Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Saling Melengkapi


Selamat membaca!


Tak ingin mengacaukan situasi berkabung yang tengah menyelimuti keluarga Rendy, Dion memutuskan mengajak Maharani pulang. Setidaknya, niat baik sudah ditunjukkan keduanya dengan datang ke rumah duka, walau niat itu tidak disambut hangat oleh Nina.


Mobil yang dikendarai Dion pun kini mulai bergerak meninggalkan halaman kediaman Rendy. Pria itu masih menatap penuh empati kepada sang istri yang hanya bisa tertunduk saat dipersalahkan. Ingin rasanya ia membela, tapi Maharani memberi isyarat lewat tatapan mata. Memintanya untuk diam, seperti apa yang dilakukannya.


"Kasihan Rani, dia pasti tertekan karena perkataan wanita itu," batin Dion, memutuskan untuk tak banyak bertanya.


Ia ingin memberi ruang kepada Maharani agar dapat menenangkan dirinya sendiri.


Dion kembali fokus menatap jalan yang dilalui mobilnya. Kala itu situasi lalu lintas tampak lengang tak seperti biasa. Seolah Tuhan tahu bahwa hati Maharani sedang kalut, hingga sudah pasti tak akan nyaman bisa harus bergelut dengan kemacetan.


Maharani yang semenjak tadi hanya diam memejamkan mata, kini mulai membukanya. Bersama desah napas kasar, pandangannya mulai menerobos gelap malam yang membentang. Berharap langit biru tua akan melarutkan berbagai pikirannya yang campur aduk.


Kadang-kadang diam itu nikmat. Tanpa kata-kata. Hanya duduk dan membiarkan sepasang matanya bebas mengikuti cahaya lampu di kejauhan yang serupa kunang-kunang berlarian.


Sampai akhirnya, teguran Dion yang sejak tadi hanya diam menunggu, mulai mencairkan duka yang membeku.


"Kamu sudah lebih baik, sayang?" tanya Dion dengan lembut yang langsung ditanggapi sebuah senyuman oleh Maharani.


"Aku enggak apa-apa, Mas. Walaupun sebenarnya aku merasa sedih atas sikap Nina yang menyalahkan tanpa mencari tahu alasan dari penolakanku atas tawaran Mas Rendy. Andai dia tahu, bila Mas Rendy sudah menceraikan aku dengan talak 3, pasti dia akan mengerti bahwa aku dan Mas Rendy sudah tidak mungkin bisa bersama," jawab Maharani menuturkan dengan perlahan apa yang ada di pikirannya.


"Kalau begitu bagaimana bila kita menemuinya lagi di saat suasana sudah lebih tenang. Aku akan menemanimu untuk menjelaskan kepada mereka. Mau bagaimanapun kita harus tetap memberitahu mereka agar tidak ada fitnah yang menyudutkanmu ke depannya nanti."


Namun, apa itu berlaku untuknya?


Sekejap kekurangan yang ada dalam dirinya mulai menggerogoti ketenangannya. Kala itu Maharani merasa semua ini tidaklah adil untuk Dion yang sempurna. Sementara dirinya jauh dari kata itu. Bahkan untuk memberikan Dion seorang keturunan saja, ia masih ragu. Ragu apa Tuhan mengizinkan dengan memberikan sebuah keajaiban untuknya.


Bagaimana tidak, di vonis mandul adalah sesuatu yang menakutkan. Bukan hanya untuknya saja, tetapi juga berlaku bagi setiap wanita. Rasa ingin mati, itu pasti. Namun, iman tak merestui hati untuk melakukan.


Perubahan Maharani yang kembali diam tanpa senyuman, membuat Dion merasa perlu untuk menanyakannya. Ia sebenarnya dapat membaca bahwa saat ini Maharani kembali terusik atas kemandulannya yang begitu menakutkan bagi setiap wanita yang ingin menjadi seorang ibu.


"Ran, kamu mikir apalagi? Sudah! Pikiran kamu jangan seperti layang-layang yang gampang terbang ke sana kemari. Kita sudah pernah membahas tentang semua ini, bagi aku, kalaupun kita harus memiliki seorang keturunan dengan cara adopsi, itu tidak masalah, sayang. Aku ingin kita bahagia, apa pun kekuranganmu, akan menjadi kekuranganku juga. Kamu adalah istriku, bukan untuk satu atau dua hari ke depan, tetapi seumur hidup. Sampai kita menua bersama."


Maharani tersenyum saat kedua matanya saling bertaut dalam, walau hanya beberapa detik karena Dion harus kembali menatap jalan yang dilaluinya. Malam itu, perkataan Dion seperti sihir yang mampu menghipnotis. Kalimat demi kalimat yang terlontar, sungguh indah didengarnya. Namun, bukan hanya indah, perkataan Dion laksana tetesan air di tengah padang pasir yang dapat meredakan dahaganya. Dahaga bahwa sepanjang hidupnya bersama Rendy, ia tak pernah mendengar kalimat yang mampu menguatkannya seperti itu.


Dulu ia merasa sendiri, di saat jatuh karena kemandulannya. Namun, saat ini Dion seolah mampu menggantikan memori kelamnya dan mengobati luka atas masa lalunya.


"Aku bersyukur ya Allah. Terima kasih, Kau bukan hanya memberikan kehidupan kedua untukku, tetapi juga kekuatan dalam diri suamiku," batin Maharani, masih menatap kagum sosok Dion yang tak henti-hentinya membuatnya bersyukur karena memilikinya.


...🌺🌺🌺...


..."Tidak ada kebahagiaan yang sempurna, di saat orang yang kita cintai mampu melengkapi kekurangan kita."...


...- Maharani -...