? Hal yang sama sekali tidak pernah diinginkannya.
"Kenapa kau harus kembali dalam hidupku setelah dulu kau meninggalkanku begitu saja, Anjani? Sekarang sudah tidak ada lagi kesempatan untukmu. Aku harus tegas demi Rani," batin Dion yang sudah tiba di halaman rumahnya.
Pintu rumah pun terbuka. Pandangan Dion langsung tertuju pada sosok Anjani yang berada di ruang tamu dengan wajah sendu. Sorot mata pria itu kini mulai menajam. Dion benar-benar menunjukkan rasa tidak sukanya akan kedatangan Anjani yang menurutnya bisa mengancam keutuhan rumah tangganya dengan Maharani.
"Anjani!" ucap Dion penuh amarah.
Mendengar kemarahan itu, Dini pun segera mengusap lengan putranya itu. "Dion, kamu harus sabar ya! Jangan pakai emosi, ingat mau bagaimanapun dia seorang wanita!" timpal Dini menasehati putranya yang tengah dikuasai amarah dalam dirinya.
Wajah sendu itu seketika menoleh. Ada air mata yang masih tersisa di sana. Namun, Dion sama sekali tak peduli. Baginya, kedatangan Anjani adalah sebuah kesalahan yang sepatutnya tidak boleh terjadi.
"Pergi kau dari sini, Anjani!" ketus Dion dengan lantang.
Anjani mulai melangkah. Mendekati Dion yang terkesan menjaga jaraknya. Setelah berada di hadapan pria itu, Anjani secara tiba-tiba mendekap tubuh Dion dengan erat dan menangis dengan terisak.
"Dion, apa kamu tega mengusir aku? Aku sudah diusir oleh ibu mertuaku karena selama menikah dengan Mas Faisal aku tidak pernah bisa melupakanmu. Aku masih mencintaimu. Bahkan sampai saat ini. Aku mohon maafkan aku, Dion! ucap Anjani terdengar semakin terisak. Suara tangisan yang bahkan dapat terdengar hingga ke halaman rumah.
"Kamu tega sekali, Dion! Kamu jahat!" lirih Anjani sambil memegangi bagian lengannya yang sakit akibat terbentur kerasnya lantai.
Melihat apa yang dilakukan oleh Dion membuat Dini merasa kasihan terhadap Anjani. Wanita paruh baya itu pun menghampiri dan langsung membantu Anjani untuk kembali berdiri. "Kamu enggak apa-apa? Dion jangan kasar-kasar begitu dong sama Anjani. Masalah kalian dulu itu kan, bukan kesalahannya. Anjani itu hanya korban dari perjodohan yang direncanakan oleh orang tuanya."
Mendengar perkataan Dini, Dion pun hanya dapat menghela napasnya dengan kasar. Wajar saja bila Dini bisa mengatakan hal yang demikian karena Dion memang tidak pernah menceritakan apa yang menjadi alasan Anjani meninggalkan dulu. Dini hanya tahu jika Anjani dijodohkan oleh orang tuanya. Walaupun pada kenyataannya, wanita itu lebih memilih pria lain hanya karena harta kekayaannya. Hidup mewah dengan bergelimangan harta menjadi alasan Anjani, mengapa wanita itu lebih memilih Faisal ketimbang Dion.
"Seandainya Mama tahu alasan Anjani meninggalkan aku karena harta kekayaan yang dimiliki oleh pria itu, Mama pasti tidak akan sanggup menerimanya. Mama itu sudah terlalu menyayangi Anjani seperti anak sendiri. Saat itu, aku juga tidak bisa mengatakannya karena aku khawatir serangan jantung Mama bisa kambuh lagi saat mengetahuinya. Maka itu, aku sengaja merahasiakannya dari Mama. Bahkan sampai saat ini," batin Dion yang hanya mampu menahan amarahnya, walau ia begitu geram atas sikap Anjani yang seolah memanfaatkan kedekatannya dengan Dini.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif kalian. Terima kasih banyak atas dukungannya. Follow Instagram Author : ekapradita_87
Baca juga Sekretarisku Canduku