
Melihat antusias dari para pembaca semua, maka Author akan kembali melanjutkan novel ini ya. Semoga terhibur!
Selamat membaca!
Setelah melewati berbagai persiapan yang sangat menyita waktu, akhirnya hari bahagia yang ditunggu selama satu bulan oleh Maharani pun tiba. Ya, hari ini tepatnya hari Minggu di mana ia akan melangsungkan proses pernikahan dengan Dion, seorang pria yang Maharani pilih sebagai pendamping hidupnya. Walaupun awalnya ia begitu ragu untuk memutuskan, pada akhirnya dengan ketulusan yang Dion perlihatkan membuat Maharani luluh dan keraguannya seketika sirna, berubah menjadi keyakinan bahwa Dion memang pria yang ditakdirkan oleh Tuhan untuk mengobati luka dan trauma di hatinya.
"Ya Allah, hari ini entah kenapa aku merasa gugup sekali ya?" tanya Maharani yang baru keluar dari kamar mandi setelah menyelesaikan aktivitasnya.
Kini wanita itu tampak mematung di depan cermin sambil terus menatap wajah gugupnya. Sampai akhirnya, suara ketukan pintu pun terdengar memanggilnya. "Rani, kamu sudah siap belum?" tanya Vania kepada sang putri karena Dion dan Dini memang sudah menunggunya di ruang tamu.
"Sebentar lagi Mah, tunggu ya! Ini aku buru-buru kok." Maharani menjawab setelah tersadar dari lamunannya, kini ia pun bergegas untuk mempersiapkan dirinya karena pagi ini tepat pukul 07.00, ia harus sudah berangkat menuju gedung pernikahan tempat di mana ia akan dipersunting oleh Thoriq Dion Prasetya, seorang dokter tampan yang merupakan tetangga di rumahnya.
Selesai mengenakan pakaian dan hijabnya, Maharani langsung keluar dari kamar dengan langkah yang tergesa. Namun, saat ia hendak melangkah keluar, dering ponsel miliknya tiba-tiba berbunyi. Membuatnya tersadar bahwa ia telah melupakan keberadaan benda pipih yang tergelatak di atas ranjang tidurnya.
"Untung saja ada telepon, kalau enggak aku bisa lupa bawa ponselku itu," keluh Maharani sambil terus melangkah untuk mengambil ponselnya sekaligus melihat siapa gerangan yang tengah menghubunginya.
Setelah menggenggam ponselnya, Maharani mulai menatap layar pada benda pipih miliknya dengan kedua alis yang saling bertaut.
"Marni, kenapa ya telepon?" tanya Maharani dengan raut penuh pertanyaan.
Tanpa membuang waktu, Maharani pun keluar dari kamar sambil menjawab telepon dari mantan asisten rumah tangganya itu.
π±"Assalamualaikum, Mba Marni." Maharani mengawali percakapannya dengan ramah.
Namun, senyuman yang terulas di wajah Maharani seketika memudar, saat Marni menyampaikan sesuatu yang membuat langkah kakinya terhenti di pertengahan anak tangga. Sebuah kabar yang pasti akan membuat siapapun tersentak bila mendengarnya, walau kabar itu menyangkut tentang pria yang sudah menyakitinya sekalipun.
"Tidak mungkin, Mba." Dengan bibir yang gemetar Maharani mengatakan semua itu. Kini kedua kakinya terasa lemah untuk digerakkan. Membuat wanita itu memilih duduk di anak tangga dengan kedua mata yang sudah dipenuhi linangan air mata.
Melihat sang putri yang sedang bersedih, Vania pun menghampiri Maharani dengan membawa rasa penasarannya. "Rani, kamu kenapa?" tanya Vania yang langsung merengkuh tubuh putrinya dengan duduk di sebelah Maharani.
Maharani mulai menatap wajah sang ibu dengan air mata yang tak dapat ditahannya. "Mas Rendy, Mah." Tangisan Maharani pun pecah seketika. Membuat Vania semakin dipenuhi pertanyaan tentang apa yang sebenarnya membuat putrinya itu menangis piluh di hari bahagianya.
Tak ada jawaban dari Maharani selama beberapa detik. Wanita itu tengah menata hatinya untuk tegar saat mengatakan semua itu kepada sang ibu. Entah kenapa, ia merasa sedih atas apa yang telah didengarnya. Padahal kabar itu menyangkut seorang pria yang telah menorehkan banyak luka dalam hatinya Maharani. Bahkan sampai membuat wanita itu menyandang status janda dalam perjalanan hidupnya.
"Ran, ada apa? Katakan sama Mama, kamu jangan diam saja dan menangis begini, Mama bingung?" tanya Vania sambil melihat ke arah Dion dan Dini yang ternyata juga ikut melihat kesedihan Maharani.
"Kenapa ya Rani sampai menangis sesenggukan begitu? Apa yang membuatnya seperti itu?" batin Dion menatap penuh selidik.
Merasa perlu ikut menenangkan calon menantunya Dini pun mulai menaiki anak tangga untuk ikut membantu Vania dalam meredakan kesedihan Maharani.
"Ran, kamu kenapa? Katakan sama Mama, apa yang membuatmu bersedih seperti ini?" tanya Dini yang sudah berlutut di hadapan Maharani sambil mengusap lembut pucuk kepalanya.
Maharani yang mulai sadar bahwa suara tangisannya diketahui oleh Dion dan juga Dini, kini perlahan mulai menahan tangisannya untuk menatap keduanya yang saat ini tengah mencemaskannya.
"Mah, Mas Rendy, meninggal. Dia ditemukan bunuh diri di dalam kamarnya," ungkap Maharani yang membuat ketiganya begitu terkejut saat mendengarnya.
"Jadi Rendy meninggal karena bunuh diri, pantas saja Maharani bisa sesedih itu, tetapi apa alasan Rendy sampai dia mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri? Apa karena aku menikahi Maharani?" tanya Dion di dalam hati saat mengingat pertemuan terakhirnya dengan Rendy beberapa Minggu yang lalu, saat ia dan juga Maharani datang ke rumahnya untuk memberikan undangan pernikahan mereka.
...πΊπΊπΊ...
Bersambung βοΈ
Berikan komentar positif kalian ya.
Terima kasih banyak atas dukungannya.
Author sangat bersemangat dengan antusias dari para pembaca semua atas novel ini jika kalian berkenan mampir juga ke novel saya yang lain ya :
ONE NIGHT STAND WITH MY BOSS