
Selamat membaca!
Di saat keraguan Maharani semakin memenuhi isi kepalanya. Tiba-tiba suara dering ponsel berbunyi dan membuat Maharani langsung menoleh ke arah sebuah nakas, tempat dimana ia meletakkan benda pipih miliknya.
"Siapa ya yang menghubungiku?" tanya Maharani yang mulai melangkah untuk meraih ponsel itu.
Setelah menggenggam benda pipih yang sampai saat ini terus berdering, seulas senyum singkat seketika timbul dari kedua sudut bibirnya ketika mengetahui bahwa yang menghubunginya adalah sang pengirim bunga.
"Dion."
Namun, bukannya menjawab, Maharani lebih memilih untuk mengabaikannya dengan kembali meletakkan ponselnya dengan wajah yang terlihat sendu. Tak bisa dipungkiri ada kebahagiaan yang terpancar jelas dari senyum singkat Maharani perlihatkan saat Dion menghubunginya, tapi senyum itu seketika memudar saat perkataan Rendy tentang kemandulannya kembali menelusup masuk ke dalam pikirannya. Perkataan yang benar-benar sangat menyakitinya.
"Maafkan aku Dion, aku tidak bisa memberi kesempatan untukmu. Hubungan kita hanya akan membuatmu kecewa. Aku itu mandul dan selamanya pasti mandul," ucap Maharani dengan berurai air mata.
Saat kedua kakinya merasa lemah untuk terus berdiri, kini wanita itu pun mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Perasaannya masih terasa begitu sakit. Bahkan bulir kesedihan yang sejak tadi membasahi kedua pipinya, masih terlihat berlinang hingga membuat paras cantiknya tampak basah oleh air mata. Sambil memandangi buket bunga yang sudah ia letakkan di atas nakas sewaktu dirinya mengambil ponsel, Maharani coba memanjatkan sebuah doa kepada sang Maha Pencipta.
"Ya Allah, aku tidak bisa membiarkan Dion terus berharap kepadaku, sedangkan aku hanya akan membuatnya jauh dari kebahagiaan. Kamu itu terlalu sempurna untukku Dion, aku lebih pantas sendiri ataupun jika memang harus menikah, maka aku akan menikah dengan pria yang sudah memiliki anak dan tak menjadikan keturunan sebagai prioritas hidupnya." Maharani cukup tahu diri dengan segala kekurangannya. Ia tak ingin menjebloskan Dion dalam kesedihan seperti dirinya yang tak bisa memiliki seorang keturunan, baginya suara anak kecil seperti dawai surga yang begitu ia rindukan. Namun, apa dayanya, kini Maharani harus menelan pil pahit atas kemandulan yang saat ini harus diterimanya, walaupun itu sangat menyakitkan.
Saat tangisannya sampai memecahkan suasana hening yang melekat di dalam kamarnya. Tiba-tiba saja ia merasakan ada sesuatu yang keluar dari bawah sana, tepatnya di dalam rok panjang yang ia kenakan.
"Aku haid," ucap wanita itu yang buru-buru mengusap air matanya sambil berlari menuju kamar mandi yang berada di sudut kamarnya.
Sebelum masuk ke dalam kamar mandi, Maharani menyempatkan dirinya untuk mengambil satu lembar pembalut dari sebuah laci yang berada di atas nakas yang dilewatinya.
"Alhamdulillah, berarti masa iddahku akan berakhir selesai aku haid. Berarti sekitar satu Mingguan lagi aku sudah bisa mulai bekerja," ucap Maharani sambil memulai aktivitasnya di dalam kamar mandi untuk mengenakan pembalut yang sudah dibawanya.
...πΊπΊπΊ...
"Kenapa ya Rani tidak menjawab teleponku?" tanya pria itu yang merasa aneh dengan perubahan Maharani.
Padahal biasanya wanita itu selalu menjawab teleponnya dan tak jarang mereka sering bertukar pikiran, mengenai kondisi Vania yang harus melakukan rawat jalan dari rumah. Dion sangat menghargai masa iddah yang harus dilewati Maharani, ia bahkan sampai belum mengunjungi Vania di rumahnya. Namun, walau begitu, Dion masih sering menitipkan salam melalui sang ibu dengan memberikan sebuah parcel buah-buahan kepada Vania.
"Apa Maharani sudah menerima bunga dari aku ya? Makanya, dia jadi menghindar karena telah membaca surat itu," batin Dion yang merasa tidak enak dengan apa yang telah dilakukannya.
Setelah memikirkan semuanya dengan benar-benar matang dan penuh pertimbangan, kini tibalah Dion dengan keputusannya. Pria itu pun terlihat menggenggam ponsel miliknya dan mulai mengetik sesuatu. Ya, Dion bermaksud untuk mengirim sebuah pesan melalui whatsapp kepada Maharani. Tujuannya hanya satu, yaitu meminta maaf dan meminta Maharani untuk tidak menjauhinya karena isi dari surat yang telah ditulisnya.
π±~"Assalamualaikum wr. wb. Maaf mengganggu waktu kamu ya Maharani. Saat ini aku cuma mau minta maaf jika bunga dan surat itu membuatmu risih atau tidak suka, tapi aku menulis surat itu karena mengikuti petunjuk yang Allah berikan padaku melalui sebuah mimpi dan mimpi itu bukan hanya satu malam, tapi terus hadir selama 7 malam selama aku menjalankan salat istikharah. Makanya aku sampai berani mengutarakan semua isi hatiku dan jika kamu tidak berkenan dengan isi surat yang telah aku tulis itu, tolong jangan pernah berubah dan jangan menjauhiku. Kita masih bisa tetap menjaga silaturahmi dengan menjadi sahabat. Aku harap kamu mau membalas pesanku ini."
Selesai menulis pesan tersebut, Dion pun dengan penuh keyakinan langsung mengirimnya. Ia benar-benar sangat berharap jika Maharani mau membalas pesannya, setidaknya agar dirinya tahu apa yang Maharani pikirkan tentang bunga dan sepucuk surat yang telah ia titipkan kepada Bibi Mei, sebelum dirinya berangkat ke klinik tempatnya bekerja.
...πΊπΊπΊ...
Bersambung βοΈ
Berikan komentar positif kalian ya.
Terima kasih banyak atas dukungannya.
Jangan lupa berikan gift untuk novel ini.
Follow Instagram Author juga ya : ekapradita_87